Review Film: Kuasa Gelap - Perjanjian Darah

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Minggu, 11 Okt 2026 19:40 WIB
Dalam Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Romo Thomas (Jerome Kurnia) dan Romo Rendra (Lukman Sardi) kembali menghadapi sebuah perjanjian kuasa gelap. Mereka berhadapan dengan energi iblis yang begitu besar.
Review film: Kuasa Gelap Perjanjian Darah ini jelas lebih fokus bikin tampilan korban eksorsisme yang seram dan melempar Jerome Kurnia hingga pingsan. (dok. Paragon Pictures/Ideosource Entertainment via YouTube)
img-title Endro Priherdityo
3
Kuasa Gelap 2 ini lebih mantap kalau tanpa setan yang lebih sering cuma bermodal efek visual.
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagai sebuah sekuel dari film horor yang berbeda dibanding horor lokal lainnya, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, jelas belajar dari pengalaman dua tahun lalu. Meski memang, pembelajarannya terlihat setahap demi setahap.

Dari segi cerita, Andri Cahyadi dan Robert Ronny, tampak berusaha menyeimbangkan narasi eksorsisme dan masalah pribadi salah satu romo dalam edisi ini. Bila sebelumnya adalah masalah Romo Thomas (Jerome Kurnia), kali ini adalah Romo Rendra (Lukman Sardi).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andri dan Robert sudah terlihat fokus pada aspek masalah eksorsisme sebagai sajian utamanya, berbeda ketika edisi pertama lebih banyak pada masalah pribadi Romo Thomas. Ini jelas sebuah keputusan yang patut diapresiasi.

Apalagi film yang kali ini diarahkan oleh Rizal Mantovani ini seperti diawasi dengan ketat terkait penyampaian materi eksorsisme dan ajaran Gereja Katolik, beda dengan materi film Hollywood yang lebih banyak dramatisasi dibanding konteks faktualnya.

Hal itu terlihat dari bagaimana Andri dan Ronny menyusun cerita dan percakapannya. Hasilnya, bagi mereka yang awam dan hanya menyaksikan film ini untuk hiburan, film ini lebih mirip drama Katolik dibanding film horor.

Namun jelas berbeda bagi mereka yang memang berharap substansi gerejawi lebih kental pada film ini. Dan hal itu sah-sah saja, toh banyak juga film horor Indonesia sebelumnya mesti mutlak membawa ayat suci dan memenangkan ustaz dalam pertarungan lawan jin.

Berhasil memainkan bobot materi agama yang diawasi ketat dengan horor serta beban komersil macam permainan Russian roulette, Andri Cahyadi dan Robert Ronny jelas keluar dengan selamat.

Apalagi Andri dan Robert yang kini dibantu Rizal Mantovani sebagai sutradara juga meningkatkan drama poltergeist dalam film ini dibanding prekuelnya yang masih malu-malu.

Bahkan, ketiganya juga memaksa Jerome Kurnia untuk berkali-kali dilempar dan nyusruk menabrak furnitur. Dan untuk hal ini, rasanya ketiganya sedikit berlebihan dan terlalu fokus membuat Jerome terpental tanpa benar-benar menyesuaikan dengan kondisi ruangannya.

Dalam Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Romo Thomas (Jerome Kurnia) dan Romo Rendra (Lukman Sardi) kembali menghadapi sebuah perjanjian kuasa gelap. Mereka berhadapan dengan energi iblis yang begitu besar.Review film: Sebagai sebuah sekuel dari film horor yang berbeda dibanding horor lokal lainnya, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, jelas belajar dari pengalaman dua tahun lalu. (dok. Paragon Pictures/Ideosource Entertainment via YouTube)

Ini jelas jadi catatan tersendiri, baik untuk Rizal maupun Alfi Syahri selaku desainer produksi. Catatannya adalah rasanya tidak logis untuk kasus pasien eksorsisme separah Daniel (Venly Arauna) masih ditempatkan di kamar yang penuh perabotan.

Ganjilnya, ketika poltergeist bisa melemparkan Jerome hingga pingsan dan merubuhkan lemari, tetapi barang-barang kecil di lemari samping kasur masih tertata rapi.

Selain itu, Rizal Mantovani tampaknya terlalu ingin menunjukkan suasana dalam cerita dengan gamblang tanpa membuatnya lebih subtle dan simbolis.

Misalnya ketika suhu ruangan yang mendadak gerah, Rizal lebih memilih untuk menampilkan gambar suhu pada termometer ruangan dan keringat tipis Jerome. Padahal bisa dengan meminta tim rias memperbanyak semprotan air di dahi Jerome dan Lukman, atau sedikit gerakan tangan duo romo itu yang menunjukkan kegerahan.

Namun tampaknya memang produksi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah terfokus untuk menghasilkan momen eksorsisme puncak yang mengerikan seperti ala Hollywood, setelah pada film sebelumnya terkesan "biasa saja".

Hal itu terlihat dari tebalnya prostetik yang digunakan tim tata rias ke Venly Arauna dan penggantinya. Rasanya, semua bujet tertuju pada aspek tampilan tersebut dan agak melupakan aspek lainnya, seperti adegan yang lain hingga aspek teatrikal yang minim terasa.

Padahal, gagasan Ronny untuk membawa sosok demit Rephaim yang dikisahkan di luar dari Seven Princes of Hell juga turunannya sangatlah menarik. Apalagi, dibungkus dengan ilmu hitam ala lokal. Justru rasanya akan terasa menjanjikan bagaimana eksorsisme Katolik bertemu dengan kuasa gelap yang 'beda server'.

Dalam Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Romo Thomas (Jerome Kurnia) dan Romo Rendra (Lukman Sardi) kembali menghadapi sebuah perjanjian kuasa gelap. Mereka berhadapan dengan energi iblis yang begitu besar.Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah: Padahal film sekuel ini berpotensi besar, terutama melihat dedikasi Jerome, Lukman, Ferry Salim, Venly Arauna, dan Lydia Kandou bermain dalam film ini (dok. Paragon Pictures/Ideosource Entertainment via YouTube)

Sayangnya, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah gagal mewujudkan sosok Rephaim yang meyakinkan gegara teknis efek visual yang buruk, terlalu komputerisasi, bahkan seperti macam hasil render yang belum sempurna.

Belum lagi dengan efek visual saat adegan tenggelam di awal film yang "apa banget" serta pemilihan penggunakan filter untuk menggambarkan adegan Romo Rendra dan Suster Aloysia (Lydia Kandou) saat berbincang di dermaga kala matahari terbenam.

Robert Ronny yang juga bertindak sebagai produser eksekutif mestinya bisa lebih peduli dengan melakukan investasi lebih, atau menerapkan standar yang lebih tinggi untuk aspek-aspek yang masih jadi catatan dari film pertama.

Bila saat film pertama masih bisa dimaklumi, sayangnya pemakluman atas kualitas hasil produksi yang terkesan menekan bujet semaksimal mungkin ini tak bisa lagi diberikan untuk versi sekuel, apalagi Kuasa Gelap (2024) mampu memperoleh 1,4 juta penonton.

Bicara soal adegan pembuka, itu juga jadi catatan bagi tim casting. Entah dasar apa yang digunakan untuk memilih anak-anak yang tampil sebagai sosok Rendra dan Halim muda, karena rasanya postur Rendra kecil tidak cocok dengan Rendra dewasa. Apalagi bila membandingkan postur Rendra dan Halim saat masih anak-anak dengan versi dewasanya.

Hal-hal yang sebenarnya terkesan sepele tapi seperti disepelekan itulah yang menggerus gagasan unik dan horor-religion-balance yang dibawa Kuasa Gelap: Perjanjian Darah.

Padahal film sekuel ini berpotensi besar, terutama melihat dedikasi Jerome, Lukman, Ferry Salim, Venly Arauna, dan Lydia Kandou bermain dalam film ini. Namun dedikasi mereka pun rasanya agak tertahan dengan berbagai eksekusi yang kendor di sana-sini.

[Gambas:Youtube]

Hanya sedikit catatan tambahan, terutama untuk tim hair-do dan make up, untuk lebih melogiskan tampilan Romo Thomas setelah berjibaku melawan setan. Rasanya tak logis bila romo yang terlempar berkali menabrak berbagai barang tetap punya tampilan begitu tampan dan rambutnya klimis.

Dengan berbagai hal di atas, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah memang menunjukkan perbaikan dari film pertamanya dan masih menawarkan gagasan unik. Hanya saja, saga ini masih bisa berpotensi berbuat lebih dan memuaskan penggemar horor eksorsisme.

(end)
placeholder