Review Film: Lobang Buaya, 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Minggu, 04 Okt 2026 20:00 WIB
Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Film ini dibintangi oleh Baskara Mahendra.
Review film: Lobang Buaya punya banyak hal yang bisa diperdebatkan, tapi bukan soal benar atau tidak, melainkan kenapa Hanung bikin film model begini. (dok. Adhya Pictures/Dapur Films via YouTube)
img-title Endro Priherdityo
2
Bisakah Hanung Bramantyo merevisi kembali film ini?
Jakarta, CNN Indonesia --

Terlepas dari latar waktu dan gagasan cerita berkaitan dengan tragedi Gerakan 30 September pada 1965 yang bisa diperdebatkan, film Lobang Buaya garapan Hanung Bramantyo ini jauh dari kata memuaskan.

Ada banyak catatan yang muncul dari film Lobang Buaya, mulai dari bagaimana Hanung dan Haqi Ahmad menulis ceritanya, penampilan pemainnya, hingga hasil riset Hagai Pakan untuk kostum film yang berfondasi sejarah ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanung memang sudah menegaskan bahwa Lobang Buaya adalah film fiksi yang dibuat sebagai imbas obsesinya menggarap ulang film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) versi modern batal terwujud.

Mimpi menggarap ulang film itu jelas masih terlihat di sini. Hanung pun tak sungkan mengungkapkannya dalam adegan yang tayang, bukan cuma pemilihan latar waktu cerita sekitar setahun sebelum salah satu tragedi berdarah di Indonesia itu terjadi.

Namun yang masih jadi misteri adalah, alasan Hanung dan Haqi mengarang drama misteri berbalut horor dan thriller demi bisa menempel dengan tragedi G30S. Meminjam gaya foodies di TikTok, imajinasinya Hanung di sini imajinatif banget.

Kenapa Hanung tidak memilih cerita penelusuran tragedi G30S dengan sudut pandang anak muda saat ini? Kenapa harus memaksakan diri membuat film berlatar masa lalu yang ternyata lalai mengamankan detail-detail kecil penunjang cerita?

Formula fiksi, sejarah, horor, religi, konspirasi, dan thriller dalam film ini jelas tidak saling mendukung elemen satu sama lain. Hanung terasa ugal-ugalan dalam mengorkestrasi semua elemen itu dalam 113 menit. Hasilnya? Jauh dari kata padu.

Akan terasa lebih mulus bila Hanung fokus pada satu-dua atau tiga elemen yang diperdalam ceritanya. Dengan begitu, penonton bisa menikmati alur dan benar-benar memahami apa yang coba diceritakan Hanung.

Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Film horor mister thriller Indonesia ini dibintangi oleh Baskara Mahendra.Review Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah: Terlepas dari latar waktu dan gagasan cerita berkaitan dengan tragedi Gerakan 30 September pada 1965 yang bisa diperdebatkan, film Lobang Buaya garapan Hanung Bramantyo ini jauh dari kata memuaskan. Foto: (dok. Adhya Pictures/Dapur Films via YouTube)

Tujuan Hanung agar anak muda zaman TikTok tidak melupakan sejarah dan misteri tragedi G30S memang mulia. Hanya saja, penggunaan dialek dan diksi modern dalam percakapan karakter film ini rasanya makin membuat Lobang Buaya yang berlatar 1964 ini terasa ganjil.

Keganjilan juga terasa gegara efek visual dan komputerisasi dalam sejumlah adegan "horor", meski Hanung bilang ini bukan film horor. Penggunaan efek visual yang aneh di sini menunjukkan standar efek visual Hanung belum ada perkembangan berarti sejak Tuhan Izinkan Aku Berdosa (2023).

Memang tata rias dan prostetik untuk "adegan horor" dalam Lobang Buaya terbilang apik. Tim rias jelas paham membuat riasan yang natural dan sesuai pada latar waktu ceritanya. Yang sayangnya, belum diimbangi dengan hasil riset Hagai Pakan.

Hagai Pakan biasanya lihai dalam memilih kostum untuk para pemain. Namun dalam Lobang Buaya, ia meleset untuk kostum karakter angkatan bersenjata. Sayangnya, karakter-karakter ini punya screen time yang banyak.

Entah karena tidak memiliki izin dari TNI/Polri untuk mereplikasi seragam masa itu atau sebab lain, ketidakmiripannya terpampang nyata di layar. Mulai dari jenis warna hijau, model dan jenis kancing, tanda pangkat, hingga jenis nametag, semuanya jauh dari citra aparat angkatan bersenjata. Bahkan untuk menyamai gambaran aparat bersenjata pada Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) pun masih jauh.

Memang seragam PDL militer dan polisi saat ini dengan masa lalu punya perbedaan. Dalam berbagai arsip yang tersebar di internet juga menegaskan hal tersebut. Namun pada film ini, bahkan hanya dilihat sekilas, sudah sangat terlihat Baskara dan pasukannya adalah 'gadungan'.

Hagai Pakan seolah mati ide sehingga memilih model baju safari "yang penting" hijau untuk pakaian karakter Letnan Kolonel yang dibawakan Baskara Mahendra. Hagai Pakan mungkin tak tahu, polisi hutan atau mahasiswa perkebunan juga berseragam lapang safari berwarna hijau.

Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Film horor mister thriller Indonesia ini dibintangi oleh Baskara Mahendra.Review Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah: Hagai Pakan biasanya lihai dalam memilih kostum untuk para pemain. Namun dalam Lobang Buaya, ia meleset untuk kostum karakter angkatan bersenjata. Sayangnya, karakter-karakter ini punya screen time yang banyak. Foto: (dok. Adhya Pictures/Dapur Films via YouTube)

Catatan juga ada untuk tim hair-do. Entah mereka tidak mendapatkan restu memotong rambut Baskara atau tidak menyiapkan hair-cut ala tentara di film ini, yang jelas rasanya aneh ada tentara dengan rambut sepanjang punya Baskara.

Padahal military hair look yang cepak ini adalah standar penampilan tentara dan sudah ada sejak dahulu, salah satunya sejak Perang Dunia yang sering dijadikan referensi banyak film perang dan militer.

Melihat Baskara yang memerankan karakter prajurit dengan jabatan cukup tinggi, tapi rambutnya bisa menyentuh kuping atau mengembang di bagian atas kepala saja itu sudah mengganggu estetika film berunsur militer.

Setelah rambut, Baskara juga tampak tidak melakukan latihan fisik untuk meresapi perannya sebagai prajurit. Walau tidak ada tuntutan adegan aksi fisik, tapi rupa yang ditampilkan Baskara sebagai Soegeng meragukan validitas karakternya sebagai prajurit militer.

Apalagi mengingat pangkat Soegeng, harusnya ada tampilan fisik hasil tempaan militer yang menegaskan pangkatnya itu. Maka rasanya wajar bahwa Baskara pun tak bisa membawa aura seorang militer dalam film ini.

Padahal, Khiva Iskak sebagai lawan mainnya Baskara sudah tampil dengan apik sebagai karakter antagonis. Khiva mampu memainkan perkembangan karakter Suradi yang ekstrim, bahkan mampu menyajikan aura kegilaan psikopat di hadapan kamera.

[Gambas:Youtube]

Suadi Utama selaku pemegang kamera juga mampu menangkap momen-momen dan pose adegan yang apik untuk Lobang Buaya. Suadi paham memadukan dramatisasi emosi yang dibawa oleh para karakternya, terutama Khiva, dengan komponen gambar lainnya. Bagian lighting dan editing juga bekerja dengan baik dalam mendukung hasil tangkapan Suadi.

Meski ada sejumlah set yang dirasa kurang cocok, seperti pada warna cat rumah 'daur ulang' Gowok (2025) untuk kediaman Sukarya (Mathias Muchus) serta bentuk atap rumah warga yang tidak mencerminkan gambaran asli Desa Lobang Buaya pada 1960-an, kerja keras tim desainer produksi untuk membangun set lokasi patut diapresiasi.

Terlepas dari berondongan catatan untuk Lobang Buaya, film ini jelas mengajarkan satu hal: imajinasi itu penting, terutama dalam menyiasati obsesi yang batal terwujud.

Namun satu hal yang pasti, seimajinatifnya imajinasi, keputusan yang realistis dan logis juga tetap dibutuhkan untuk memadukan gagasan, kecuali memang sekadar bikin tanpa tujuan.

(end)
placeholder