5 Karya Legendaris Guruh Soekarnoputra yang Terus Dikenang

CNN Indonesia
Sabtu, 26 Sep 2026 09:02 WIB
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu (26/9) pada usia 73 tahun, setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Semasa hidupnya, Guruh dikenal sebagai seniman yang melahirkan berbagai karya.

Kabar wafatnya Guruh dikonfirmasi oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Menurutnya, partai kehilangan sosok Guruh yang selama ini juga merupakan kader partai banteng moncong putih tersebut.

"Hari ini keluarga besar PDIP sungguh sangat kehilangan atas dipanggilnya Mas Guruh Soekarnoputra dalam usia 73 tahun," kata Hasto di rumah duka, Sabtu (26/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Putra bungsu Presiden pertama Indonesia Soekarno itu dikenal sebagai seniman, terutama seni tari dan seni musik. Semasa hidupnya, ia telah menciptakan berbagai mahakarya yang lagu-lagunya masih dikenang hingga saat ini.

Berikut adalah karya-karya Guruh Soekarnoputra yang diciptakan selama hidupnya:

Guruh Gipsy

Guruh Gipsy merupakan album yang diproduksi Guruh bersama dengan grup Gipsy yang beranggotakan Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap, dan Oding Nasution. Album ini memadukan instrumen modern dengan gaya musik tradisional Jawa dan Bali.

Pada tahun 2007, Rolling Stones Indonesia memilih album ini sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa. Semua musik dalam album ini diarahkan oleh Guruh.

Album ini berisikan tujuh lagu, yang dibuka dengan lagu "Indonesia Maharddhika", sebuah lagu megah bergaya british-prog yang paling kental di album ini. Liriknya secara garis besar menggambarkan Indonesia sebagai negara yang agung dan damai, dengan merangkul warisan budaya dan keanekaragamannya yang kaya.

Kala Sang Surya Tenggelam

"Kala Sang Surya Tenggelam" merupakan salah satu lagu ciptaan Guruh yang paling dikenang. Lagu ini pertama kali dinyanyikan oleh Dhenok Wahyudi untuk mengisi soundtrack film Ali Topan Anak Jalanan pada tahun 1977.

Chrisye kemudian menyanyikan lagu ini dan masuk dalam album ikoniknya berjudul "Sabda Alam" pada tahun 1978. Setelah dinyanyikan oleh Chrisye, lagu ini menjadi sangat terkenal serta memiliki nuansa yang magis.

Hampir 50 tahun kemudian, lagu ini dinyanyikan ulang oleh Nadin Amizah. Ia mendaur ulang lagu ini untuk menjadi soundtrack serial "Gadis Kretek" yang tayang di Netflix.

Galih dan Ratna

Karya legendaris lain yang diciptakan oleh Guruh adalah lagu "Galih dan Ratna". Lagu ini pertama kali dinyanyikan oleh Iromy Nursaid and the Kid Brothers dan muncul dalam film "Gita Cinta dari SMA" yang dirilis tahun 1979.

Kemudian, setahun setelahnya, lagu ini dinyanyikan oleh Chrisye pada tahun 1980 untuk mengisi soundtrack film "Puspa Indah Taman Hati" yang merupakan sekuel dari "Gita Cinta dari SMA".

Nama Galih dan Ratna sangat melekat dalam budaya pop Indonesia sebagai simbol percintaan anak sekolah. Film ini diperankan oleh Rano Karno sebagai Galih dan Yessy Gusman sebagai Ratna.

Anak Jalanan

"Anak Jalanan" merupakan lagu ciptaan Guruh yang terinspirasi dari fenomena sosial novel ikonis Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha.

Cerita dari novel ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Guruh juga terlibat sebagai ilustrator musik untuk film Ali Topan Anak Jalanan.

Chrisye lagi-lagi ikut mempopulerkan lagu ciptaan Guruh. Lagu ini masuk dalam daftar lagu Chrisye di dalam album "Sabda Alam" pada tahun 1978.

Mahadaya Cinta

Karya Guruh lainnya adalah lagu "Mahadaya CInta" yang dinyanyikan oleh Kris Dayanti pada tahun 2004. Lagu ini merupakan salah satu trek utama dalam album bertajuk "Cahaya" dari Kris Dayanti.

Lagu ini mengisahkan tentang kedahsyatan kekuatan cinta yang mampu membawa kedamaian, menyatukan kasih antarmanusia tanpa membeda-bedakan, serta menjadi sumber energi terbesar di dunia.

(dmi)