CERITA DI BALIK LAYAR

Film Anak Macan, Catatan Perjalanan Hidup Amar Haikal Semasa Kecil

CNN Indonesia
Senin, 16 Feb 2026 07:03 WIB
Sutradara Anak Macan (My Plastic Mother), Amar Haikal, bercerita lebih banyak soal film pendek yang berhasil mengamankan syarat ke Oscar tersebut.
Sutradara Anak Macan (My Plastic Mother), Amar Haikal, bercerita lebih banyak soal film pendek yang berhasil mengamankan syarat ke Oscar tersebut. (dok. Podium Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah film pendek asal Indonesia, Anak Macan (My Plastic Mother), berhasil memenangkan kompetisi Best International Short Film di Flickerfest International Short Film Festival 2026, Australia, pada awal Februari 2026.

Kompetisi tersebut merupakan salah satu kompetisi yang diakui oleh Academy Awards alias ajang Piala Oscar yang menjadi salah satu syarat aman sebuah film pendek diajukan ke Oscar kategori Live Action Short Film.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Film tersebut digarap oleh sutradara muda asal Indonesia, Amar Haikal, dan semula adalah tugas akhirnya bersama teman-temannya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang dibimbing oleh sutradara Riri Riza.

Anak Macan (My Plastic Mother) mengikuti seorang bocah bernama Eki yang tinggal di tempat pembuangan akhir sampah Bantargebang. Eki menghadapi dilema saat mendapati tugas membawa barang kesukaan ibunya untuk perayaan Hari Ibu di sekolah. Sementara, Eki sudah lama tak memiliki ibu.

Saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu, Amar yang baru lulus IKJ tahun lalu ini mengatakan dirinya merangkum kisah personalnya semasa kecil dan dituangkan menjadi naskah Anak Macan (My Plastic Mother).

"Sebetulnya mungkin bagian besar dari cerita Anak Macan itu adalah kayak pengalaman masa kecil," kenang Amar. "Banyak sekali momen-momen di masa sekolah itu yang sebetulnya core memory buatku."

"Karena aku dihadapi oleh kenyataan dan dipaksa mengaku sebetulnya, bahwa aku tidak begitu mengenal atau bahkan tidak ingat ibuku tuh seperti apa orangnya," lanjutnya yang mengakui dirinya sejak kecil tumbuh jauh dari ibunya.

Film pendek Anak Macan (My Plastic Mother) karya Amar HaikalAnak Macan (My Plastic Mother) mengikuti seorang bocah bernama Eki yang tinggal di tempat pembuangan akhir sampah Bantargebang. (dok. Podium Pictures)

Melalui perjalanan Eki, Amar mengeksplorasi tema identitas mengenai apakah seorang anak harus menjadi versi yang diinginkan lingkungan, atau berani menjadi dirinya sendiri. Bagi Amar, menyelesaikan film ini juga terasa seperti proses penyembuhan diri.

"Rasanya seperti mengembuskan nafas lega itu sendiri kepada si Eki ini," ujarnya.

Bukan cuma naskah Anak Macan yang berasal dari pengalaman pribadi, pemilihan lokasi di Bantargebang juga tak lepas dari pengalaman Amar. Ia menyebut perkenalannya dengan Bantargebang terjadi pada 2021.

"Kami memutuskan buat menceritakan tentang kehidupan di Bantargebang, khususnya tentang anak yang tinggal di sana. Sebelumnya kami juga sudah melakukan syuting dokumenter 2021 di Bantargebang dan di situ banyak sekali cerita yang kami dapat," ungkap Amar.

Pengalaman yang tak bisa ia lepaskan dari benaknya itu kemudian mengantarkan Amar bersama sejumlah teman kuliahnya yang lain untuk menjadikan cerita tersebut sebagai tugas akhir mereka.

Menjalani produksi di lokasi tempat sampah sekelas Bantargebang tak bisa dibilang mudah. Amar dan tim mengalami berbagai tantangan teknis, seperti berhadapan dengan hujan, angin kencang, hingga ancaman longsor di lokasi.

Anak Macan (My Plastic Mother)Saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu, Amar Haikal mengatakan dirinya merangkum kisah personalnya semasa kecil dan dituangkan menjadi naskah Anak Macan (My Plastic Mother). (dok. Podium Pictures)

Kondisi yang tak terduga ini memaksa Amar untuk terus menyesuaikan naskah secara spontan di lapangan. Alhasil, film ini memiliki nuansa organik dan hyper-realist yang kuat seperti dokumenter.

Sebelum memenangkan penghargaan di Australia, Anak Macan (My Plastic Mother) juga mendapatkan nominasi Film Cerita Pendek Terbaik Piala Citra FFI 2025. Nominasi itu jadi kedua kalinya bagi Amar setelah BISING pada tahun sebelumnya.

Saat ini, Anak Macan (My Plastic Mother) sedang menjalani proses kompetisi di sejumlah festival film lainnya. Namun Amar Haikal berkeinginan untuk membawa pulang film ini dan menayangkannya di kampung halamannya, Jakarta.

"Sebetulnya tahun ini fokus kami adalah bagaimana kami bisa kembali ke Jakarta, dan memutar film ini di Jakarta. Jadi sepertinya akan ada beberapa screening di Jakarta dalam beberapa bulan ke depan, dan juga di kota-kota lain di Indonesia," kata Amar.

Anak Macan (My Plastic Mother)Menjalani produksi di lokasi tempat sampah sekelas Bantargebang tak bisa dibilang mudah. Amar dan tim mengalami berbagai tantangan teknis, seperti berhadapan dengan hujan, angin kencang, hingga ancaman longsor di lokasi. (dok. Podium Pictures)

"Karena sebetulnya ketika membuat film ini, ketika menulis film ini, kami merasakan bahwa ini adalah film untuk orang Jakarta. Pertama, itu adalah syarat pertamanya. Karena sampah-sampah yang kami temukan di Bantargebang itu adalah sampah-sampah kiriman kota Jakarta."

"Jadi rasanya film Anak Macan ini adalah sebuah pertanyaan dan sebuah renungan tentang budaya konsumerisme kita semua sebagai masyarakat kota. Jadi sepertinya akan menyenangkan sekali kalau film ini bisa diputar di layar-layar di Jakarta. Jadi ditunggu saja tanggal-tanggal screening-nya," kata Amar Haikal.

Nantikan obrolan lebih mendalam CNNIndonesia.com bersama Amar Haikal terkait Anak Macan (My Plastic Mother) dalam waktu dekat.

(gis/end)


[Gambas:Video CNN]