Microdrama AI Menjamur di China, Produsen Susah Payah Pikat Penonton

CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 01:30 WIB
This photo illustration taken in Hong Kong on April 16, 2026 shows phones displaying the screenshots of Chinese Hanfu stylist Baicai's social media post (L) and the AI microdrama (R) accused of stealing his likeness without authorization. Two people
Industri microdrama atau drama mikro berbasis kecerdasan buatan (AI) di China berkembang pesat. (AFP/MAHMOUD RIZK)
Jakarta, CNN Indonesia --

Industri microdrama atau drama mikro berbasis kecerdasan buatan (AI) di China berkembang pesat. Namun imbas gegara kemudahan dari AI tersebut kini bikin produsen punya tantangan baru, yakni bagaimana membuat konten yang menarik penonton di tengah maraknya produk serupa.

Salah satu contoh pemanfaatan AI datang dari NetEase. Musim panas ini, perusahaan tersebut merilis video berdurasi dua menit yang menampilkan kembali sejumlah karakter ikonis yang pernah diperankan aktris Joey Wong pada era 1980-an dan 1990-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah dua dekade tidak tampil di layar, Wong kembali hadir melalui rekonstruksi berbasis AI. Sejumlah perannya dibuat kembali, termasuk sosok hantu cantik dalam A Chinese Ghost Story dan siluman ular dalam Green Snake.

Pemanfaatan AI tersebut menjadi bagian dari perubahan besar di industri microdrama China. Format drama yang umumnya hanya berdurasi beberapa menit per episode itu dikenal dengan alur cerita cepat dan banyaknya kejutan.

National Radio and Television Administration selaku regulator penyiaran China mencatat, lebih dari 90 persen dari 430 ribu microdrama yang diluncurkan secara daring dalam delapan bulan pertama tahun ini dibuat menggunakan AI.

Para produsen menilai teknologi tersebut membuka peluang untuk mengadaptasi cerita yang sebelumnya sulit diwujudkan karena membutuhkan biaya produksi besar.

"Banyak novel daring dibangun berdasarkan aksi, ketegangan, atau dunia imajinatif yang membutuhkan set mahal dan efek visual jika dibuat dalam format live action," kata Bai Jianyue, produser di sebuah platform distribusi drama komik AI berbasis di Shenzhen.

"AI membuat cerita-cerita tersebut jauh lebih memungkinkan untuk diproduksi," sambungnya seperti diberitakan South China Morning Post, Minggu (4/10).

Sejumlah penonton bahkan mengaku bersedia membayar untuk drama AI dengan kualitas lebih tinggi, terutama untuk mengadaptasi dunia fantasi dari novel daring populer.

"Beberapa novel memiliki dunia yang hanya benar-benar bisa direkonstruksi oleh AI," kata pengguna RedNote bernama Huifei de Kuromi. Ia mengatakan bersedia membayar untuk adaptasi yang dibuat dengan baik dari buku atau gim populer.

Namun, pertumbuhan produksi AI juga membuat sebagian penonton mulai jenuh karena banyak drama dianggap memiliki pola cerita yang serupa.

"Begitu satu drama menjadi hit, serangkaian pengganti akan muncul, dengan mengubah dinasti atau jenis kelaminnya dan menyebutnya sebagai cerita baru," kata pengguna RedNote Liulang de Mao.

"Hasilnya adalah kamu sering kali bisa mengetahui bagaimana sebuah drama akan berakhir hanya dari awalnya," sambungnya.

Produsen pun mengakui semakin sulit mempertahankan perhatian penonton di tengah persaingan yang semakin ketat.

"Mampu menghasilkan video tidak sama dengan mampu secara konsisten menghadirkan seluruh serial," kata Robin Luo, pendiri Synintell Pictures.

Menurut Luo, menjaga konsistensi karakter, penampilan, dan penceritaan selama puluhan episode masih menjadi tantangan.

Persaingan antarpelaku industri pun mulai bergeser dari sekadar kemampuan menghasilkan video AI ke kualitas naskah, penyutradaraan, alur kerja produksi, hingga kemampuan mempertahankan penonton.

Di tengah kondisi tersebut, regulator dan pelaku industri China juga mulai mendorong produksi microdrama live action.

Wang Xiaoliang, pejabat regulator penyiaran China, bulan lalu menyerukan agar platform menyediakan bagian khusus untuk produksi live action dan memberikan dukungan finansial bagi konten berkualitas tinggi.

Enam platform besar, termasuk yang dioperasikan ByteDance dan Kuaishou Technology, juga berkomitmen menyediakan sedikitnya 6 miliar yuan atau sekitar US$894 juta untuk mendukung microdrama live action melalui inisiatif yang didukung pemerintah.

Sementara itu, pengawasan terhadap produksi berbasis AI turut diperketat. Aturan yang mulai berlaku bulan ini mewajibkan setiap episode mencantumkan label yang jelas untuk menunjukkan bahwa konten tersebut dibuat menggunakan AI.

Wang juga meminta studio mendapatkan persetujuan sebelum menggunakan wajah dan suara seseorang.

Zhou Xiangxiang, pendiri Moli OPC AI Comic Drama Base, mengatakan timnya mulai menggunakan rupa staf yang telah mendapat izin serta menandatangani perjanjian dengan para pemain untuk membuat karakter digital.

Menurut Zhou, pemberian lisensi memang sedikit meningkatkan biaya produksi. Namun, langkah tersebut dapat menekan biaya peninjauan oleh platform karena karakter AI yang terlalu mirip dengan orang nyata sebelumnya dapat menyebabkan perilisan tertunda.

Namun, ia mengatakan bisnis perusahaannya sejauh ini belum mengalami perubahan yang signifikan karena kontrak tahunan dengan platform masih berjalan.

(van/end)
placeholder