Review Film: Para Perasuk

Vandeniar Kennindya | CNN Indonesia
Minggu, 26 Apr 2026 20:15 WIB
Review film Para Perasuk: Meski berpijak pada pengalaman pribadi, Wregas Bhanuteja jelas tidak mengurung imajinasinya dalam merancang dunia Para Perasuk.
Review film Para Perasuk: Meski berpijak pada pengalaman pribadi, Wregas Bhanuteja jelas tidak mengurung imajinasinya dalam merancang dunia Para Perasuk. (dok. Rekata Studio/KG Media/Masih Belajar Project via IMDb)
img-title Endro Priherdityo
4
Para Perasuk jelas terasa sebagai pengalaman sinematik menarik meskipun bisa jadi tidak bisa dicerna mudah oleh semua orang.
Jakarta, CNN Indonesia --

Wregas Bhanuteja bukan cuma sukses menggocek bayangan awal Para Perasuk sebagai film horor dan mistis, tetapi menampilkan pertunjukan eksperimental nan teatrikal yang berbalut budaya tradisional masyarakat Indonesia.

'Pesta rakyat' ala Wregas ini memperpanjang portofolionya dalam menghadirkan pengalaman film yang utuh setelah Penyalin Cahaya (2021) dan Budi Pekerti (2023).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun berbeda dari dua film panjang pertamanya itu, kali ini Wregas tampak lebih leluasa bereksperimen keluar dari pakem-pakem film populer modern dan dengan percaya diri menghadirkan kisah yang imajinatif dan fantasi.

Wregas bersama penulis lainnya, Alicia Angelica dan Defi Mahendra, lebih leluasa menambahkan unsur komedi, percakapan menyentil tapi bermakna dalam, adegan yang intens, hingga penggalan-penggalan cerita yang mindblowing.

Meski berpijak pada pengalaman pribadi, Wregas jelas tidak mengurung imajinasinya dalam merancang dunia Para Perasuk. Termasuk soal Desa Latas yang fiktif lengkap bersama budaya, bahasa, dan orang-orangnya.

Sayangnya bangunan imajinasi Wregas soal kehidupan di Desa Latas masih menyisakan celah yang menimbulkan tanya dalam benak penonton. Bukan soal roh-roh yang dibawa Wregas, tetapi lebih pada kehidupan warganya.

Penggunaan bahasa dan dialek seperti campuran Sunda Pantura dengan Betawi jelas terdengar menarik di awal. Namun sayangnya proses percakapan seiring film ini berjalan terasa mengganjal di telinga dan tak konsisten. Salah satunya adalah terkait bagaimana suara dari karakter ini terasa tidak menyatu dan mengambang dengan gambar yang bergerak mengalir.

Padahal, gambar yang ditangkap Gunnar Nimpuno selaku sinematografer terbilang sangat cantik dan 'high definition'. Gunnar sanggup menghadirkan visual yang jelas dan mahal meski hanya menyoroti getek dan sungai yang airnya hijau.

Para Perasuk telah melaksanakan world premiere di Sundance Film Festival 2026 pada Januari 2026 dan mendapatkan sambutan yang positif dari para kritikus.Review Para Perasuk: Para stunt dan penari yang memerankan pelamun juga memberikan pertunjukan luar biasa dalam film ini. Mereka bukan hanya sekadar menggeliat di tanah, menungging, jongkok, dan berloncat-loncatan, tetapi hingga salto di udara. (dok. Rekata Studio/KG Media/Masih Belajar Project via IMDb)

Pengalaman Gunnar bekerja sama dengan Wregas dari Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti jelas sudah cukup jadi modalnya memahami imajinasi sutradara asal Yogyakarta tersebut. Hal itu terlihat dari bagaimana Gunnar membedakan dunia Desa Latas dan dunia gaib yang dimasuki para pelamun.

Wregas dan Gunnar menggunakan gaya ala-ala iklan beauty shoot yang 'lebay' dalam menyoroti kenikmatan yang dirasakan Maudy Ayunda dan pelamun lainnya.

Gaya dan momen yang sama juga jadi momen Wregas mengeksekusi cerita jenaka yang mengubah kesan awal film ini dari horor dan mistik menjadi fantasi dan komedi. Meski sebagian humor Wregas terasa cringe, hal itu tak mengganggu bagaimana konten ini mewarnai Para Perasuk.

Apalagi, Wregas sebenarnya memiliki pesan dan cerita inti yang berat, depresif, dan kontemplatif, mengikuti jejak dua film sebelumnya. Bedanya kali ini, luka masa lalu bukan hanya dialami satu tokoh utama, tetapi hampir dari semua karakter yang muncul.

Kompleksitas karakter terlihat bukan hanya dari Bayu yang sukses diperankan Angga Yunanda, tetapi juga Laksmi yang dibawakan Maudy Ayunda, hingga Bapak Bayu yang dibawakan Indra Birowo.

Masing-masing karakter dalam Para Perasuk membawa konflik dan dilemanya sendiri, memungkinkan setiap penonton menemukan masalahnya sendiri dalam film ini dan ikut menjalani perjalanan penyembuhan diri seperti yang dialami Bayu dan Laksmi.

Siko Setyanto selaku koreografer jelas patut mendapatkan pujian atas kerja kerasnya dalam mengonsep gerakan yang begitu banyak dan kolosal untuk film ini, serta menyesuaikan dengan perjalanan hidup dan penyembuhan diri yang dilalui Bayu juga Laksmi.

Para Perasuk telah melaksanakan world premiere di Sundance Film Festival 2026 pada Januari 2026 dan mendapatkan sambutan yang positif dari para kritikus.Review Para Perasuk: Siko Setyanto selaku koreografer jelas patut mendapatkan pujian atas kerja kerasnya dalam mengonsep gerakan yang begitu banyak dan kolosal untuk film ini, serta menyesuaikan dengan perjalanan hidup dan penyembuhan diri yang dilalui Bayu juga Laksmi.
(dok. Rekata Studio/KG Media/Masih Belajar Project via IMDb)

Para stunt dan penari yang memerankan pelamun juga memberikan pertunjukan luar biasa dalam film ini. Mereka bukan hanya sekadar menggeliat di tanah, menungging, jongkok, dan berloncat-loncatan, tetapi hingga salto di udara.

Keberanian kreatif yang dibawa oleh Wregas Bhanuteja lewat Para Perasuk juga terlihat dari aktor-aktor lainnya yang bermain dalam film ini.

Maudy Ayunda sanggup membawakan tuntutan peran yang bukan hanya penuh dengan konflik batin dan trauma dari masa lalu, tetapi juga harus bisa ikut kesurupan, menari dengan berbagai koreografi, dipukul rotan berkali-kali, sampai bergulat di lumpur dan jalan bertelanjang kaki di mana pun.

Meski tampil kumal dan berantakan, Maudy yang dalam adegan di atas bunga layak menjadi bintang sabun penerus Luna Maya ini tetap mampu terlihat anggun, terutama saat tampil menari secara tunggal membawakan gerakan-gerakan yang mampu bikin bulu bergidik.

Pemilihan Anggun C Sasmi dalam film ini terbilang tepat. Sebagai penyanyi kawakan yang memiliki range dan power vokal yang kuat karena pengalamannya sebagai penyanyi musik rock dan heavy metal, sangat membantu saat ia menjadi 'dalang' pentas kerasukan yang bermodalkan vokal.

Aura Anggun yang memancarkan latar budaya Jawa kental dan pengalaman ditempa rentang karier yang panjang juga mempertebal perannya sebagai maestro perasuk. Anggun bisa dengan mudah membaur dengan tuntutan peran yang intimidatif sekaligus berwibawa yang memang harus ditampilkan dari sosok "guru".

Hanya ada sedikit catatan. Kesan "guru" dalam Anggun agak rusak ketika dirinya tampil dengan topi caddy golf dan jaket oranye pada sebuah adegan. Entah dasar apa yang digunakan untuk kostum tersebut, yang jelas lebih terlihat sebagai orang 'salah kostum' dibanding guru berpengalaman.

[Gambas:Youtube]

Karakter dan pembagian konflik antagonis dengan protagonis dalam film ini memang terasa membaur, hingga berpuncak pada satu adegan intens yang menjadi klimaks sempurna dari Para Perasuk.

Adegan tersebut menjadi kepingan penting dalam kisah perjalanan penyembuhan diri dan konflik dengan diri sendiri dalam Para Perasuk. Memang semua terasa berat dan melelahkan bagi psikis sebagian penonton, tapi konsep pesta kerasukan dari Wregas jadi hembusan angin segar atas kisah-kisah konflik psikologis.

Dalam lanskap sosial, Wregas tetap setia pada sensibilitasnya terhadap kelompok marjinal. Konflik antara warga Desa Latas dan perusahaan industri dihadirkan dengan artikulasi tajam tanpa melupakan pesan humanis yang menyentuh.

Konflik yang ada dalam Para Perasuk bahkan bisa dibawa merenung secara lebih jauh. Bukan hanya soal konflik agraria dan ketimpangan ekonomi serta sosial, tetapi juga bagaimana tradisi dan budaya orisinil yang terus digempur modernisasi serta pengabaian dari generasi penerus atas nama 'standar hidup' secara ekonomi, yang relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia.

Dengan sajian itu, Para Perasuk jelas terasa sebagai karya yang utuh, berspektrum emosi luas, dan menjadi sebuah pengalaman sinematik menarik meskipun bisa jadi tidak bisa dicerna dengan mudah oleh semua orang.

(end) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]