Review Film: Hope (2026)

Christie Stefanie | CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 20:15 WIB
Film Korea Hope (2026)
Review Hope: Film ini memiliki sinematografi dan babak pertama teramat baik, tapi berujung pada penyelesaian cerita yang begitu konyol. (Forged Films/Plus M Entertainment)
img-title Christie Stefanie
3
Review Hope: Film ini memiliki sinematografi dan babak pertama teramat baik, tapi berujung pada penyelesaian cerita yang begitu konyol.
Jakarta, CNN Indonesia --

Hope (2026) bisa dibilang sebagai proyek terbesar sekaligus paling liar yang pernah sutradara sekaligus penulis naskah Na Hong-jin garap sejauh ini.

Keberaniannya mulai masuk ke genre fiksi ilmiah dengan jajaran pemain kelas A memang menjanjikan tontonan epik, terutama dengan menjadikannya proyek comeback setelah sedekade kesuksesan The Wailing.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hope sesungguhnya tidak semengganggu The Chaser,  segelap The Yellow Sea, atau seambigu The Wailing, tapi menyaksikan film ini malah terasa melelahkan dengan cara yang berbeda.

Penceritaan film ini terbagi menjadi dua babak. Sejam pertama adalah masa krusial saat karakter, termasuk penonton, dibuat buta akan ancaman yang sebenarnya sedang dihadapi warga di desa dekat perbatasan Korea Utara.

Terlebih lagi, penonton mulai dibawa ke ancaman yang belum terlihat ini melalui jejak-jejak berdarah yang sesungguhnya bukan mainan baru bagi Na Hong-jin. Rasa penasaran pun berhasil dibangun di sini.

Kamera juga bergerak agresif menyapu puing-puing kota, mengikuti kepanikan kepala polisi Bum-seok (Hwang Jung-min) yang tiba di lokasi saat segalanya sudah hancur lebur.

Bersama Im Sung-ae (Jung Ho-yeon) rekan aparat yang sepintas terlihat lebih nekat padahal isi kepalanya jauh lebih jernih, mereka memacu kendaraan melintasi jalanan kacau. Maju-mundur di antara insting untuk kabur atau justru menabrak entitas misterius tersebut.

Review Hope: Aksi kejar-kejaran pada babak pertama menjadi sekuens terbaik film ini. (Forged Films/Plus M Entertainment)Review Hope: Aksi kejar-kejaran pada babak pertama menjadi sekuens terbaik film ini. (Forged Films/Plus M Entertainment) Foto: (Forged Films/Plus M Entertainment)


Na Hong-jin terlihat amat menikmati proses mempermainkan ketegangan ini. Butuh waktu sekitar 45 menit sampai wujud monster itu benar-benar ditampakkan lebih dari sekadar sekelebat bayangan.

Sebelum momen itu datang, penonton dipaksa kembali ke insting murni anak-anak yang ketakutan mendengar derit suara yang asing. Rasa ngeri jelas dibangun pelan-pelan.

Keberhasilan babak pembuka ini tak lepas dari tangan dingin sinematografer Hong Kyung-pyo. Kemampuannya menangkap atmosfer sunyi dan mencekam khas Zona Demiliterisasi (DMZ) sukses membuat 60 menit pertama terasa begitu imersif.

[Gambas:Video CNN]

Sayangnya, rentetan pujian itu harus direm begitu alur menginjak babak kedua. Ekspektasi mendapat titik terang justru dibalas dengan sekuens aksi kejar-kejaran yang terus diulang tanpa suntikan formula baru.

Latar belakang para tokoh pun dibiarkan kosong. Na Hong-jin jadi seolah sengaja melucuti ruang empati penonton terhadap karakter manusianya.

Citra pahlawan Bum-seok saat turun menyelidiki di awal mendadak luntur, memperlihatkan sisi rapuhnya sebagai polisi payah yang bahkan kewalahan menekan ketakutannya sendiri untuk sekadar menaruh iba pada makhluk yang rupanya tengah terdesak.

Babak kedua dipanggul oleh Sung-ki (Zo In-sung) cs yang berujung juga jadi bulan-bulanan naskah.

Sisi manusiawi mereka ditonjolkan lewat kacamata yang tragis, yakni manusia yang dipenuhi keserakahan, berpikiran kerdil, dan gampang tersulut kekerasan brutal.

Review Hope: Babak kedua hanya memberikansedikit backstory karakter dan situasi yang sedang mereka hadapi. (Forged Films/Plus M Entertainment)Review Hope: Babak kedua hanya memberikan secuplik backstory karakter dan situasi yang sedang mereka hadapi. (Forged Films/Plus M Entertainment) 


Menjelang sepertiga akhir cerita, film seperti mulai kehabisan napas. Adegan kejar-kejaran yang terjadi terlalu panjang dari pasar desa, tembus ke lereng gunung, masuk gua, hingga jalan raya justru menggerus momentum ketegangan.

Eksekusi visual ikut memperparah keadaan. Kualitas CGI yang sudah jadi buah bibir sejak sebelum rilis nyatanya memang terasa timpang, terutama jika membandingkan detail alien yang muncul pertama kali dengan yang datang belakangan.

Alien di desa harus diakui sebagai pemegang peran cukup penting dalam membangun ketakutan atas ketidakpastian, tapi visualnya saat pertama kali dimunculkan langsung meruntuhkan seluruh ekspektasi.

Review Hope: CGI jelas menjadi catatan utama film ini. (Forged Films/Plus M Entertainment)Review Hope: CGI jelas menjadi catatan utama film ini. (Forged Films/Plus M Entertainment) 


Satu-satunya pelampung di tengah kejenuhan alur ini adalah selipan komedi gelap yang mendarat di titik-titik tak terduga. Na Hong-jin menjadikan momen ini sebagai cermin kecemasan kolektif umat manusia akan hal-hal asing.

Kepanikan menghadapi hal asing juga dimanfaatkan untuk menyentil banyak hal, mulai dari lambannya kinerja aparat yang rasanya relevan di negara mana saja, sampai kebingungan Bum-seok soal aturan senjata api.

Aktor Eum Moon-suk dan Hwang Seok-jeong turut membuktikan jam terbang mereka. Bermodal jatah tampil seadanya, mereka sukses memaksimalkan unsur komedi.

Namun, panggung komedi satir ini justru sering kali dicuri para karakter lansia yang meski muncul sepintas, ketangguhan dan kisahnya berhasil menarik perhatian. Ditambah dengan Jung Ho-yeon yang begitu ekspresif dalam film ini.


Dengan durasi 156 menit, Hope semestinya punya ruang lapang untuk merapikan benang kusutnya. Kenyataannya, konflik dibiarkan bergulir tanpa juntrungan, malah menambah tumpukan misteri tanpa niat memberi kepastian hingga menit akhir.

Pilihan ini membuat paruh kedua terasa bertele-tele dan berujung pada penyelesaian cerita yang tidak memuaskan, bahkan terkesan konyol.

Pada akhirnya, Na Hong-jin tampaknya mengambil langkah nekat dengan membiarkan narasi utamanya berlubang demi menggelar karpet merah untuk proyek sekuel yang naskahnya sudah selesai ia garap.

[Gambas:Youtube]

(chri/chri)