Kritik WNI di Luar Negeri soal Debat Kedua Jokowi dan Prabowo

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 13:44 WIB
Kritik WNI di Luar Negeri soal Debat Kedua Jokowi dan Prabowo WNI di luar negeri menilai penampilan Jokwi dan Prabowo dalam debat kedua lebih tajam. Namun, sejumlah pernyataan yang dipaparkan dianggap tak sesuai fakta. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri menilai penampilan Joko Widodo dan Prabowo Subianto dalam debat kedua calon presiden Pilpres 2019 pada Minggu (17/2) malam lebih tajam dan segar. Namun, sejumlah pernyataan yang dipaparkan dianggap tak sesuai fakta.

Resty Armenia, mahasiswa Indonesia yang tengah melanjutkan studi S2 di Norwegia, mengatakan dirinya tak setuju dengan pernyataan Joko Widodo yang dalam debat mengklaim bahwa tidak ada kebakaran hutan selama tiga tahun terakhir.

Meski titik api atau hotspot menurun drastis, Resty menganggap kebakaran hutan selalu terjadi di Indonesia, terutama di wilayah Sumatra ketika musim kemarau.


"Saya kurang setuju dengan pernyataan Jokowi soal tidak adanya kebakaran hutan dalam tiga tahun. Apalagi di musim-musim kemarau, pasti ada saja berita soal kebakaran hutan atau kepulan asap di pulau itu, bahkan sampai ke Singapura," kata Resty kepada CNNIndonesia.com pada Senin (18/2).

"Namun, saya percaya kasus kebakaran hutan kini sudah menurun drastis dibanding pada 2015 lalu yang terbilang sangat parah."
Menurut Resty, hal itu bisa dilihat dari penurunan jumlah hotspot yang setiap tahun. Pada 2015, jumlah hotspot mencapai lebih dari 20.000 titik. "Sedangkan di 2018, hotspot anjlok ke sekitar 2000-an titik saja," katanya.

Selain Jokowi, pemaparan Prabowo selama debat juga dinilai bertolak belakang dengan realita. Sabrina Citra, mahasiswi Indonesia di Durham University, Inggris, menganggap visi dan visi Prabowo yang berfokus pada rakyat berlawanan dengan gaya hidup pemimpin Partai Gerindra tersebut.

"Saya perhatikan Prabowo benar-benar memanfaatkan retorika populis dengan mengangkat kebijakan yang berpihak kepada rakyat seperti mengurangi impor, menjanjikan distribusi pangan yang merata," ucap Sabrina.

"Meski saya setuju dengan visi Prabowo tersebut, tetapi saya pikir gaya hidupnya (Prabowo) sangat bertolak-belakang dengan visinya sendiri terutama ketika Jokowi mengungkit kepemilikan lahan (Prabowo)."
'Serangan' Jokowi soal kepemilikan lahan ini bermula saat dalam salah satu sesi debat, Prabowo mengkritik cara pemerintah membagi-bagikan sertifikat.

Menurut Prabowo, strategi Jokowi dengan membagi-bagi sertifikat tidak tepat, walaupun kebijakan tersebut menarik dan populer.

Menyikapi komentar itu, Jokowi mengatakan sudah sekitar 2,6 juta hektare dari 12,7 hektare yang disiapkan pemerintah. Dia juga mengatakan pemerintah terus mendampingi mereka agar tanah-tanah yang diberikan menjadi produktif.

Dalam kesempatan itu, Jokowi menyinggung bahwa Prabowo memiliki lahan yang sangat luas di Provinsi Kalimantan Timur sebesar 220 ribu hektare dan Kabupaten Aceh Tengah, Daerah Istimewa Aceh, seluas 120 ribu hektare.
Menanggapi hal ini, Prabowo mengakui soal kepemilikan lahan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa status kepemilikan itu adalah hak guna usaha atau HGU. 

"Dia (Prabowo) ingin membawa kesetaraan kepada rakyat dengan menghancurkan perusahaan-perusahaan besar tetapi sebagian besar kebijakannya tidak masuk akal," kata Sabrina.

Senada dengan Sabrina, Resty menganggap kekhawatiran Prabowo terkait perkembangan perusahaan rintisan (startup) teknologi di Indonesia juga berlawanan dengan visinya yang ingin memberdayakan masyarakat Indonesia secara mandiri.

"Prabowo terlihat kurang menguasai isu soal perkembangan ekonomi digital sehingga jawabannya terkesan kurang eksploratif dan malah terkesan pesimistis karena sempat menyebut pesatnya penggunaan e-commerce di Indonesia bisa menjadi ancaman makin banyaknya duit yang lari ke luar negeri," tutur Resty.

"Padahal, isu infrastruktur bagi perusahaan perintis (startup) atau unicorn lokal sangat 'seksi' dan relevan dengan keadaan ekonomi digital saat ini, ditunjang dengan kondisi di mana Indonesia menjadi negara dengan unicorn terbanyak di Asia Tenggara, bahkan mengalahkan Singapura."

[Gambas:Video CNN]

Terlepas dari itu, Resty dan Sabrina mengapresiasi penampilan kedua capres dalam debat. Sabrina menganggap baik Jokowi dan Prabowo sama-sama memiliki visi dan misi yang ambisius terkait revolusi industri.

Sementara itu, Resty menganggap pembawaan Jokowi dan Prabowo selama debat terlihat santai meski keduanya bersaing untuk memperebutkan kursi kepresidenan dalam pemilu April mendatang.

"Dari pemaparan kedua capres kemarin, sebenarnya yang terlihat adalah Jokowi lebih menguasai debat. Hal itu karena temanya adalah 'makanan' Jokowi sehari-hari, yakni infrastruktur, sumber daya alam, energi dan pangan.  Hal itu juga yang menyebabkan Prabowo terlihat beberapa kali dengan legawa mengapresiasi kinerja oponennya itu," katanya. (rds/has)