Maduro Sebut Bantuan Kemanusiaan Amerika Bentuk Tipu Daya

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 16/02/2019 11:46 WIB
Maduro Sebut Bantuan Kemanusiaan Amerika Bentuk Tipu Daya Nicolas Maduro. (Miraflores Palace/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengkritik Amerika Serikat pada hari Jumat (15/2) yang disebutnya "mencuri" miliaran dolar dan menawarkan "remah-remah" sebagai bantuan kemanusiaan, ketika Washington memberi sanksi kepada lima pejabat yang diduga dekat dengannya.

Banyak bantuan AS menumpuk di Kolombia dekat dengan perbatasan dengan Venezuela dan pemimpin oposisi Juan Guaido telah bersumpah untuk menentang upaya Maduro memblokir pasokan bantuan memasuki negara itu.

"Ini jebakan, mereka mengadakan pertunjukan dengan memberikan makanan busuk dan terkontaminasi," kata Maduro, berbicara dalam sebuah acara di kota Ciudad Bolivar.


"Mereka telah mencuri US$30 miliar dan menawarkan remah makanan busuk," tambah pemimpin sosialis itu merujuk pada Amerika Serikat.

Maduro meminta militer untuk mempersiapkan "penempatan khusus" untuk memperkuat perbatasan dengan Kolombia dan membuatnya "tak tertembus."

"Saya tidak melebih-lebihkan. Di Gedung Putih, Donald Trump dan Ivan Duque mengumumkan rencana perang melawan Venezuela," katanya, merujuk pada pertemuan pada hari Rabu lalu, di mana Presiden Donald Trump menegaskan kembali bahwa "semua opsi" ada di atas meja sehubungan dengan Venezuela.

Negara ini berada di tengah krisis ekonomi yang telah menyebabkan jutaan orang dalam kemiskinan dan kekurangan kebutuhan pokok, seperti makanan dan obat-obatan.

Guaido, yang diakui oleh 50 negara sebagai presiden sementara, menuduh Maduro menyebabkan kesulitan ekonomi melalui pemerintahan yang salah urus.

Di antara negara-negara itu adalah Kosta Rika, yang meminta diplomatnya angkat kaki dari Venezuela mulai dua bulan ke depan..

Sementara itu Maduro menyalahkan kesengsaraan Venezuela atas sanksi AS.

Pria 56 tahun itu, penerus yang menjunjung tinggi konsep sosialis Hugo Chavez, menamakannya "perang oligarki."

Sanksi AS sebagian besar menargetkan individu-individu rezim dan perusahaan minyak negara, PDVSA, sumber utama pendapatan pemerintah, tetapi Departemen Keuangan AS mengumumkan pada Jumat bahwa pihaknya memberlakukan sanksi pada lima pejabat intelijen dan keamanan yang dekat dengan Maduro.

Berharap Bantuan

Mereka yang ditargetkan ialah "yang bekerjasama dengan mantan Presiden tidak sah Nicolas Maduro, yang (terus) menekan demokrasi di Venezuela," kata pernyataan Departemen Keuangan.

Di antara lima orang itu adalah Manuel Quevedo, yang digambarkan oleh Departemen Keuangan sebagai presiden "tidak sah" PDVSA.

Terhambatnya penyaluran bantuan kemanusiaan telah menjadi isu utama dalam perebutan kekuasaan antara Maduro dan Guaido.

Pemimpin oposisi, yang bulan lalu menyatakan dirinya bertindak sebagai presiden, telah berjanji untuk membawa bantuan pada 23 Februari.

Maduro menolak untuk membiarkan bantuan AS masuk. Dan militernya yang setia telah membarikade jembatan perbatasan antara Venezuela dan Kolombia.

Pemimpin sosialis itu menegaskan bantuan itu hanyalah kedok untuk invasi militer AS yang direncanakan, sementara Guaido mengatakan 300 ribu orang bisa mati tanpa bantuan yang sangat dibutuhkan.

Berbicara pada hari Jumat, Maduro mengatakan enam juta keluarga telah mendapat manfaat dari kotak makanan bersubsidi dan mengklaim telah membeli 933 ton obat-obatan dan pasokan medis dari China, Kuba dan Rusia, sekutu internasional utamanya.

"Kami membayarnya dengan uang kami sendiri karena kami bukan pengemis," katanya.

Guaido menuduh Maduro sebagai "perampas kekuasaan" atas pemilihannya yang kontroversial tahun lalu dalam jajak pendapat yang secara luas dicap sebagai penipuan.

Maduro mengatakan Guaido adalah boneka bagi AS, yang berusaha untuk mengamankan akses ke emas dan cadangan minyak Venezuela yang luas dan terbesar di dunia.

Dia mengatakan tantangan Guaido dan pengikutnya adalah "pengkhianatan."

Penasihat keamanan nasional AS John Bolton mengumumkan pada hari Kamis bahwa 25 negara telah "menjanjikan bantuan kemanusiaan senilai US$100 juta."

Seorang pejabat pertahanan AS mengatakan Jumat bahwa militer Amerika akan mengangkut sekitar 200 ton bantuan kemanusiaan untuk Venezuela ke Kolombia dalam beberapa hari mendatang.

[Gambas:Video CNN]

(ard)