Ulasan Film: 'Kucumbu Tubuh Indahku'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 26/04/2019 16:03 WIB
Ulasan Film: 'Kucumbu Tubuh Indahku' Melalui 'Kucumbu Tubuh Indahku', Garin Nugroho sebenarnya memotret hal lebih luas dibanding sekadar film bertema LGBT yang menuai petisi dan kontroversi. (dok. Fourcolours Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kucumbu Tubuh Indahku sebenarnya bisa saja hanya mengisahkan perjalanan batin berliku seorang penari Lengger Lanang, namun Garin Nugroho mencoba memotret hal yang lebih luas dari sekadar kisah seorang penari, yaitu penghakiman sepihak.

Kisah Kucumbu Tubuh Indahku mencerminkan sikap sebagian masyarakat Indonesia yang konon beragam namun faktanya sulit menerima perbedaan. Hal ini kemudian menekan sebagian pihak lainnya hingga menghadapi berbagai kesulitan menjalani hidup.

Dalam film ini, kesulitan yang dialami Arjuno (Muhammad Khan) berkaitan dengan identitas ekspresi gender sejak kecil yang sudah membuat dia sulit untuk berkomunikasi.


Ditambah dengan penghakiman dari lingkungan tanpa sifat rasa kemanusiaan atau empati, tak heran bila begitu banyak beban hidup yang Juno rasakan di usianya yang belum matang.


Di sisi lain, pelampiasan hasrat diri dari sosok Arjuno pada tarian Lengger Lanang ternyata juga tak menolong untuk membuat masyarakat mengerti.

Juno masih saja mengalami kesulitan mengejar renjananya itu. Dalam hal ini mimpi film Hollywood ala 'La La Land' tak berlaku di Indonesia, atau memang film Barat kelewat utopis.

Padahal, tarian Lengger Lanang sebenarnya awam dibawakan oleh laki-laki di kawasan Banyumas, Jawa Tengah. Tarian itu diketahui sudah ada sejak Abad ke-18 dan tercatat dalam Serat Centhini. Namun masyarakat -yang dalam film disebut berlatar di era reformasi- menolaknya.

Arjuno sejak kecil mengalami konflik batin terkait identitas gender yang ia alami. Arjuno sejak kecil mengalami konflik batin terkait identitas gender yang ia alami. (Fourcolours Films)

Selain itu, Garin Nugroho mencoba menampilkan bahwa kelompok marjinal yang diwakili oleh Arjuno dan teman-teman lenggernya menjadi korban dari kepentingan politik segelintir orang.

Fenomena tersebut juga sebenarnya terjadi di dunia nyata. Seringkali, demi politik, kelompok minoritas dijadikan tumbal alih-alih mendapat perlindungan atau hak yang sama dengan kelompok mayoritas.

Bukan hanya itu, catatan penting dari film ini adalah kebudayaan asli Indonesia kerap menjadi korban politik, seperti dicap sebagai wadah komunisme, klenik, atau menentang agama.


Padahal, kebudayaan itu sendiri lahir dari masyarakat yang kemudian coba dikebiri demi budaya juga ego segolongan pihak.

Berbagai potret sosial tersebut coba dibawakan Garin Nugroho sesuai dengan gayanya yang artistik dan 'festival'. Meski, harus saya akui, 'Kucumbu Tubuh Indahku' terasa lebih pop dibandingkan karya Garin sebelumnya sekaligus yang akhirnya bisa saya -agak- mengerti.

Meskipun begitu, film dengan karakter lintas gender apalagi menyinggung soal orientasi seksual yang berbeda dibandingkan pemahaman umum masyarakat memang tidak mudah untuk dibuat. Bahkan untuk seorang Garin Nugroho.

'Kucumbu Tubuh Indahku'Kucumbu Tubuh Indahku' menampilkan tarian tradisional Indonesia. (dok. Fourcolours Films)

Dalam konteks film, Garin menampilkan fenomena sosial dalam film ini sebenarnya sah-sah saja karena menayangkan potret faktual. Namun karena bersinggungan dengan hal yang sensitif bagi pemahaman masyarakat saat ini, konten tersebut mesti disampaikan dengan hati-hati agar tak menimbulkan stigma.

Langkah hati-hati tersebut sebenarnya tampak sudah dipikirkan Garin pada aspek penyampaian konflik identitas gender yang dialami Juno.

Garin -dengan latar budayanya yang kental akan Jawa- menunjukkan ekspresi gender Juno melalui perawakan dan tampilan karakter tersebut yang kental dengan nuansa feminin seperti lemah lembut, tak banyak bicara, tatapan sayu, hingga lekuk dan isyarat gerak tubuh.


Namun tampilan tersebut yang kemudian ditempelkan pada pekerjaan Juno sebagai seorang penari, sebenarnya rawan memberikan stigma.

Dalam bahasa awam, masyarakat bisa memberikan cap "lelaki penari gemulai memiliki orientasi seksual yang berseberangan dengan pemahaman umum".

Hal ini yang perlu diperhatikan dalam membuat film dengan karakter utama lintas gender, apalagi orientasi seksual, oleh banyak pihak, bukan hanya sineas dan media.

[Gambas:Youtube]

Selain itu, tampaknya film yang telah rilis pada 18 April lalu ini telah mengalami banyak sensor atau memang ada bagian cerita yang sengaja dibuang. Hal ini terlihat dari sejumlah bagian film yang terasa jumping sehingga meninggalkan kehampaan logis bagi penonton, meskipun masih bisa dinikmati hingga akhir.

Meski begitu, saya harus menyebut bahwa Kucumbu Tubuh Indahku memiliki banyak makna dan pesan kemanusiaan alih-alih hanya sekadar film LGBT seperti dituduhkan petisi ber-75 ribu tanda tangan yang viral akhir-akhir ini.

Film ini harus dilihat dengan pikiran terbuka dan memandang bahwa dunia itu bukan sekadar hitam-putih. Dan itu menjadi tantangan bagi Garin Nugroho untuk menampilkan film berisi kisah nyata bagi masyarakat yang kini pikirannya mulai menyempit dan gemar menghakimi melalui dunia maya. (end)