Si Kaya dan Si Miskin Venezuela yang 'Hijrah' ke Spanyol

CNN Indonesia | Minggu, 10/02/2019 18:37 WIB
Si Kaya dan Si Miskin Venezuela yang 'Hijrah' ke Spanyol Ilustrasi. (AFP PHOTO/Luis Robayo).
Jakarta, CNN Indonesia -- Krisis politik, ekonomi, dan kemanusiaan membuat ribuan warga Venezuela berbondong-bondong melarikan diri ke Madrid, Spanyol. Tak peduli mereka memiliki harta atau berkantong kempes.

Fran Leal (36 tahun) misalnya, datang ke Spanyol dari Maracay, Venezuela, utara-tengah, bersama istri dan dua anaknya sejak dua bulan yang lalu.

"Apa Anda punya koper kecil? Saya akan ke Toledo (kota di selatan Madrid), saya sudah mendapatkan pekerjaan," kata Leal saat memasuki Casa Venezuela, asosiasi yang membantu perjuangan Venezuela di Madrid, seperti dikutip AFP, Minggu (10/2).


Leal bakal bekerja secara ilegal selama enam bulan sebagai teknisi listrik di Toledo. Bekerja secara ilegal jadi pilihan untuk mendapatkan pundi-pundi demi menyambung hidup.

"Saya tidak punya pilihan karena saya tidak memiliki kartu identitas dan tabungan saya sudah tidak ada lagi," ujarnya.

Tak seperti Leal, Juan Leonardo Lopez belum juga mendapatkan pekerjaan sejak tiba tiga bulan yang lalu di Spanyol.


"Sebelum krisis, saya bukan seorang jutawan, tetapi saya hidup dengan cukup, saya memiliki mobil yang bagus dan semua yang saya butuhkan," kata Lopez dalam sebuah protes di Madrid.

Leal dan Lopez merupakan satu dari banyak warga Venezuela yang datang ke Negeri Matador itu. Badan statistik Spanyol menunjukkan sebanyak 255 ribu warga Venezuela sudah menetap di Spanyol.

Angka itu belum termasuk imigran ilegal yang masuk ke Spanyol. Kepala Venezuelan Diaspora Observatory Tomaz Paez memperkirakan jika digabung dengan imigran gelap, jumlah warga Venezuela di Spanyol mencapai 300 ribu jiwa.


Menurut Kementerian Dalam Negeri Spanyol, permintaan suaka dari warga Venezuela selama 2018 mencapai 20 ribu orang, dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Namun, dari jumlah itu, hanya 29 orang yang sukses mendapat suaka Spanyol.

Bukan hanya kelas menengah atau kelas bawah yang mengungsi ke Spanyol. Konglomerat Venezuela ikut angkat koper demi menghindari krisis dan rasa tidak aman di negara mereka.

Cesar misalnya, pengusaha (42 tahun) ini sudah tiba di Madrid bersama istri dan anaknya setelah kelompok bersenjata mencoba menculik saudaranya pada 2014 lalu. Menyandang status 'crazy rich' membuat nasib mereka lebih baik di Spanyol.


Tak perlu susah payah mendapatkan suaka, Cesar dan keluarganya bisa mendapatkan izin tinggal melalui 'golden visa' dengan investasi uang setidaknya 1 juta euro (Rp15,8 miliar) untuk setiap orangnya di perusahaan Spanyol atau 500 ribu euro (Rp7,9 miliar) di perumahan.

"Kami hidup dengan pengawal dan mobil lapis baja. Kami tidak bisa keluar di malam hari (di Venezuela). Di sini, kami menikmati apa yang tidak lagi kami miliki di Venezuela: pergi keluar, makan di luar," ungkap Cesar.

Di Spanyol, ia membeli tiga apartemen di Distrik Salamanca, Madrid senilai 800 ribu euro (Rp12,6 miliar). Media Spanyol menjuluki kekayaan orang Venezuela ini sebagai Little Caracas.


'Golden visa' bagi konglomerat Venezuela ini juga menuai kontroversi lantaran sulitnya memverifikasi sumber dana yang digunakan. Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri Spanyol, sebanyak 249 golden visa diberikan kepada warga Venezuela pada tahun lalu, hampir 20 persen lebih banyak dari tahun 2017.

Seorang agen perumahan mewah di Spanyol, Angel Garcia Lorienta mengungkapkan dia sudah menandatangani lima kesepakatan dengan orang kaya Venezuela pada 2018 dengan total 9,7 juta euro (Rp153 miliar). Lorienta menyebut kliennya itu ingin memiliki apartemen di gedung-gedung yang elegan.

Menurut pengacara yang memiliki klien orang kaya Venezuela Juan Carlos Gutierrez, konglomerat Venezuela ini melarikan diri ke Spanyol karena merasa tidak aman di negara mereka.


Krisis politik dan ekonomi Venezuela semakin pelik dan mengancam warga. Krisis ini memuncak setelah Presiden Majelis Nasional, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai pemimpin interim Venezuela dan menantang rezim Maduro.


(ptj/bir)