FOTO : Baghouz, Saksi Bisu Palagan Terakhir ISIS di Suriah

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 17/02/2019 17:30 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Kota Baghouz di Suriah menjadi saksi bisu pertempuran terakhir antara sisa-sisa militan ISIS dan pasukan koalisi dipimpin Amerika Serikat.

Letupan senapan serbu dan dentuman ledakan terdengar bersahut-sahutan di Kota Baghouz, Suriah. (Fadel SENNA / AFP)
Tempat itu menjadi basis terakhir para militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang sudah semakin terdesak. (Delil SOULEIMAN / AFP)
Pertempuran sengit terjadi antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang merupakan koalisi antara Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Kurdi melawan petempur ISIS. Meski sudah terdesak, ternyata tidak mudah menaklukkan kelompok teror itu. (Fadel SENNA / AFP)
Pasukan Demokratik Suriah (SDF) tidak bisa memperkirakan secara pasti berapa jumlah militan ISIS yang tersisa. SDF hanya dapat mengira totalnya sekitar seribu orang, terdiri dari lelaki dan perempuan. (Fadel SENNA / AFP)
SDF harus bersabar menggempur basis terakhir pasukan ISIS. Serangan sudah digelar sejak Sabtu pekan lalu. Pernah suatu hari pasukan SDF berhasil merebut posisi kunci ISIS. Namun, pagi harinya ISIS datang menyerbu dan mengambil kembali lokasi itu. (Delil SOULEIMAN / AFP)
SDF menyatakan ISIS juga menyiapkan perangkap dan menggali terowongan. Jika tidak cermat melangkah nyawa melayang. Bahkan, militan ISIS juga tidak gentar melakukan serangan bom bunuh diri. (Delil SOULEIMAN / AFP)
Serangan kepada ISIS bukan cuma digelar melalui darat, tetapi juga udara. Menurut SDF, masih banyak petempur asing ISIS yang tersisa. Mereka dianggap sebagai anggota elite dan meyakini lebih terhormat mati, yang dianggap syahid, ketimbang lari dari medan pertempuran. (Delil SOULEIMAN / AFP)
Pejuang kelompok ISIS yang melarikan diri dari garis depan Baghouz, dekat perbatasan Irak, setelah tertangkap oleh pasukan SDF pada 30 Januari 2019 lalu. (Delil SOULEIMAN / AFP)
Abu Bakar al-Baghdadi memproklamirkan ISIS lima tahun lalu. Wilayah kekuasaannya hampir setara Inggris dan mempunyai jutaan rakyat. Mereka menerapkan sistem pendidikan tersendiri, dan mencari pemasukan melalui produksi minyak bumi, pajak, dan lain-lain. Namun, mereka mundur setelah diperangi pasukan Irak dan koalisi AS. (Fadel SENNA / AFP)