Sri Lanka Tangkap 10 Tersangka Serangan Anti-Muslim

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 09/03/2018 16:41 WIB
Sri Lanka Tangkap 10 Tersangka Serangan Anti-Muslim Sri Lanka memblokir layanan Facebook dan sejumlah media sosial lainnya pasca kekerasan anti-muslim di Distrik Kandy. (AFP PHOTO / ISHARA S. KODIKARA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Sri Lanka menangkap seorang pemimpin kelompok Buddha garis keras, Amith Jeewan Weerasinghe, bersama sembilan anggota lainnya yang diduga memprovokasi serangan terhadap umat minoritas muslim di Distrik Kandy awal pekan ini.

Juru bicara kepolisian, Ruwan Gunasekara, mengatakan seluruh tersangka itu berasal dari kelompok Buddha radikal Mahason Balakaya.

Penangkapan dilakukan setelah organisasi tersebut merilis sejumlah video berisikan ujaran kebencian terhadap Muslim di media sosial.


Menteri Dalam Negeri Sri Lanka, Sarath Amunugama, mengatakan kekerasan dipicu oleh oknum dari luar Distrik Kandy.

Pemerintah  Sri Lanka memutuskan memblokir akses sejumlah jejaring sosial dan aplikasi komunikasi, seperti Facebook dan Whatsapp selama tiga hari, terhitung mulai Rabu (7/3).



Meski Presiden Maithirpala Sirisena telah menetapkan status darurat pada Rabu, kekerasan yang menargetkan komunitas Muslim sempat meluas. Sejauh ini, bentrokan dilaporkan menewaskan 2 orang.

"Pertama mereka membakar masjid. Bahkan ada beberapa wanita di antara para penyerang itu. Lalu mereka mulai membakar toko-toko yang dimiliki umat Muslim," ucap seorang saksi mata, Mohamed Shifan, 30 tahun, seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (9/3).

Saat kerusuhan berlangsung, Shifan mengatakan dia berniat kabur dari pusat konflik menggunakan mobil dengan membawa 3,7 juta rupee atau setara Rp326 juta. Uang tersebut telah lama dikumpulkannya untuk memulai bisnis baru.

Nahasnya, segerombolan orang datang dan membakar mobil Stifan. Kelompok tersebut juga ikut memukulinya saat dirinya hendak melarikan diri.

Kerusuhan bermula pada Minggu (4/3). Warga Kandy mengatakan kerusuhan dipicu kematian seorang pemuda setelah bertengkar dengan sekelompok Muslim.

Dua hari setelahnya, sekelompok umat Buddha turun ke jalan di Kota Digana sambil membawa peti mati sebagai simbol memprotes kematian pemuda tersebut. Sebagian besar toko di kota itu dimiliki oleh umat Muslim.

Otoritas setempat sempat memberlakukan jam malam namun telah dicabut karena situasi di distrik tersebut dilaporkan telah mereda.

Ketegangan umat mayoritas Buddha Sinhala dan mayoritas Muslim di Sri Lanka meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Aparat keamanan memperketat penjagaan pasca bentrokan komunal di Distrik Kandy.Foto: REUTERS/Stringer
Aparat keamanan memperketat penjagaan pasca bentrokan komunal di Distrik Kandy.


Umat Buddha kerap menuding Muslim di sana memaksa orang-orang memeluk agama Islam dan merusak arkeologi Buddha.

Sejak krisis kemanusiaan di Myanmar memburuk Agustus 2017 lalu, banyak umat Buddha Sri Lanka memprotes kedatangan pengungsi Muslim Rohingya di negaranya.

Sejumlah organisasi pemerhati HAM khawatir bahwa bentrokan ini akan memicu siklus konflik komunal baru di negara Asia Selatan itu.

Sri Lanka juga masih dalam masa penyembuhan dari perang sipil selama 26 tahun melawan separatis Tamil yang berakhir pada 2009. (nat)