Kamila Andini kembali dengan kisah yang kental dengan pesan feminisme dalam Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java). Namun kali ini, ia berpetualang melintas dimensi, dari kedalaman emosi manusia, trauma, hingga spiritual, sampai fiksi ilmiah.
Meski melintasi berbagai dimensi, Kamila Andini sebenarnya berangkat dari hal yang sederhana: pengalaman pulang kampung yang justru bagi sebagian orang, tidak terasa menyenangkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lupakan citra hangat, penuh penerimaan, penyambutan terbaik, hingga kenangan manis, momen pulang kampung Pertiwi (Putri Marino) sedingin kawasan Bromo-Tengger kala jelang subuh.
Dilematika pulang kampung ke lokasi yang justru memberikan trauma ditampilkan dengan presisi oleh naskah yang ditulis Kamila Andini dan dibawakan dengan menggugah oleh Putri Marino dalam balutan gambar kamera Batara Goempar yang sinematik.
Hasil riset mendalam Kamila dengan penyintas diejawantah dengan adegan-adegan metaforis yang membawa penonton ke dimensi berbeda, mengaburkan surealis dan fantasi, tapi menciptakan pengalaman imersif yang emosional.
Dita Gambiro selaku desainer produksi, tim editing, tim tata suara, serta efek visual pun mampu membantu menerjemahkan imajinasi Kamila tersebut.
Kerja tim ini patut diberikan pujian karena sejatinya sulit menggambarkan kompleksitas emosional dan pikiran para penyintas kekerasan seksual ke dalam visual yang belum tentu bisa langsung dipahami masyarakat umum.
Kamila pun sebenarnya terlihat memutuskan membuat kisah ini terbuka untuk berbagai penafsiran, terutama pada aspek-aspek yang di luar nalar. Meski begitu, Kamila terlihat tetap bersumber pada kepekaan pribadi yang menyentuh perasaan serta titik-titik sensitif individu maupun kolektif.
Belum lagi dengan cara Kamila membawa kisah Pertiwi dalam babak penyelesaian konflik yang bermakna berlapis.
Review Film Empat Musim Pertiwi atau Four Seasons in Java (2026): Kamila Andini kembali dengan kisah yang kental dengan pesan feminisme dalam Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java).Foto: (Forka Film) |
Secara sederhana, aksi balas dendam mungkin adalah cara yang memuaskan meski kemudian akan timbul pertanyaan, apakah memang balas dendam adalah sebuah solusi dan akan memulihkan kerusakan yang sudah ada?
Namun bagai pawang dalam tim jaranan yang bergerak bagai insting yang tak bisa ditebak penonton, Kamila sebenarnya menyiapkan sesuatu yang lebih mendalam di balik adegan visual barbarik di depan mata.
Tak mudah memang untuk penonton bisa langsung mencerna pesan dari Kamila Andini dalam film ini hanya dalam sekejap mata. Bahkan sebagian orang mungkin harus berjuang untuk bertahan fokus lebih dari separuh awal perjalanan Pertiwi.
Hal itu karena Kamila membawakan naskahnya dengan slow-burn, ditemani lautan pasir berbisik Bromo, dan sorot kamera Batara yang membawa penonton tenggelam dalam kehampaan jiwa Pertiwi.
Apalagi Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) punya durasi yang tidak bisa dianggap sebentar. Selama 2 jam 17 menit, Kamila membawa penonton menyusun kepingan demi kepingan memori Pertiwi di 2/3 durasi awal, sebelum kemudian mendapatkan cerita yang utuh dan terbang menuju puncak cerita.
Aspek inilah yang sebenarnya mungkin masih bisa disajikan secara efisien oleh Kamila Andini, tanpa harus mengorbankan pesannya dan terkesan repetitif hanya dengan alasan mendalami tema.
Review Film Empat Musim Pertiwi atau Four Seasons in Java (2026): Atas penampilannya dalam film ini, Putri Marino patut mendapatkan karangan bunga lebih dari bunga di padang pasir Bromo yang biasa ditiduri Pertiwi. (Forka Film) Foto: (Forka Film) |
Namun mungkin memang kehampaan dan rasa-tak-berujung itulah yang dirasakan Pertiwi sebagai penyintas yang mendambakan keadilan atas nasibnya. Kehampaan yang dingin dan tak memiliki kepastian akan rencana berikutnya, hanya bisa menghadapinya satu per satu, seperti yang sudah-sudah.
Atas penampilannya dalam film ini, Putri Marino patut mendapatkan karangan bunga lebih dari bunga di padang pasir Bromo yang biasa ditiduri Pertiwi. Ia mampu menghadirkan beragam emosi dan kondisi yang dialami Pertiwi seolah-olah pernah menjalaninya, dan secara konsisten.
Terlepas dari apakah film ini benar-benar merepresentasikan Indonesia sebagai wakil ke Academy Awards ke-99 yang bisa diperdebatkan, Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) setidaknya cukup menggambarkan bagaimana perempuan penyintas berjuang untuk tetap waras di tengah dunia patriarki toksik dan alam Indonesia yang indah.


