Review Film: Whalefall

Christie Stefanie | CNN Indonesia
Jumat, 16 Okt 2026 20:15 WIB
Film Whalefall (2026)
Review Whalefall: Sinematografi, sound, hingga akting Austin Abrams dan Josh Brolin jadi kekuatan utama film ini. (20th Century Studios)
img-title Christie Stefanie
4
Review Whalefall: Sinematografi, sound, hingga akting Austin Abrams dan Josh Brolin jadi kekuatan utama film ini.
Jakarta, CNN Indonesia --

Terjebak hidup-hidup dalam perut paus sperma jelas menjadi ide brutal dan sangat menjanjikan untuk memompa adrenalin penikmat film survival thriller, terlebih lagi saat materi dasarnya dari bestselling novel.

Di atas kertas, Whalefall memegang kartu as untuk meneror mental siapa pun yang fobia laut dalam dan ruang sempit. Sayangnya, film tersebut malah tersungkur gara-gara eksekusi cerita yang kaku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menit-menit awal dan totalitas pemeran utamanya sesungguhnya buat film ini patut diacungi jempol. Austin Abrams kembali membuktikan kapasitasnya sebagai 'scream king' yang mumpuni setelah aksinya di Resident Evil.

Ia jelas menjadi tulang punggung film ini dengan tampil mendominasi layar dan nyaris sendirian berinteraksi dengan set interior perut paus yang dibangun dari nol. Abrams mempertontonkan totalitasnya yang gila.

Meski mulutnya tersumbat regulator selam hingga tak bisa berbicara jelas, Abrams sanggup menyampaikan spektrum emosi yang begitu autentik hanya lewat tatapan mata serta erangan.

Secara teknis, Whalefall juga paham betul cara menyedot penonton masuk ke dunianya. Efek visual, tata suara, sampai komposisi musik jelas bekerja ekstra keras.

[Gambas:Video CNN]

Sinematografi dan desain produksi Whalefall tergolong apik dalam membayangkan lanskap dasar samudra hingga anatomi lambung atau usus paus yang berisi cumi-cumi, sampah, dan air.

Di beberapa bagian, teknik pengambilan gambar sinematografer Aaron Morton berhasil membelokkan film ini menjadi tontonan body horror yang cukup bikin ngilu bagi penonton.

Sayangnya, fondasi teknis dan visual yang memanjakan mata itu hancur ditimpa pemetaan anatomi yang berantakan.

Film Whalefall (2026)Review Whalefall: Aspek teknis, seperti sinematografi dan sound, hingga akting Austin Abrams jadi kekuatan utama film ini. Foto: (20th Century Studios)

Penonton kerap dibuat bingung memahami posisi spesifik Jay di dalam organ tubuh sang mamalia laut, selain menyaksikan sang karakter utama bergulat konyol melawan cumi-cumi, dan menghindari gas metana di saluran pencernaan.

Tak hanya itu, Brian Duffield di kursi sutradara sekaligus penulis naskah bersama Daniel Kraus kentara kurang memaksimalkan potensi kengerian dari Whalefall dalam medium visual.

Alih-alih mengeksplorasi ketakutan terhadap kegelapan lautan lepas yang sempat terekam epik di awal, Duffield justru terjebak mendaur ulang siksaan ruang sempit yang lama-kelamaan terasa menjemukan.

Jay jadi terasa hanya seperti terlempar dari satu ruang berlendir ke ruang lainnya yang dijahit secara paksa tanpa pemikiran matang untuk menjaga keterikatan penonton.

Durasi yang ada dipakai habis-habisan untuk menguliti trauma keluarga. Josh Brolin berhasil merangsek masuk menyeret ego sebagai bapak berwatak keras.

Ambisi toksik seorang ayah yang memaksa anak laki-lakinya tumbuh tangguh dieksekusi dengan amat hidup melalui interaksi Brolin dan Abrams setelah keduanya sama-sama membintangi Weapons.

Patahan emosi dan matinya urat komunikasi bapak bersama anak laki-lakinya ini, ironisnya, memukul mental penonton jauh lebih telak ketimbang horor terkurung di dalam lambung binatang laut.

Film Whalefall (2026)Review Whalefall: Josh Brolin berhasil merepresentasikan betapa buruknya komunikasi dan cara pengasuhan terhadap anak, terutama terhadap anak laki-laki, di dunia nyata. Foto: (20th Century Studios)

Kegilaan emosional dari drama keluarga itu pun meledak di babak ketiga. Menipisnya pasokan oksigen membuat simbolisme sang paus melebur liar dengan halusinasi Jay.

Buat sebagian orang, visualisasi seperti itu mungkin terasa seperti too much. Bagi yang lain, rasa kepalang tanggung hampir ending membuat situasi tersebut sebagai pelengkap kekacauan bagi sang karakter utama.

Pada akhirnya, Whalefall bukan tontonan yang sepenuhnya mengecewakan. Film ini masih bisa menghibur lewat sisipan-sisipan humor saat Jay sedang berjuang bertahan hidup dan coba keluar dari perut paus.

Bagi penikmat survival thriller yang sekadar ingin menyaksikan perjuangan brutal keluar dari tubuh paus, film ini juga masih menyajikan deretan adegan menjijikkan yang seru untuk dinikmati di layar lebar, terlebih jika disaksikan dalam format 4DX dengan keseluruhan sistemnya beroperasi sempurna sehingga bisa menghadirkan keseruan sendiri.

[Gambas:Youtube]

(chri/chri)