Koalisi Saudi Bantah Laporan PBB soal Kejahatan Perang Yaman

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 30/08/2018 20:55 WIB
Koalisi Saudi Bantah Laporan PBB soal Kejahatan Perang Yaman Kota Tua Sanaa, Yaman. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koalisi militer dari sedikitnya 25 negara yang dipimpin Arab Saudi membantah laporan penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait potensi kejahatan perang dalam perang sipil di Yaman, termasuk serangan udara yang dilakukan aliansi tersebut selama ini.

"Kami menegaskan ketidakakuratan dan ketidak-netralan dalam laporan tersebut," ucap koalisi Saudi melalui pernyataan yang dirilis kantor berita Saudi Press Agency (SPA), Kamis (30/8).

"Laporan itu tidak menyebut peran Iran yang turut andil dalam keberlangsungan perang tersebut, juga perannya [Iran] yang terus mendukung militan Houthi."


Koalisi itu menegaskan bahwa aliansi akan mengeluarkan respons hukum "detail dan komperhensif" demi menanggapi laporan PBB tersebut.



Dikutip AFP, pernyataan koalisi keluar setelah PBB merilis laporan investigasi mengenai konflik sipil di Yaman yang telah berkecamuk sejak 2015 lalu pada Selasa (28/8).

Dalam laporan itu, penyelidik PBB menyimpulkan bahwa semua pihak yang terlibat dalam konflik berdarah di Yaman telah melakukan "serangkaian pelanggaran substansial atas hukum kemanusiaan internasional."

Laporan itu menyebutkan banyak dari pelanggaran yang dilakukan pihak-pihak berkonflik dapat menjadi "kehajatan perang", seperti salah satunya penahanan sewenang-wenang, pemerkosaan, hingga penyiksaan.

Selain itu, penyidik PBB juga mengatakan serangan udara koalisi selama ini yang kerap menyasar pemukiman, pasar, pemakanan, hingga fasilitas medis telah menewaskan 'sebagian besar korban sipil."

"Ada keprihatinan serius tentang proses menargetkan serangan yang dilakukan dan diterapkan koalisi Saudi selama ini karena menunjukkan tidak adanya target militer jelas dalam banyak kasus selama ini."

Berdasarkan data PBB, sebanyak 13.600 orang termasuk warga sipil dan anak-anak diperkirakan tewas di Yaman selama perang berkecamuk sejak Maret 2015 hingga Desember 2017. Selain itu, PBB juga memperkirakan lebih dari 50.000 orang tewas karena kelaparan akibat dampak perang tersebut.

PBB menggambarkan situasi di Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, yang tenggelam dengan konflik-konflik besar lainnya di kawasan Timur Tengah. (nat)