Review Film: Dilan ITB 1997

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 20:10 WIB
Review Dilan ITB 1997: kata Dilan rindu itu berat, tapi mencari pemeran yang pas buat Dilan tak kalah berat.
Review Dilan ITB 1997: kata Dilan rindu itu berat, tapi mencari pemeran yang pas buat Dilan tak kalah berat. (dok. Falcon Pictures via IMDb)
img-title Endro Priherdityo
3
Kata Dilan rindu itu berat, tapi mencari pemeran yang pas buat Dilan tak kalah berat.
Jakarta, CNN Indonesia --

Kalau Dilan pernah bilang bahwa rindu itu berat biar dia saja yang menanggungnya, mungkin kali ini yang terjadi dalam Dilan ITB 1997 adalah bahwa mencari pemeran Dilan yang benar-benar tepat itu berat.

Ada paradoks yang terjadi saat melihat Nazril Irham alias Ariel NOAH menjadi karakter tukang gombal di era menjadi mahasiswa abadi di ITB jelang keruntuhan Orde Baru pada film itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satu sisi, Pidi Baiq sebagai kreator dan salah satu sutradara film ini pasti paham, alasan terbesar yang mendorongnya untuk mengiyakan Ariel NOAH memerankan karakter fiktif tersuksesnya itu adalah karena sama-sama berasal dari Bandung.

Kesamaan latar budaya yang ada pada Ariel dengan Dilan itu adalah modal terbesar bagaimana percakapan dan dialek Dilan dengan karakter-karakter di dunianya terasa mengalir dengan sangat mulus.

Misal seperti saat Dilan berkomunikasi dengan teman-teman kampusnya, dengan teman-teman bandnya, saat dirinya berbicara soft spoken kepada Ancika, atau ketika Dilan yang kini gemar memegang gitar dan bernyanyi.

Ada cengkok, logat, humor, dan kosakata Sunda khas Bandung yang keluar dari lidah Ariel dengan sangat natural ketika membawakan Dilan. Seolah-olah Dilan itu Ariel, Ariel itu Dilan.

Hal itulah yang tidak didapat saat Dilan dibawakan oleh Iqbaal Ramadhan (Dilan 1990, 2018; Dilan 1991, 2019; Milea, 2020) dan Arbani Yasiz (Ancika, 2024). Jangan salah, keduanya mampu memerankan Dilan, tapi versi naskah film. Sementara Dilan versi novel, Ariel membuktikan lebih bisa membawa ruhnya.

Hanya saja, jurang terbesar Ariel adalah soal usianya yang tak akan bisa ditutupi walau sudah diberi bedak tebal hingga terasa seperti topeng, atau prostetik sekalipun. Tim tata rias sudah berusaha maksimal, tapi kerutan di dahi dan mata Ariel saat tersenyum tak bisa ditutupi.

Dilan ITB 1997Review film Dilan ITB 1997: Ada cengkok, logat, humor, dan kosakata Sunda khas Bandung yang keluar dari lidah Ariel dengan sangat natural ketika membawakan Dilan. Seolah-olah Dilan itu Ariel, Ariel itu Dilan. (dok. Falcon Pictures via IMDb)

Selain itu, keberadaan Ariel yang saat ini sudah berstatus bapak-bapak jelas tidak memiliki aura mahasiswa tingkat akhir yang belum juga lulus. Memang mahasiswa sarjana telat lulus itu tua, tapi tak setua hingga paruh baya.

Bukan cuma Ariel, termasuk untuk Niken Anjani sebagai Ancika, dan Raline Shah sebagai Milea. Mereka semua terlalu senior untuk memerankan karakter yang semestinya berusia kisaran 20-25 tahun.

Kecuali Falcon mau investasi di teknologi visual dan tata rias canggih yang bisa membuat ketiganya 20-an tahun lebih muda, tentu topik ini tak akan menjadi pembahasan dalam review Dilan ITB 1997 ini.

Kalau bisa berandai gabung dengan Pidi Baiq, Adhitya Mulya, dan Ninit Yunita di ruangan penulis, mungkin yang paling pas cerita untuk film kelima soal kehidupan Dilan ini adalah ketika Dilan dan Ancika sudah menikah, memiliki anak, dan rentang 10 tahun setelah Dilan dan Milea berpisah.

Latar tersebut menjadi lebih masuk akal bila ingin mempertemukan kembali Dilan dan Milea dalam sebuah percakapan saat keduanya sudah lepas dari akhir hubungan yang kurang baik itu. Dengan begitu, adegan Raline bertanya "apa kabar" kepada Ariel akan lebih mengena.

Dilan ITB 1997Review film Dilan ITB 1997: Bukan cuma Ariel, termasuk untuk Niken Anjani sebagai Ancika, dan Raline Shah sebagai Milea. Mereka semua terlalu senior untuk memerankan karakter yang semestinya berusia kisaran 20-25 tahun. (dok. Falcon Pictures via IMDb)

Terlepas dari kecanggungan soal Dilan, naskah Dilan ITB 1997 yang ditulis Pidi, Adhitya, dan Ninit ini terbilang manis, kalau tak bisa dibilang "sangat ITB" mungkin karena ada Pidi dan Adhit di sana.

Keputusan untuk tidak banyak membahas soal politik dalam film ini mungkin salah satu hal yang bijak, karena berpotensi mengurangi suasana drama-romantis soal Dilan dan Ancika yang memang jadi alasan utama penggemar datang menyaksikan film ini.

Selain itu, kerja sama antara Pidi dan Fajar Bustomi sejak Dilan era Iqbaal bisa dibilang sudah sangat kawin. Keduanya sukses menjaga atmosfer yang sudah terbangun sejak 2017.

Dibantu dengan Eros Eflin sebagai Art Director dan tim desain produksi, Pidi dan Fajar jelas bekerja keras untuk menghadirkan Bandung nyaris tiga dekade silam. Memang ada beberapa adegan set nyaris bocor, tapi mengingat Bandung yang dulu bukanlah yang sekarang, hal itu bisa dimaklumi.

Satu hal yang agak berbeda pada kolaborasi Pidi dan Fajar kali ini adalah Dilan ITB 1997 tidak banyak meminta Rahmat Syaiful selaku sinematografer mengambil adegan atau gambar dramatisasi seperti pada Dilan 1990. Namun keputusan kreatif itu terbilang wajar karena sejalan dengan kedewasaan karakter Dilan itu sendiri.

Yang jelas, Pidi Baiq memang terlihat berniat untuk melengkapi tahapan demi tahapan perjalanan penggemar Dilan mengikuti kisah mantan Panglima Geng Motor tersebut.

Apalagi lagu Ancika yang ditulis Ariel NOAH memang sangat kawin dalam cerita di film ini. Semuanya terasa pas, menyatu, cuma tinggal fakta cerita bahwa ini adalah Dilan usia mahasiswa akhir yang tidak nyambung dengan latar usia Ariel cs.

Namun itulah seni perjuangannya mengangkat kisah novel menjadi sajian visual. Apalagi untuk karya tulis sepopuler Dilan yang sanggup membuat pembacanya senyum-senyum cekikikan sendiri.

[Gambas:Youtube]

(end) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]