Review Film: Marty Supreme
Josh Safdie tidak memilih jalan umum yang aman dan nyaman dalam menampilkan perjuangan seseorang mencapai mimpi terbesarnya di Marty Supreme. Ia memilih jalan yang penuh chaos dan berputar-putar.
Terinspirasi dan kemudian diadaptasi secara bebas dari sosok legendaris Marty Reisman, Marty Supreme justru menonjolkan sosok anti-hero Marty Mauser yang narsis dan agaknya paling ambisius yang pernah muncul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Safdie menampilkan alur cerita yang penuh dengan segala kekacauan yang terlihat meragukan terjadi pada seorang manusia dalam waktu singkat, dan hanya bersumber dari keputusan-keputusan impulsif Marty Mauser.
Penipuan, negosiasi agresif, manipulasi, bertahan pada prinsip dan ego tapi siap melakukan segala cara, semua dilakukan Marty Mauser hanya demi bisa membayar kekalahannya dari pemain tenis meja asal Jepang.
Segala keputusan serampangan yang dilakukan Marty itu digambarkan dengan shaky shot dari Darius Khondji selaku sinematografer, menegaskan kekacauan hidup Marty sejak awal durasi 150 menit berjalan.
Namun sayangnya segala aksi pendek akal Marty yang ditulis Safdie bersama Ronald Bronstein tersebut terasa repetitif dan bersiklus. Mungkin Safdie dan Bronstein ingin menunjukkan kegigihan karakter Marty yang tidak mengenal kata menyerah, walau harus merugikan orang-orang di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri.
Beruntungnya niat tersebut diimbangi oleh usaha Timothée Chalamet dalam membawakan sosok Marty Mauser. Marty Supreme memang menunjukkan usaha dan dedikasi Chalamet terbayar nyata.
Menjalani latihan pingpong 6-7 tahun sejak bertemu Safdie pada 2018, Timothée Chalamet mampu melahap dengan mulus segala adegan pertandingan yang intens.
Namun ia tak lupa melakukan perannya sebagai Marty yang terobsesi amat dalam dengan bakatnya sendiri serta pingpong. Intensitas kontak mata Chalamet menjelaskan itu semua.
Review film Marty Supreme: Terinspirasi dan kemudian diadaptasi secara bebas dari sosok legendaris Marty Reisman, Marty Supreme justru menonjolkan sosok anti-hero Marty Mauser yang narsis dan agaknya paling ambisius yang pernah muncul. (dok. A24 via IMDb) |
Intensitas dalam menghadapi adu lempar bola pingpong di atas meja juga dibawa Safdie di luar arena. Atmosfer film terus bergerak cepat dan penuh masalah tanpa memberikan jeda bagi penonton untuk santai. Belum lagi dengan pola dialog yang saling tumpang tindih bikin situasi terasa agak mencekam.
Selain aksi Chalamet, visual Marty Supreme menjadi salah satu hal yang mampu membawa konteks lebih kepada penonton. Safdie bersama Ronald Bronstein mampu menyatukan kepingan-kepingan gambar indah yang diambil Khondji.
Mulai dari pemukiman kumuh Lower East Side New York yang kental dengan budaya Yahudi pasca-Perang Dunia II, kemewahan hotel di London, hingga atmosfer Tokyo yang jauh berbeda dari Amerika, semua disampaikan dengan baik.
Belum lagi dengan musik yang disusun Daniel Lopatin untuk menemani kekacauan hidup Marty Mausser dan jatuh-bangunnya hanya untuk bisa terbang ke Jepang. Visual dan musik ini yang membuat kegaduhan repetitif akibat Marty Mausser sedikit terobati.
Beruntungnya Safdie cukup tahu diri untuk mengakhiri kisah penuh kekacauan Marty Mausser. Perkembangan karakter yang jelas terlihat, walau di detik-detik terakhir, sebenarnya jadi sajian penutup yang cukup melegakan bagi penonton setelah diikat oleh banyak kekacauan.
Walaupun terasa terlambat, perubahan itu berisi pesan mendalam dari Josh Safdie yang mengungkap sisi humanis dari sosok paling red flag bernama Marty Mauser, bahwa manusia yang sulit dicintai dan paling amoral di Marty Supreme pun akan kembali pada kemanusiaannya pada satu masa.
(end)[Gambas:Video CNN]

Review film Marty Supreme: Terinspirasi dan kemudian diadaptasi secara bebas dari sosok legendaris Marty Reisman, Marty Supreme justru menonjolkan sosok anti-hero Marty Mauser yang narsis dan agaknya paling ambisius yang pernah muncul. (dok. A24 via IMDb)