Data Angga Sasongko: Tren Penonton dan Produksi Film Timpang
CNN Indonesia
Senin, 02 Nov 2026 14:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sutradara Angga Dwimas Sasongko menyoroti pertumbuhan minim jumlah penonton film Indonesia di tengah peningkatan jumlah produksi film lokal yang cukup pesat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sutradara Angga Dwimas Sasongko menyoroti pertumbuhan minim jumlah penonton film Indonesia di tengah peningkatan jumlah produksi film lokal yang cukup pesat dalam setahun terakhir.
Angga juga memaparkan rendahnya pertumbuhan penonton bioskop nasional pada 2025 dalam data proyeksi yang ia paparkan, meski jumlah penonton film Indonesia mencatatkan angka 80,27 juta orang per Oktober 2026.
Melalui unggahan di media sosial, Minggu (1/11), Angga menjabarkan kondisi industri film Indonesia yang menurutnya menghadapi ketimpangan antara pertumbuhan jumlah film dan jumlah penonton.
Ia menilai industri film Indonesia perlu menjawab sejumlah tantangan strategis untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan penonton dan produksi film.
"Ada 3 pilar strategis saat ini yang harus dijawab stakeholder film Indonesia, di luar faktor eksternal lainnya. Akuisisi penonton baru seberapa banyak?Penambahan dan penyebaran layar seagresif apa? Kurasi film yang masuk bioskop seselektif apa?," tulis Angga.
Berdasarkan data penghitungan yang ia paparkan, jumlah penonton film Indonesia pada 2025 hanya tumbuh 0,07 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada 2024, jumlah penonton tercatat sebanyak 80,21 juta orang, sementara pada 2025 mencapai 80,27 juta orang.
Di sisi lain, jumlah film Indonesia yang tayang di bioskop meningkat 39 persen, dari 145 judul pada 2024 menjadi 201 judul pada 2025.
"2025: rekor penonton, tapi pertumbuhannya nol," tulis Angga dalam salah satu materi unggahannya.
CNNIndonesia.com telah meminta izin untuk mengutip unggahan tersebut.
Ia juga memperlihatkan bagaimana peningkatan jumlah film tidak diikuti pertumbuhan rata-rata penonton per judul. Pada 2024, rata-rata penonton film Indonesia mencapai 553 ribu orang per judul. Angka tersebut turun menjadi 399 ribu penonton pada 2025.
Angga turut menyoroti ketergantungan jumlah penonton terhadap sejumlah film hit. Menurut data yang Angga paparkan, sekitar 25 persen penonton film Indonesia pada 2025 berasal dari dua judul, yakni Jumbo dan Agak Laen 2.
Tanpa kedua film tersebut, rata-rata penonton dari 199 judul film Indonesia lainnya diperkirakan hanya sekitar 300 ribu orang.
Situasi tersebut, menurut proyeksi Angga, berpotensi semakin memburuk pada 2026. Ia mencatat jumlah penonton bioskop pada semester pertama tahun ini turun 16,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Hingga 23 Oktober 2026, jumlah penonton bioskop diperkirakan mencapai 47,8 juta orang. Angga memproyeksikan jumlah penonton dapat berakhir di kisaran 59 juta orang apabila tren saat ini berlanjut, atau berarti turun sekitar 27 persen dibandingkan 2025.
Sementara itu, dalam skenario penurunan sebesar 12 persen, jumlah penonton pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai 70,6 juta orang. Untuk mencapai angka tersebut, industri bioskop masih membutuhkan tambahan 22,8 juta penonton dalam 69 hari tersisa.
Sutradara Filosofi Kopi ini memperkirakan target itu membutuhkan laju penonton harian dua kali lipat dibandingkan rata-rata periode Januari hingga Oktober.
Proyeksi penonton film Indonesia menyusut di masa depan
Sutradara Angga Dwimas Sasongko menyoroti pertumbuhan minim jumlah penonton film Indonesia di tengah peningkatan jumlah produksi film lokal yang cukup pesat. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jumlah penonton film Indonesia yang dipaparkan Angga selaras dengan data yang disampaikan Kementerian Kebudayaan pada Jumat (23/10), sebanyak 47.813.476 orang tercatat menyaksikan film Indonesia di bioskop.
Meski tidak diketahui secara resmi jumlah film Indonesia yang tayang di bioskop, setidaknya sudah ada 139 judul film Indonesia yang tayang hingga 23 Oktober 2026. Artinya, rata-rata satu film Indonesia ditonton sekitar 343.982 orang.
Angka box office film Indonesia 2026 tersebut memang masih jauh dari capaian penonton film Indonesia 2025 yang menyentuh 80,27 juta penonton, saat diumumkan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Januari 2026.
Angga kemudian memaparkan proyeksi kondisi industri film Indonesia hingga 2031 dengan sejumlah asumsi, termasuk pertumbuhan jumlah film sebesar 15 persen per tahun, peningkatan biaya produksi 5-10 persen per tahun, serta penurunan jumlah penonton 12 persen pada tahap awal, lalu 7 persen per tahun.
Angga pun mencoba menghitung proyeksi jumlah penonton per film yang dibutuhkan agar industri bioskop Indonesia tetap sehat pada 2031.
Model tersebut disusun dengan asumsi pertumbuhan layar dan kursi bioskop kurang dari 5 persen per tahun, produksi film meningkat 15 persen per tahun, biaya produksi naik 5-10 persen per tahun, serta tren penonton menurun 12 persen per tahun.
"Mencoba sebuah modelling untuk asumsi 2031. Dengan proyeksi pertumbuhan layar dan kursi bioskop kurang dari 5 persen yoy (Year-Over-Year). Pertumbuhan produksi film 15 persen yoy. Pengaruh inflasi ekonomi pada biaya produksi 5 - 10 persen yoy. Trend penonton declining 12 persen yoy," tulisnya.
Dalam skenario tersebut, jumlah film Indonesia yang tayang diperkirakan meningkat dari 201 judul pada 2025 menjadi 465 judul pada 2031. Sementara itu, jumlah penonton diproyeksikan turun menjadi 61 persen dari tingkat 2025.
Angga juga memperkirakan rata-rata penonton per film akan semakin jauh dari titik impas atau break-even point (BEP). Jika pada 2026 rata-rata penonton ideal untuk mencapai BEP diperkirakan sebanyak 415 ribu orang, maka angka tersebut meningkat menjadi 596 ribu orang pada 2031.
Namun, sebaliknya, rata-rata penonton aktual dalam skenario tersebut diproyeksikan menyusut dari 306 ribu orang pada 2026 menjadi 106 ribu orang pada 2031.
Menurut proyeksi Angga, peluang film Indonesia untuk menembus satu juta penonton juga berpotensi semakin tipis. Persentase film yang mencapai angka tersebut diperkirakan turun dari 14,5 persen pada 2024 menjadi 2,7 persen pada 2031.
Angga turut mengusulkan sejumlah gagasan untuk menjaga keberlanjutan industri film. Salah satunya dengan mendorong pertumbuhan penonton sebesar 23,6 persen per tahun apabila jumlah film terus bertambah 15 persen per tahun dan biaya produksi meningkat 7,5 persen per tahun.
Alternatif lainnya adalah menyesuaikan jumlah produksi film dengan kondisi pasar. Dalam proyeksinya, hanya sekitar 82 judul film yang berpotensi mencapai titik impas pada 2031 apabila jumlah penonton terus menyusut 7 persen per tahun.
"We are dancing on the fire. The-winner-will-take-it-all playbook will be happening, kalau kita tidak berbenah," tulisnya.