Wakil Jaksa Agung AS Disebut Berniat Lengserkan Donald Trump

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 14:22 WIB
Wakil Jaksa Agung AS Disebut Berniat Lengserkan Donald Trump Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, Rod Rosenstein, dilaporkan pernah membahas rencana untuk melengserkan Presiden Donald Trump dari Gedung Putih. Hal itu dilakukan bersama sejumlah pejabat tinggi AS.

Hal itu diungkap oleh mantan pelaksana Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) AS, Andrew McCabe. Dia menyebut Rosenstein pernah membahas rencana mengajukan Amandemen ke-25 Konstitusi AS, tak lama setelah Trump memecat Direktur FBI saat itu, James Comey, sekitar Mei 2017 lalu.

Amandemen ke-25 Konstitusi AS adalah aturan pengambilalihan kewenangan eksekutif oleh wakil presiden jika presiden dinilai tidak lagi sanggup melaksanakan tugasnya.


Undang-undang itu menetapkan presiden bisa diganti jika meninggal, mengundurkan diri, atau tidak mampu memenuhi kewajibannya.


"Rod sempat mengungkap masalah ini dan mendiskusikannya dengan saya dalam konteks berapa banyak pejabat kabinet lainnya yang mendukung upaya semacam itu (mengajukan Amandemen ke-25 Konstitusi AS)," kata McCabe saat diwawancarai dalam acara '60 Minutes' di stasiun televisi CBS, pada Minggu (17/2).

McCabe kemudian ditanyai apakah Rosenstein bermaksud "menyingkirkan Presiden Amerika Serikat dengan sejumlah cara."

"Saya tidak bisa memastikan itu, tapi yang bisa saya katakan adalah Wakil Jaksa Agung jelas sangat khawatir terkait kapasitas (Trump) sebagai presiden, dan niatnya (Trump) pada saat itu," jawab McCabe.

Meski begitu, dia tak ingat bagaimana awal mula wacana pengajuan Amandemen ke-25 Konstitusi AS itu muncul dalam pertemuannya dengan Rosenstein.

"Isu itu hanya salah satu topik yang dia (Rosenstein) angkat di tengah-tengah pembicaraan kami yang luas," katanya seperti dikutip AFP.


Cuplikan wawancara McCabe itu ditayangkan pertama kali pada Minggu pagi dalam acara "Face the Nation".

Menanggapi hal itu, Rosenstein membantah pernah mendiskusikan rencana melengserkan Trump sebagai presiden. Dia menyebut tudingan itu sebagai lelucon belaka.

Kisruh pemecatan Comey memang sempat membuat publik AS semakin mempertanyakan integritas Trump sebagai presiden. Sebab, Presiden ke-45 AS itu memecat Comey di saat FBI tengah menyelidiki dugaan kolusi antara tim pemenangan Trump dengan Rusia, dalam pemilihan presiden 2016 lalu.

Rusia disebut-sebut mengintervensi pemilu AS dan membantu Trump untuk menang.

Dalam kesaksiannya pada 2017 lalu, Comey mengaku Trump pernah menekan dirinya untuk menghentikan penyelidikan. Trump juga disebut pernah memaksa Comey untuk tak menjadikan dirinya subjek penyelidikan.

Lebih lanjut, dalam wawancara itu McCabe menegaskan dia berusaha keras memastikan penyelidikan terkait dugaan intervensi Rusia mempunyai dasar kuat, sehingga tidak mudah dipengaruhi.


FBI memecat McCabe pada Maret 2018 lalu dengan alasan tidak terbuka dalam investigasi internal lembaga itu, terkait penyelidikan terhadap peretasan yang dialami pesaing Trump dalam pemilu 2016, Hillary Clinton. (rds/ayp)