Directors Guild of Korea (DGK) menyatakan dukungannya terhadap tim di balik film The Assassin(s) di tengah kemarahan politik yang meluas hingga menyasar para pemeran dan kru film yang memuncaki box office Korea tersebut.
Dukungan diberikan ketika politisi konservatif dan kritikus daring menuduh film ini mendistorsi sejarah. Kini, film tersebut menghadapi aduan polisi serta perdebatan sengit di Majelis Nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa yang kami hadapi saat ini bukan lah kritik atau kecaman terhadap film, melainkan serangan terhadap individu yang telah melampaui batas," demikian pernyataan DGK seperti diberitakan Variety pada Minggu (4/10).
Asosiasi tersebut menyatakan sikap permusuhan tersebut telah melampaui sekadar mempertanyakan konten film maupun pilihan para pembuatnya.
"Situasi ini menyasar kehidupan sehari-hari serta mata pencaharian mereka yang terlibat, bahkan sampai pada tuntutan agar film semacam itu tidak pernah dibuat lagi."
Pernyataan yang tidak menyebutkan nama Hur maupun pihak lain secara spesifik mengakui bahwa setiap film pasti menuai kritik tajam sekaligus pujian, tapi mempertanyakan siapa yang dapat menentukan batasan pasti antara kritik yang wajar dan kritik yang berlebihan.
"Para kreator dapat dikritik atas karya mereka, namun kritik tersebut tidak boleh berujung pada hancurnya kehidupan pribadi dan mata pencaharian sang kreator," ujar asosiasi tersebut.
DGK menambahkan bahwa gagasan mereka mengenai lingkungan kreatif yang sehat mencakup sikap mendukung para pembuat film yang ingin memulai kembali kiprah mereka, karena "kesempatan bagi seseorang untuk memulai kisah berikutnya tidak boleh hilang begitu saja hanya karena sebuah film mengalami kontroversi dan kritik."
The Assassin(s) menampilkan Yoo Hae-jin berperan sebagai inspektur polisi yang menyaksikan penembakan pada 15 Agustus 1974 di Teater Nasional, tempat Yuk, istri Presiden Park Chung-hee kala itu, tewas dalam perayaan Hari Pembebasan-dan kemudian memimpin penyelidikannya.
Sementara itu, Park Hae-il berperan sebagai kepala desk sosial sebuah surat kabar, sementara Lee Min-ho berperan sebagai reporter pemula.
Penyelidikan resmi menyimpulkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan seorang diri oleh Mun Se-gwang, yang bertindak atas instruksi dari Pyongyang dan Chongryon, asosiasi warga pro-Korea Utara di Jepang.
Film karya Hur ini tidak secara eksplisit menyebutkan siapa pelakunya, dan para pengkritik berpendapat bahwa akhir cerita yang menggantung tersebut mengarah pada dugaan keterlibatan Park Chung-hee atau pemerintahannya.
Kontroversi tersebut tidak menghambat capaian box office film ini. The Assassin(s) mencatatkan lebih dari 1 juta penonton dalam empat hari dan kembali memuncaki tangga film Korea pada akhir pekan tanggal 2-4 Oktober.
Dalam periode tersebut, film itu mengantongi penjualan 412.012 tiket di 1.129 layar dan pendapatan kotor akhir pekan sebesar 4,07 miliar won.
Total akumulasi penontonnya kini mencapai 2,23 juta orang dengan pendapatan 21,9 miliar won.
Reaksi negatif meluas hingga ke luar lingkup film itu sendiri. Situs-situs penilaian film dibanjiri ulasan bintang satu, dan akun media sosial para pemeran dipenuhi komentar kasar.
Kim Go-eun dan Lee Young-ae, yang sempat membagikan rekomendasi film tersebut melalui tulisan tangan, serta kritikus Lee Dong-jin yang mengulas film itu dalam bentuk video, turut menjadi sasaran kecaman.
Seorang pengulas film di YouTube dengan 4,17 juta pelanggan bahkan menarik kembali video yang membahas film tersebut.
Lee Jong-bae, mantan anggota dewan kota Seoul dari Partai People Power (PPP), telah meminta kepolisian Seoul untuk menyelidiki Hur, CEO Hive Media Corp. Kim Won-kuk, serta penulis naskah Kwon Ki-jun dan Lee Ji-min atas tuduhan pencemaran nama baik.
Aduannya berargumen bahwa penggunaan bentuk jamak pada judul film tersebut memancing penonton untuk mencurigai adanya pelaku kedua selain Mun.
Anggota parlemen dari PPP juga berupaya memanggil sutradara Hur untuk memberikan kesaksian dalam audit parlemen tahunan, namun langkah ini digagalkan oleh Partai Demokrat dengan alasan kebebasan berkarya.
Park Chan-wook, saat menghadiri sesi tanya jawab dengan penonton pada 26 September, memuji film tersebut sebagai karya yang dirancang dengan cerdas.
Sementara itu, pihak produser pada 28 September merilis pernyataan bahwa tidak pernah menjadikan film tersebut sebagai fakta baru.
"Tidak ada satu pun bagian dalam film yang secara spesifik menyebutkan individu tertentu sebagai dalang di balik peristiwa tersebut, dan hipotesis serta latar dramatis film ini tidak disajikan sebagai fakta sejarah."
(chri)

