Jelang Temu Kim-Trump, Korut Siap Menuju Titik Balik Sejarah

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 17:35 WIB
Jelang Temu Kim-Trump, Korut Siap Menuju Titik Balik Sejarah Korut mengklaim siap menuju 'titik balik sejarah' menjelang pertemuan kedua antara Kim Jong-un dengan Presiden Donald Trump di Vietnam pada 27-28 Februari. (Reuters/Danish Siddiqui)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Utara mengklaim siap menuju "titik balik sejarah" menjelang pertemuan kedua antara Kim Jong-un dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Vietnam pada 27-28 Februari mendatang.

"Sudah saatnya bagi kami untuk mengencangkan tali sepatu kami dan berlari cepat, mencari tujuan yang lebih tinggi saat kami menghadapi saat yang menentukan ini," demikian kutipan tajuk rencana surat kabar milik pemerintah Korut, Rodong Sinmun.

Kutipan itu berlanjut, "Negara kami sedang menghadapi titik balik yang signifikan dan bersejarah."


Tindak lanjut dari pertemuan pertama di Singapura pada Juni lalu ini berfokus pada kesepakatan kedua negara mengenai perlucutan senjata nuklir dan pencabutan sanksi.
Sorotan utama pertemuan ini adalah apakah AS akan menawarkan pencabutan sanksi sebagai imbalan jika Korut berkomitmen mengambil langkah konkret menuju denuklirisasi.

Dalam kicauannya di Twitter pada awal bulan ini, Trump mengatakan bahwa Korea Utara akan menjadi kekuatan ekonomi besar di bawah pemerintahan Kim Jong-un.

"Dia mungkin mengejutkan beberapa orang, tetapi dia tidak akan mengejutkan saya, karena saya telah mengenalnya dan sepenuhnya memahami betapa cakapnya dia," kata Trump.

[Gambas:Video CNN]

Melalui kolom komentarnya, surat kabar Rodong Sinmun juga mendesak Korea Utara untuk melakukan upaya lebih besar untuk meningkatkan ekonomi negara.

"Setiap produk harus dibuat untuk membuat negara kita bersinar," katanya.

Dengan sumber daya melimpah, Korea Utara dulu disebut lebih kaya ketimbang Korea Selatan. Namun, karena salah urus selama beberapa dekade Uni Soviet berkuasa, Korea Utara menjadi miskin.

Korut semakin sengsara setelah diserang berbagai sanksi internasional akibat ambisi pengembangan senjata nuklirnya selama beberapa tahun belakangan. (ham/has)