Di sisi lain, film garapan sutradara Sim F ini juga menyuguhkan gambaran pahitnya kehidupan etnis China di era Orde Baru yang dialami oleh Susi Susanti sendiri.
Susi Susanti (diperankan Laura Basuki) tumbuh di tanah kelahirannya Tasikmalaya bersama orang tua dan satu orang kakak, Rudy. Ibu Susi merupakan seorang pengusaha bakpau, sementara ayahnya, Rishad Haditono (Iszur Muchtar) adalah mantan atlet PON.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak terima si kakak diejek, Susi menantang sang juara bertahan bulutangkis di Tasikmalaya untuk bermain dengannya. Susi kecil sukses melumpuhkan lawan dan kemenangan tersebut membuatnya mendapat tawaran berlatih di PB Jaya Raya. Pertandingan yang tak direncanakan itu membuka kiprah Susi Susanti di dunia bulutangkis.
Dalam usahanya, Susi mendapatkan sokongan termasuk dari sang idola Rudy Hartono (diperankan Irwan Chandra) yang memberinya pesan bahwa bakat saja tidak cukup, tapi butuh kerja keras serta kedisiplinan.
Film 'Susi Susanti: Love All' menunjukkan gambaran menjadi atlet yang datang dari etnis tertentu di masa Orde Baru. (Foto: Time International Film) |
Gemblengan Sia sukses membuat Susi mendapatkan pengakuan internasional setelah memenangkan medali emas Olimpiade pertama untuk Indonesia Olimpiade Barcelona 1992.
Di sisi lain, kisah ini juga menampilkan masa-masa saat Susi menemukan tambatan hatinya, Alan Budikusuma (Dion Wiyoko) di pelatnas.
Secara garis besar, film yang memberi gambaran hidup Susi pada 1980-an hingga akhir '90-an dengan cukup apik. Selain menyuguhkan drama perjuangan Susi sebagai legendaris bulutangkis, film ini juga dibumbui kisah romansa dan konflik pada era itu.
Sim F cukup berhasil mengemas film dengan sejumlah catatan. Adegan puncak saat kemenangan Susi di Olimpiade Barcelona 1992 terasa nanggung. Ada bagian yang rasanya tak tuntas, tak sedramatis peristiwa aslinya atau bahkan trailer yang sempat dirilis lebih awal.
Meski Susi Susanti ikut dilibatkan secara pribadi, tapi berdasarkan beberapa sumber, sejumlah referensi sejarah dalam film ini masih ada yang kabur. Salah satunya adegan kehadiran Mangombar Ferdinand Siregar di final Olimpiade Barcelona 1992, yang menyaksikan pertandingan dari tribun kehormatan bersama Try Sutrisno.
Dalam buku biografinya Matahari Olahraga Indonesia, Siregar menyebut tak bisa menyaksikan laga itu karena sedang masa pemulihan pasca-operasi jantung.
Namun, terlepas dari beberapa detail yang masih kurang, film ini merupakan sebuah bentuk sejarah yang dikemas dengan menarik. Bahkan, bisa dikatakan menjadi kesegaran dalam membangkitkan rasa nasionalisme jelang perayaan Sumpah Pemuda.
'Susi Susanti: Love All' menjadi pilihan menarik jelang Hari Sumpah Pemuda. (Foto: Time International Film) |
Susi sendiri menyatakan bahwa sebelum bertanding di Olimpiade Atlanta, statusnya sebagai WNI belum jelas.
Tak hanya status yang tak jelas, mereka pun mendapat perlakuan tidak adil oleh tindakan rasisme. Gambaran ini menjadi pengingat sekaligus tamparan bagaimana Indonesia seharusnya bersatu, tanpa diadu oleh persoalan perbedaan ras, suku, dan sebagainya.
Salah satu karakter yang cukup menarik perhatian yakni Kelly Tandiono sebagai Sarwendah. Dengan luwes, Kelly hadir sebagai penyegar serta penghibur di tengah drama film ini.
Di samping soal gambaran cerita filmnya, secara sinematografi, warna, serta musik scoring Susi Susanti: Love All patut mendapatkan apresiasi lebih.
Secara keseluruhan, film biopik Susi Susanti ini merupakan salah satu yang tak boleh dilewatkan. (agn/rea)
Film 'Susi Susanti: Love All' menunjukkan gambaran menjadi atlet yang datang dari etnis tertentu di masa Orde Baru. (Foto: Time International Film)
'Susi Susanti: Love All' menjadi pilihan menarik jelang Hari Sumpah Pemuda. (Foto: Time International Film)