Putra Mahkota Saudi Dinilai Cari Sekutu lewat 'Tamasya' Asia

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 17/02/2019 16:32 WIB
Putra Mahkota Saudi Dinilai Cari Sekutu lewat 'Tamasya' Asia Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (Reuters/Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court)
Jakarta, CNN Indonesia -- Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) tiba di Pakistan pada Minggu (17/2). Tur Asia ini dilakukan untuk mencari dukungan negara-negara tetangga, sekaligus menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki sekutu setelah terungkapnya kasus Khashoggi.

MbS diperkirakan bakal berada di Pakistan hingga Senin. Setelah itu, dia bakal melakukan lawatan ke India dan bertemu dengan Perdana Menteri Narendra Modi.

Diperkirakan, MbS bakal mengakhiri perjalanannya dengan berkunjung ke China pada Kamis-Jumat.


Sebelumnya, dua perhentian singkat yang semula dijadwalkan pada Minggu dan Senin di Indonesia dan Malaysia ditunda tanpa penjelasan.

'Tamasya' keliling Asia ini dilakukan MbS lima bulan setelah terungkapnya kasus pembunuhan jurnalis Washington Post, Jamal Khashoggi.

Pada Jumat (15/2) lalu, Turki mengatakan bahwa pihaknya belum mengeluarkan semua informasi yang telah ditemukan. Hal itu jelas meluncurkan gelombang negatif dan merusak citra kerajaan.

Para analis melihat bahwa tur Asia yang dilakoni MbS ini sebagai caranya menunjukkan pada Barat bahwa dirinya masih memiliki teman di Asia.

"Dia ingin menunjukkan bahwa dia [MbS] bukan 'paria internasional'," ujar peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, James M Dorsey, melansir AFP.

"Ini adalah cara dia [MbS] membuktikan bahwa dia masih memiliki akses internasional dan masih dianggap sebagai perwakilan penting dari kerajaan."

Direktur Studi Timur Tengah di China Institute of International Studies, Li Guofu, mencatat bahwa kasus Khashoggi terus menimbulkan kemarahan di negara-negara Barat. Hal itu tentu membuat Saudi merasa tak nyaman jika harus mengunjungi negara-negara Barat.

"Tidak bepergian ke Barat tidak berarti bahwa dia tidak dapat datang ke Timur," kata Guofu.

Strategi ini, dinilai Gofu, tepat dengan menjadikan Asia sebagai arah utama baru diplomasi Saudi. Negara-negara Asia, kata dia, memiliki karakteristik khas yang penting untuk dicatat. Karakter itu menunjukkan bahwa kebanyakan negara Asia tak suka ikut campur pada urusan internal negara lain. (asr/asr)