Hamas: Keputusan Trump soal Yerusalem adalah Deklarasi Perang

Natalia Santi , CNN Indonesia | Kamis, 07/12/2017 18:17 WIB
Hamas: Keputusan Trump soal Yerusalem adalah Deklarasi Perang Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Hamas. Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh menyerukan intifada atau gerakan perlawanan atas keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. (AFP PHOTO/SAID KHATIB)
Jakarta, CNN Indonesia -- Faksi Hamas Palestina menganggap pengakuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel sebagai deklarasi perang. Karenanya, Hamas menyerukan intifada atau perlawanan terhadap musuh-musuh Zionis, Israel.

"Keputusan ini telah membunuh proses perdamaian, membunuh Oslo (kesepakatan) dan membunuh prorses pemukiman," kata pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh di Kota Gaza, Kamis (7/12).

Haniyeh, yang terpilih sebagai pemimpin Hamas, Mei lalu, mendesak Palestina, umat muslim dan dunia Arab untuk melawan keputusan Trump, Jumat (8/12) dan menyebutnya "Hari Kemarahan".
"Kami menyerukan intifada menghadapi musuh Zionis," kata Haniyeh. "Mari jadikan 8 Desember sebagai hari pertama intifada melawan penjajah."

Israel dan Amerika Serikat menganggap Hamas, yang telah bertempur melawan Israel sejak 2007, sebagai organisasi teroris. Hamas juga tidak mengakui Israel dan menggelar intifada sejak 2000-2005.

"Kami menginstruksikan kepada semua anggota Hamas dan sayap-sayapnya untuk bersiap menerima perintah untuk mengatasi bahaya strategis yang mengancam Yerusalem dan mengancam Palestina," kata Haniyeh.

"Yerusalem bersatu adalah Arab dan muslim, dan itu adalah Ibu Kota Palestina, seluruh Palestina," kata Haniyeh seperti dilaporkan Reuters.

[Gambas:Video CNN]


Haniyeh mengimbau kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas dari Faksi Fattah yang didukung barat, untuk menarik diri dari proses perdamaiand engan Isrel. Haniyeh juga menyerukan kepada dunia Arab untuk memboikot pemerintahan Trump.

"Kesepakatan damai telah terkubur, sekali dan selamanya, dan saat ini tak ada yang disebut mitra perdamaian bagi Palestina.

Trump mengubah kebijakan AS dengan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Keputusan Trump tak saja memicu kecaman dari dunia Arab tapi juga sekutu-sekutunya di Barat. (nat)