Mengenal Asal-usul Clayface, Aktor Korban Mutasi di DC Universe

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 21:00 WIB
Karakter Clayface dalam DC Comics DETECTIVE COMICS #40 (1940).
Berikut penjelasan mengenai asal usul Clayface yang kini diadaptasi jadi film dibintangi Tom Rhys Harries. (DC Comics)
Jakarta, CNN Indonesia --

Clayface menjadi karakter terbaru DC Comics yang diadaptasi menjadi live action di bawah DC Universe James Gunn dan Peter Safran.

Clayface juga menjadi salah satu karakter klasik yang patut disorot asal-usulnya. Meski gelar kutukan pernah disandang beberapa karakter, kisah pilu seorang aktor muda bernama Matthew "Matt" Hagen menjadi salah satu evolusi Clayface yang paling tragis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hagen pada awalnya hanya seorang aktor pendatang baru asal Gotham City yang memutuskan hijrah ke California demi melarikan diri dari masa lalu kelamnya dan mengejar mimpi di industri film.

Sayangnya, angan-angan untuk menjadi bintang besar itu hancur lebur setelah wajahnya rusak parah akibat serangan brutal dari seorang gangster.

Terdesak keadaan dan hilangnya masa depan, Hagen nekat mendatangi CEO perusahaan bioteknologi, Dr. Caitlyn Corr, untuk menjalani prosedur eksperimental yang untungnya berhasil menyembuhkan cacat di wajahnya.

Namun, prosedur medis tersebut rupanya membawa efek samping jangka panjang yang mengerikan, yakni memutasi tubuh Hagen menjadi metahuman berwujud monster lumpur yang dapat berubah bentuk sesuka hati.

[Gambas:Video CNN]

Kondisi ini paradoksal memberinya kekuatan manipulasi wujud yang luar biasa, mulai dari memanjangkan anggota tubuh, membentuk senjata tajam dari lengannya, hingga mengontrol kepadatan wujudnya.

Hagen juga mampu meniru penampilan fisik dan suara manusia lain dengan sangat sempurna untuk memanipulasi orang-orang di sekitarnya.

Susunan tubuhnya yang terbuat dari material menyerupai tanah liat itu turut menjadikannya kebal terhadap berbagai serangan peluru maupun pukulan fisik kelas berat, di mana tubuhnya bisa pulih dengan sendirinya seperti tak terjadi apa-apa.

Kekuatan mentah tersebut sempat ia buktikan saat menghajar Rick Flag, Sr. hingga babak belur dan nyaris membuat Eric Frankenstein mati lemas karena terkurung di dalam gumpalan tubuhnya.

Di balik daya tahannya yang gila, kelemahan fatal Clayface justru terletak pada sengatan aliran listrik.

Hal itu terbukti saat Frankenstein berhasil membuatnya hancur berkeping-keping dan pingsan tak sadarkan diri lewat serangan kejut listrik.

Sebagai penjahat super, rekam jejak Hagen tercatat pernah bersekutu dengan Putri Ilana Rostovic untuk membunuh dan meniru identitas Profesor Aisla MacPherson demi memuluskan rencana dominasi dunia sang putri.

Penyamaran yang bahkan sempat berhasil mengelabui petinggi Amanda Waller itu pada akhirnya terbongkar, berujung pada penangkapannya oleh pasukan A.R.G.U.S. serta kematian Ilana yang dibunuh oleh The Bride.

Jika merunut pada sejarah latar komiknya, Matt Hagen sejatinya adalah generasi kedua (Clayface II) yang memulai debutnya pada 1961 silam setelah bersinggungan dengan zat misterius.

Gelar orisinalnya pertama kali disandang oleh Basil Karlo di edisi Detective Comics #40 pada 1940, yang mulanya hanya aktor sakit hati tanpa kekuatan super sebelum akhirnya bermutasi menjadi monster lumpur di era komik modern.

Sosok Hagen belakangan juga dipastikan menjadi fokus utama dalam proyek film aksi langsung (*live-action*) *Clayface* arahan sutradara James Watkins, di mana aktor Tom Rhys Harries didapuk sebagai bintang utamanya.

Secara keseluruhan, estafet kutukan monster lumpur peniru ini setidaknya telah menjerat delapan karakter berbeda selama beberapa dekade terakhir, termasuk nama-nama lainnya seperti Preston Payne hingga Sondra Fuller.

Dalam Clayface (2026), karakter Matt Hagen dipercayakan kepada Tom Rhys Harries. Film tersebut digarap sutradara James Watkins (Speak No Evil) berdasarkan naskah tulisan Mike Flanagan bersama Hossein Amini (47 Ronin).

Film Clayface tayang 21 Oktober di bioskop Indonesia.

(chri)