Warga Inggris Eks Konsultan Najib Razak Terlibat TPPU

CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 15:58 WIB
Warga Inggris Eks Konsultan Najib Razak Terlibat TPPU Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. (REUTERS/Edgar Su)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aparat penegak hukum Malaysia mendakwa seorang warga Inggris, Paul Stadlen, atas dua kasus pencucian uang. Dia merupakan bekas konsultan media untuk mantan Perdana Menteri Najib Razak, yang diduga turut menerima aliran dana korupsi.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (21/2), perkara yang menjerat Stadlen sudah disidangkan secara in absensia pada Rabu (20/2) kemarin. Sebab dia tidak hadir dalam persidangan.

Jaksa menyatakan Stadlen diduga melakukan pencucian uang sebesar RM14,3 juta (sekitar Rp49 miliar) yang dia terima dari Najib, dan kemungkinan dari hasil korupsi. Uang itu diduga disimpan di akun klien dari sebuah firma hukum.


Stadlen disebut memerintahkan untuk mentrasfer sejumlah uang dari sebuah akun ke beberapa perusahaan dan perorangan antara Juni 2014 dan Agustus 2015.
Firma hukum, Mischon de Reya, yang berbasis di London yang menjadi kuasa hukum Stadlen membantah kliennya melakukan pencucian uang. Mereka menyatakan tuduhan itu bermotif politis.

"Pemerintah Malaysia memiliki agenda politik, dan Stadlen sekarang terjebak dalam serangan balasan terhadap mantan perdana menteri Najib," kata salah satu advokat Mischon de Reya, Kevin Gold.

Mohammad Hafarizam Harun, seorang kepala firma hukum yang terkait dengan Najib menyatakan tidak bersalah atas dua tuduhan pencucian uang RM15 juta (sekitar Rp15 miliar), dari akun Najib ke akun klien perusahaannya.

Najib kalah dalam pemilihan umum pada 9 Mei 2018 karena sejumlah skandal korupsi, termasuk kasus 1 Malaysian Devolpment Berhad (1MDB).
Penyidik Komisi Anti Korupsi Malaysia (MACC) pada November 2018 lalu pernah melayangkan surat panggilan kepada Stadlen, yang tidak diketahui keberadaanya, guna membantu penyelidikan kasus ini.

Stadlen dilaporkan pergi dari Malaysia tak lama setelah Najib kalah dalam pemilu yang mengejutkan pada pemilihan umum lalu.

Setidaknya ada enam negara yang ikut menyelidiki kasus 1MDB, yang didirikan oleh Najib pada 2009.

Penyidik Malaysia dan AS mengatakan ada sekitar US$4,5 miliar yang diambil dari lembaga 1MDB. Diduga sekitar US$1 miliar dari duit yang diambil itu masuk ke rekening pribadi Najib.
Sejak pemilihan umum yang lalu, Najib telah didakwa dengan 42 kasus yang kebanyakan terkait dengan 1MDB. Namun, Najib menyatakan tidak bersalah. (ham/ayp)