Anwar Perkirakan Ambil Alih Jabatan Mahathir dalam Dua Tahun

CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 09:00 WIB
Anwar Perkirakan Ambil Alih Jabatan Mahathir dalam Dua Tahun Pemimpin PKR, Anwar Ibrahim, memperkirakan ia akan mengambil alih kekuasaan dari Perdana Menteri Mahathir Mohamad dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin Partai Keadilan Rakyat Malaysia (PKR), Anwar Ibrahim, memperkirakan ia akan mengambil alih kekuasaan dari Perdana Menteri Mahathir Mohamad dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.

Anwar mengatakan bahwa rencana ini sesuai dengan kesepakatan koalisi pimpinannya, Pakatan Harapan, dan Mahathir sebelum masa kampanye tahun lalu. Menurut Anwar, saat itu Mahathir memang mengatakan bahwa dia tidak akan sanggup memerintah satu periode.

"Tentu tidak lima tahun karena dia mengatakannya dengan jelas bahwa mereka tak akan melampaui dua tahun," ujar Anwar dalam wawancara dengan Bloomberg di New York, sebagaimana dikutip The Straits Times.
Namun, Anwar masih ingin memberikan keleluasaan bagi Mahathir karena saat ini Malaysia masih dalam masa sulit.


"Penting untuk membiarkannya memerintah secara efektif karena kami sedang dalam masa pencobaan yang sangat sulit," tutur Anwar.

Kala kampanye sebelum pemilu tahun lalu, Mahathir memang berjanji menyerahkan takhtanya kepada Anwar jika terpilih sebagai presiden.
Sejumlah pihak meragukan janji ini karena sebelumnya, Mahathir dan Anwar adalah rekan dekat yang kemudian berubah menjadi musuh bebuyutan.

Anwar pernah menjadi wakil Mahathir saat masih menjabat sebagai PM 1993-1998 lalu. Namun, kekompakan mereka tak berlangsung lama, terutama saat Anwar mulai dianggap berbeda pendapat dengan Mahathir.

Pada 1998, Mahathir memecat Anwar karena menyuarakan perubahan sistem pemerintahan. Sejak itu, hubungan keduanya tak pernah akur. 
Puncaknya pada 1999, Mahathir menjebloskan Anwar ke penjara atas tuduhan sodomi, kasus yang dianggap bermotif politik.

Sikap Mahathir mulai berubah ketika Najib Razak berkuasa di Malaysia. Politikus dari bekas partai Mahathir, UMNO, tersebut didera berbagai isu korupsi.

Mahathir lantas mendekatkan diri ke koalisi Pakatan Harapan yang digagas Anwar. Sebagai oposisi saat itu, Pakatan Harapan memiliki cukup banyak pendukung.

Meski sempat ragu, keluarga Anwar akhirnya menerima Mahathir bergabung dalam koalisi tersebut dengan sejumlah kesepakatan.

Kedua kubu bersatu demi menggulingkan koalisi tempat Najib bernaung, Barisan Nasional, yang sudah berkuasa sejak Malaysia merdeka enam dekade silam. (has/has)