Iran Pamer Kapal Selam Pelontar Rudal Jelajah Buatan Lokal

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 11:11 WIB
Iran Pamer Kapal Selam Pelontar Rudal Jelajah Buatan Lokal Upacara peluncuran kapal selam itu dipimpin oleh Presiden Iran Hassan Rouhani di selatan kota pelabuhan Banddar Abbas. (AFP Photo/Behrouz Mehri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Iran meluncurkan kapal seram baru buatan lokal yang mampu menembakkan rudal jelajah, dalam sebuah pameran militer pada Minggu (17/2).

Upacara peluncuran itu dipimpin oleh Presiden Iran Hassan Rouhani di selatan kota pelabuhan Banddar Abbas.

"Hari ini (menandakan) Iran sepenuhnya bergantung pada angkatan bersenjata darat, udara, juga laut," kata Rouhani. 


"Kekuatan pertahanan kami dimaksudkan untuk mempertahankan dan membela kepentingan kami dan kami tidak pernah berusaha menyerang negara mana pun," katanya menambahkan.
Kantor berita Fars melaporkan kapal selam itu dinamai Fateh. Armada 600 ton itu merupakan kapal kelas semi-berat yang pertama dimiliki Iran. Sebelumnya, Teheran telah memiliki kapal selam kelas ringan, Ghadir, dan kelas berat, Kilo.

Dilansir AFP, selain rudal jelajah, Fateh dilengkapi dengan torpedo dan ranjau bawah laut. Kapal itu disebut bisa beroperasi lebih dari 200 meter di bawah permukaan laut hingga 35 hari.

Rouhani mengatakan "tekanan musuh, perang dengan Irak, dan sanksi terhadap Iran" memaksa negaranya untuk bisa mandiri dan mengandalkan pertahanan sendiri.

"Mungkin kami tidak akan memiliki motivasi untuk membangun sektor pertahanan sendiri jika Iran bisa membeli persenjataan yang dibutuhkan," kata Rouhani.
Selain kapal selam, pada 7 Februari lalu, angkatan bersenjata Garda Revolusi Iran juga memamerkan peluru kendali jarak jauh baru yang bisa menjelajah hingga 1.000 kilometer.

Rudal bernama Dezful itu merupakan teknologi terbaru dari rudal sebelumnya, Zolfaghar, yang hanya bisa menempuh jarak sekitar 700 kilometer.

Modernisasi militer dilakukan Teheran ketika ketegangan antara Iran-Amerika Serikat memanas setelah Washington kembali menjatuhkan sanksi terhadap negara tersebut.

Sanksi dijatuhkan AS setelah Presiden Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir Iran yang disepakati pada 2015 lalu. (rds/has)