Review Film: Insidious Out of the Further
Endro Priherdityo
Sebenarnya tak perlu heran ketika kisah kelanjutan dari waralaba Insidious kembali berlanjut dengan Insidious: Out of the Further (2026), setelah kisah lima film berakhir di The Red Door (2023).
Cerita orang yang bisa lepas dari tubuhnya saat tidur dan memasuki dunia astral lalu bertemu dengan demon-demon jahat ini adalah salah satu waralaba paling cuan. Dari lima film yang sudah tayang, rata-rata bisa meraih pendapatan 28 kali dari bujet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan seperti yang sudah-sudah, aspek kualitas cerita biasanya jadi kurban pertama dari obsesi studio dalam mengeruk keuntungan dari film horor. Begitu pula dengan Insidious: Out of the Further ini.
Secara umum, Insidious: Out of the Further masih meneruskan kisah ngadi-ngadi mereka menjelajah dunia astral The Further. Tentu saja, masih mengandalkan Lin Shaye yang kini sudah sepuh dan jadi korban ketidaksiapan studio karena karakter ikonisnya dimatikan sejak film pertama.
Harus diakui bahwa antusiasme akan Insidious: Out of the Further agak berbeda dengan Insidious: The Red Door (2023). Pada The Red Door, penggemar Insidious akan datang ke bioskop karena ingin melihat akhir kisah Josh dan Dalton yang sudah dimulai sejak 2011.
Namun untuk Insidious: Out of the Further, ada sedikit skeptisme yang muncul akan cerita yang bakal disajikan Leigh Whannell cs. Agaknya, Whannell cs pun menyadari hal itu sehingga merekrut kru dan pemain hampir seluruhnya berbeda dari lima film sebelumnya.
Jacob Chase adalah korban uji coba Whannell dkk. Sutradara yang belum banyak pengalaman film panjang tersebut kemudian menulis dan mengarahkan cerita baru Insidious, yang dibangun di atas fondasi pola cerita yang sudah ada, kepada para pemain yang nyaris sepenuhnya belum pernah bersinggungan dengan semesta Insidious.
Hasilnya, Out of the Further memang berbeda dari saga-saga sebelumnya. Ini jelas terasa seperti reboot halus dari waralaba horor itu.
Chase memberikan sentuhan segar pada waralaba ini, terutama dari segi pengambilan gambar oleh Dave Garbett yang sebelumnya jadi dalang kamera Lee Cronin's The Mummy (2026) dan Evil Dead Rise (2023).
Trik kamera berupa close up dan extreme close-up yang dikombinasikan dengan adegan rada gore, jelas menjadi andalan Chase dan Garbett untuk menaikkan intensitas cerita yang sebenarnya hambar.
Review film: Secara umum, Insidious: Out of the Further masih meneruskan kisah ngadi-ngadi mereka menjelajah dunia astral The Further. Foto: (dok. Sony Pictures Releasing via YouTube) |
Lewat Insidious: Out of the Further, Chase dan Garbett tak lagi mengandalkan plot-plot adegan atau karakter demon ikonis yang pernah dikenal dari dunia The Further, seperti The Lipstick-Face Demon, melainkan adegan-adegan semi penyiksaan yang bikin kepala sebagian penonton pening atau ngilu.
Pada titik ini, Jason Blum, Oren Peli, James Wan, dan Leigh Whannell selaku produser sebenarnya membuat pertaruhan yang sangat besar untuk Insidious.
Racikan Chase dan Garbett bukan tidak mungkin membuat penggemar sejak 2011 akan berpikir ulang, atau bisa jadi malah menyukai formula ini, yang semuanya akan terlihat dari hasil box office nanti.
Namun yang pasti, upaya Chase memberikan angin segar ke waralaba Insidious memang patut diapresiasi. Apalagi, Chase memasukkan kisah yang lebih kompleks sampai niat menyinggung fenomena sosial dalam cerita Insidious.
Walau kemudian, gagasan itu terbanting dengan manipulasi kamera yang mendistraksi fokus penonton, serta 'pintu-pintu' baru gagasan Chase serta David Leslie Johnson-McGoldrick, yang memungkinkan semesta Insidious akan semakin berkembang di masa depan.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, cerita yang ditulis Chase ini akan terasa lebih cocok bila disajikan di saga ketiga atau keempat, tentu dengan menyudahi cerita Josh dan Dalton dalam dua atau tiga film pertama.
Dengan begitu, Insidious akan memiliki berbagai jenis kasus penjelajahan The Further dengan jatah film yang cukup untuk pengembangan masing-masing kasus, tapi tetap memiliki invisible string yang sama.
Review film Insidious: Out of the Further: cerita yang ditulis Chase ini akan terasa lebih cocok bila disajikan di saga ketiga atau keempat, tentu dengan menyudahi cerita Josh dan Dalton dalam dua atau tiga film pertama. Foto: (dok. Sony Pictures Releasing via YouTube) |
Namun ya namanya juga film yang mendadak beranak-pinak tanpa perencanaan sebelumnya. Insidious bukan yang pertama, dan pasti bukan yang terakhir.
Terlepas dari tipikal kapitalisme Hollywood pada Insidious, karangan bunga dan vitamin ekstra harus diberikan kepada Lin Shaye yang di usianya ke-82 masih harus menenteng lampu 'petromax' di tengah kegelapan melawan demon-demon Insidious.
Akting Lin Shaye memang tidak sampai membuat standing ovation, tetapi kesetiaannya pada waralaba ini melebihi idealisme para produser dan kreatornya. Selain itu, sosok Lin Shaye ini sudah seperti nenek bagi penggemar Insidious, hanya dengan melihatnya terasa seperti kembali ke rumah yang sudah dikenal.
Sambutan hangat jelas pantas diterima Amelia Eve, Brandon Perea, dan Maisie Richardson-Sellers selaku pendatang baru bagi waralaba ini. Bukan tidak mungkin, ketiganya memiliki jalan yang cukup panjang untuk Insidious berikutnya menimbang arahan cerita dari Whannell cs.
Hanya satu pesan bagi Leigh Whannell cs selaku admin dunia Insidious, tolong jangan bikin kesalahan yang sama seperti mematikan karakter Elise di film pertama yang membuat Insidious meracau tak keruan hingga lima saga seperti sebelumnya.
(end)

