Trump Sebut Rencana Melengserkannya Tindakan Pengkhianatan

CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 20:44 WIB
Trump Sebut Rencana Melengserkannya Tindakan Pengkhianatan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (REUTERS/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika SerikatDonald Trump menanggapi laporan soal rencana Wakil Jaksa Agung, Rod Rosenstein, yang disebut ingin melengserkannya dari Gedung Putih menggunakan jalur konstitusional. Dia menganggap hal itu adalah "sebuah tindakan berkhianat dan ilegal."

Pernyataan itu diucapkan Trump setelah mantan pelaksana Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) AS, Andrew McCabe, mengklaim bahwa Rosenstein sempat mendiskusikan rencana untuk mengusulkan Amandemen ke-25 Konstitusi AS dengan dirinya.

"McCabe dan Rosenstein terlihat pernah merencanakan sebuah tindakan yang sangat ilegal dan tertangkap. Itu sepenuhnya adalah tindakan yang ilegal dan berkhianat," kata Trump melalui serangkaian kicauannya di Twitter pada Senin (18/2).


Dalam wawancaranya di acara '60 Minutes' stasiun televisi CBS pada Minggu (17/2) pekan lalu, McCabe menyebut Rosenstein pernah membahas rencana mengajukan Amandemen ke-25 Konstitusi AS.
Wacana itu, paparnya, terjadi tak lama setelah Trump memecat Direktur FBI saat itu, James Comey, sekitar Mei 2017 lalu.

Amandemen ke-25 Konstitusi AS adalah aturan pengambilalihan kewenangan eksekutif oleh wakil presiden jika presiden dinilai tidak lagi sanggup melaksanakan tugasnya.

Undang-undang itu menetapkan presiden bisa diganti jika meninggal, mengundurkan diri, atau tidak mampu memenuhi kewajibannya.

"Rod sempat mengungkap masalah ini dan mendiskusikannya dengan saya dalam konteks berapa banyak pejabat kabinet lainnya yang mendukung upaya semacam itu (mengajukan Amandemen ke-25 Konstitusi AS)," kata McCabe dalam wawancara tersebut.

McCabe kemudian ditanyai apakah Rosenstein bermaksud "menyingkirkan Presiden Amerika Serikat dengan sejumlah cara."

"Saya tidak bisa memastikan itu, tapi yang bisa saya katakan adalah Wakil Jaksa Agung jelas sangat khawatir terkait kapasitas (Trump) sebagai presiden, dan niatnya (Trump) pada saat itu," jawab McCabe.
Meski begitu, dia tak ingat bagaimana awal mula wacana pengajuan Amandemen ke-25 Konstitusi AS itu muncul dalam pertemuannya dengan Rosenstein.

"Isu itu hanya salah satu topik yang dia (Rosenstein) angkat di tengah-tengah pembicaraan kami yang luas," katanya seperti dikutip AFP.

Cuplikan wawancara McCabe itu ditayangkan pertama kali pada Minggu pagi dalam acara "Face the Nation".

Menanggapi hal itu, Rosenstein membantah pernah mendiskusikan rencana melengserkan Trump sebagai presiden. Dia menyebut tudingan itu sebagai lelucon belaka.

Kisruh pemecatan Comey memang sempat membuat publik AS semakin mempertanyakan integritas Trump sebagai presiden. Sebab, Presiden ke-45 AS itu memecat Comey di saat FBI tengah menyelidiki dugaan kolusi antara tim pemenangan Trump dengan Rusia, dalam pemilihan presiden 2016 lalu.

Rusia disebut-sebut mengintervensi pemilu AS dan membantu Trump untuk menang.
Dalam kesaksiannya pada 2017 lalu, Comey mengaku Trump pernah menekan dirinya untuk menghentikan penyelidikan. Trump juga disebut pernah memaksa Comey untuk tak menjadikan dirinya subjek penyelidikan.

Masa jabatan Rosenstein dilaporkan akan berakhir pada Maret mendatang. Hal itu dilakukan setelah William Barr dilantik menjadi Jaksa Agung. (rds/ayp)