Tasya Farasya meluapkan emosinya karena mendapati rumah mewahnya retak parah di berbagai sudut akibat kejanggalan fatal dalam proses konstruksi. Ia berang karena belum sampai setahun bangunan empat lantai itu ditempati.
Kekesalan Tasya memuncak setelah tim pemeriksa membongkar sejumlah dinding dan menemukan dugaan kelalaian pengerjaan yang tidak sesuai standar arsitek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui unggahan di Instagram Story pada akhir pekan lalu, Sabtu (24/10), ia meluapkan amarahnya sembari memperdengarkan riuhnya ketukan palu tukang yang membongkar rumahnya.
"Banyak sekali tukang di rumahku. Kenapa? Karena bangunannya retak semua. Kenapa kok bisa retak semua? Karena yang seharusnya ditemukan ada besi, eh malah jadinya ada kayu," keluh Tasya membeberkan salah satu temuan paling mengejutkan di huniannya.
Kerusakan nyatanya tak cuma soal kayu yang diselundupkan untuk menggantikan besi. Hasil pemeriksaan menemukan bahwa sambungan antara struktur kolom dan dinding bata ringan atau hebel sama sekali tidak dipasangi besi penghubung.
Kejanggalan tersebut yang kemudian membuat dinding di sisi kolom ikut retak dan ada bagian yang sampai terpisah. Kerusakan juga merembet ke luar rumah.
Berdasarkan pemberitaan detikProperti, area kolam renangnya ikut ambles. Penurunan permukaan ini terlihat jelas dari lantai marmer kini merosot ke bawah garis batas cat yang padahal baru diaplikasikan tujuh bulan lalu.
Perombakan besar-besaran terpaksa dilakukan dan memakan kerugian materiil yang tak main-main. Dengan nada sarkas, Tasya menertawakan nasibnya yang harus kembali merogoh kocek untuk membenahi kelalaian kontraktor.
"Eh, eh, kira-kira kalau kayak gini tuh bayar lagi ga, sih? Bayar lagi! Ratusan juta, miliaran, lho. Ho-oh, ah gila, can't wait hambur-hamburkan uangku ya, hahaha," sentilnya dengan tawa getir.
Kini, Tasya mengatakan harus rela rumah yang interiornya didesain dengan gaya modern French itu bising suara proyek perbaikan yang seringkali memanjang hingga pukul 22.00.
Belum lagi kelar proses perbaikan, kata Tasya Farasya, ia sudah diwanti-wanti bahwa potensi retak susulan di titik berbeda masih akan terus menghantuinya di masa depan.
"Dan yang serunya lagi adalah setelah retak, kalau misalnya nanti udah dibetulin, bisa jadi retaknya tumbuh di tempat lain," ungkapnya.
"Wah, I can't wait! Setelah pembangunan enam tahun ternyata retak itu akan ada lagi. Jadi memang aku itu harus membangun terus. Dokdokdok bersama memong," seloroh perempuan yang akrab disapa Memong tersebut.
Hunian mentereng yang juga menampung studio khusus untuk pekerjaan Tasya ini memiliki sejarah panjang. Pembangunannya merenggut waktu hingga enam tahun sejak 2020.
Proyek rumah ini awalnya digarap saat Tasya masih bersama mantan suaminya, Ahmad Assegaf, dan baru benar-benar dikebut penyelesaiannya tak lama setelah mereka berpisah.
(chri)
