Perawatan Terhambat Perang, Bayi Kembar Siam Yaman Meninggal

CNN Indonesia | Selasa, 12/02/2019 08:08 WIB
Perawatan Terhambat Perang, Bayi Kembar Siam Yaman Meninggal Ilustrasi. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepasang bayi kembar siam di Yaman yang membutuhkan perawatan medis di luar negeri meninggal di Ibu Kota Sanaa, pada Sabtu (9/2) pekan lalu. Pemberontak Houthi menyalahkan pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi karena menutup bandara yang membuat bayi itu tidak bisa mendapat perawatan memadai.

Seperti dilansir AFP, Senin (11/2), mendiang bay itu bernama Abdelkhaleq dan Abdelrahim. Mereka dilahirkan di luar Sanaa sekitar dua pekan lalu dengan kondisi kembar siam. Mereka mempunyai satu ginjal dan sepasang kaki, tetapi memiliki hati dan paru-paru yang terpisah.

Kepala pediatri di Rumah Sakit Al-Thawra, Sanaa, dr. Faisal al-Babili, mengatakan tidak mempunyai fasilitas untuk merawat atau memisahkan kedua bayi itu. Mereka mengaku sudah mengajukan permohonan bantuan dari luar negeri pada Rabu pekan lalu.



Pada malam harinya, Kepala Pusat Bantuan dan Pertolongan Raja Salman Arab Saudi, Abdullah al-Rabeeah, mengatakan ia memiliki tim yang siap merawat mereka. Namun, keduanya tidak bisa berangkat.

Pemberontak Houthi menyalahkan koalisi militer dipimpin Arab Saudi atas kematian mereka, karena menolak untuk membuka bandara Sanaa yang memungkinkan kedua bayi itu memperoleh perawatan.

Layanan kesehatan tidak dapat beroperasi akibat konflik, dan sebagian besar rumah sakit tidak dilengkapi dengan fasilitas perawatan khusus. Membawa pasien keluar untuk mendapatkan perawatan juga tidak mudah.

Pihak-pihak yang menjadi penengah meminta agar Bandara Internasional Sanaa dibuka kembali. Namun, pasukan pemerintah menuduh para pemberontak menyelundupkan senjata melalui bandara dan Kota Hodeida.

Kota itu sangat penting bagi pengiriman bantuan kemanusiaan. Koalisi yang dipimpin Saudi telah membatasi penerbangan dari dan menuju Sanaa serta pengiriman melalui Hodeida.


Daerah-daerah yang dikuasai pemberontak Yaman juga diblokade oleh pasukan koalisi pimpinan Saudi.

Sejak Maret 2015, sekitar 10 ribu orang telah tewas dan lebih dari 60 ribu lainnya mengalami luka-luka dalam Perang Yaman. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebanyakan korban mereka warga sipil. Mereka meninggal bukan cuma karena perang, tetapi juga kelaparan dan wabah kolera.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan jumlah sebenarnya bisa mencapai lima kali lipat dari angka tersebut.

[Gambas:Video CNN] (syf/ayp)