Kubu Ruben Klaim Diminta Bayar Kartu Kredit Sarwendah Tanpa Rincian

CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 12:40 WIB
Ruben Onsu datang ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam rangka sidang hak asuh anak melawan Sarwendah pada Rabu (22/7/2026).
Pengacara klaim Ruben Onsu diminta menanggung setengah dari total tagihan kartu kredit Sarwendah tanpa pernah diberikan rincian. (CNN Indonesia/Vandeniar Kennindya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, mengklaim bahwa kliennya diminta menanggung setengah dari total tagihan kartu kredit Sarwendah yang disebut untuk kebutuhan anak-anak.

Menurut Minola, Ruben kerap mempertanyakan rincian penggunaan kartu kredit tersebut. Namun, Sarwendah disebut enggan memberikan rincian sehingga yang diterima Ruben hanya nominal tagihan yang harus dibayarkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tiap bulan Ruben itu dimintakan setengah dari seluruh pemakaian kartu kredit di bulan itu oleh S alasannya untuk anak-anak," kata Minola Sebayang seperti diberitakan detikHot pada Selasa (28/7).

"Ruben kan tanya ini apa saja pembelanjaannya kok cuma angkanya, misal bayar Rp50 juta itu setengah lo tadinya Rp100 juta, saya Rp50 juta kamu Rp50 juta. Tapi Ruben kan enggak pernah lihat tagihan yang sesungguhnya berapa, penggunaannya untuk apa," jelas Minola.

"Dia hanya ditagih ya, Ruben bayar tapi kan dia tanya perinciannya apa yang Rp50 (juta) itu untuk apa saja nih contohnya, ong enggak mau kasih," kata Minola.

[Gambas:Video CNN]

Meski tetap membayar tagihan tersebut, Ruben disebut merasa keberatan karena nominal yang ditagihkan tergolong fantastis dan terus berulang setiap bulan.

Sebagai pihak yang mengeluarkan dana, Ruben merasa memiliki hak untuk mengetahui peruntukan uang tersebut secara mendetail agar tidak terjadi penyalahgunaan anggaran.

Selain persoalan transparansi rincian penggunaan dana, kekecewaan Ruben disebut memuncak ketika ia kesulitan bertemu dengan anak-anaknya meski rutin memenuhi kewajiban memberikan nafkah.

Kondisi itu kemudian membuat Ruben memutuskan menghentikan pemberian nafkah pada Desember 2025.

Pihak Ruben Onsu juga mengingatkan kembali catatan finansial selama beberapa tahun terakhir.

Mereka mengklaim memiliki data pengeluaran rutin mencapai ratusan juta rupiah per bulan untuk anak-anak dalam periode 2024 hingga awal 2026, yang di dalamnya termasuk cicilan dan pemakaian kartu kredit tersebut.

"Beberapa bulan terakhir di tahun 2026 ini dibesar-besarkan, tapi dia lupa sebelum 2026, dari 2024 ke 2026 ada uang Rp200 jutaan lebih kurang setiap bulan, kartu kredit juga ada, tapi ketika diminta perinciannya untuk apa saja tidak mau disampaikan," kata Minola.

Sementara itu, saat menghadiri agenda mediasi gugatan hak asuh anak pada 22 Juli di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pihak Sarwendah mengaku tak ingin lagi dikaitkan dengan persoalan nafkah anak bersama mantan suaminya.

Selama enam bulan terakhir, mereka menyatakan seluruh kebutuhan anak disebut telah dipenuhi secara mandiri oleh Sarwendah.

"Klien kami juga sudah clear dari awal Januari sampai sekarang biaya nafkahnya untuk anak semua sudah ditanggung oleh klien kami sendiri," kata kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu.

Mulai ke depan juga ya klien kami tidak lagi mau disangkutpautkan terkait bahwa klien kami meminta nafkah kepada mantan suaminya," lanjutnya.

"Itu biar nanti urusan mantan suami dengan anaknya langsung saja, sehingga tidak dipelintir lagi bahwa klien kami ini masih mengejar-ngejar soal nafkah untuk kepentingan klien kami," kata Chris Sam Siwu.

Pihaknya menegaskan, ke depan urusan nafkah diharapkan dapat langsung dilakukan antara sang ayah dan anak-anak, misalnya melalui rekening atas nama masing-masing anak.

Di tengah polemik soal rumah hingga nafkah, Ruben Onsu dan Sarwendah kini menjalani proses gugatan hak asuh anak. Keduanya menjalani agenda mediasi kedua pada 6 Agustus. Agenda mediasi dijadwalkan berlangsung maksimal 30 hari.

(van/chri) Add as a preferred
source on Google