Nasib Tari Lengger di 'Kucumbu Tubuh Indahku,' Nyaris Punah

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 25/04/2019 14:41 WIB
Nasib Tari Lengger di 'Kucumbu Tubuh Indahku,' Nyaris Punah Tari Lengger dalam 'Kucumbu Tubuh Indahku' dan membuat film garapan Garin Nugroho itu kontroversial, sejatinya sudah ada di Indonesia sejak abad ke-18. (dok. Fourcolours Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tari Lengger yang mewarnai perjalanan Juno, tokoh dalam film Kucumbu Tubuh Indahku dan menjadikannya kontroversi karena disebut menampilkan isu LGBT itu, sejatinya adalah budaya asli Indonesia. Tarian itu bahkan diduga sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit.

Konon, Tari Lengger bahkan tercatat dalam Serat Centhini, sastra asli Jawa, berkat tulisan tiga sastrawan yang diutus Mangkunegaran VII keliling Jawa pada sekitar abad ke-18.

Mereka menemui tarian itu di daerah yang kini dikenal sebagai Banyumas.



Tarian Lengger pun disebut asli Banyumas. Penyebutannya saja berasal dari bahasa Jawa, leng yang berarti lubang dan menjadi simbol perempuan serta ger dari kata jengger yang berarti mahkota ayam, dikenal juga sebagai simbol laki-laki.

Seperti kata sutradara Garin Nugroho dalam keterangan pers resmi Kucumbu Tubuh Indahku yang diterima CNNIndonesia.com, "seorang penari Lengger harus menampilkan sisi maskulin dan feminin dalam satu tubuh." Tantangan itu membuatnya memfilmkan kisah penari Lengger.

Kebanyakan penari Lengger adalah laki-laki, yang berdandan, berbusana, dan berlenggok ala perempuan saat tampil di atas panggung untuk menari.

Rianto, sosok penari yang menjadi inspirasi film 'Kucumbu Tubuh Indahku'.Rianto, sosok penari yang menjadi inspirasi film 'Kucumbu Tubuh Indahku'. (dok. Fourcolours Films)



Kalau dulu-sekitar 1930 hingga 1960-an-menjadi hiburan membanggakan asal Banyumas, bahkan pernah dipanggil mantan Presiden Soekarno, kelamaan Tari Lengger memudar seiring stigma LGBT di kalangan masyarakat. Tak sedikit penari Lengger yang dicemooh saat pentas.

Cibiran, cacian, tawaan, larangan, bahkan penggerebekan pernah diterima para penari Lengger. Itu dilakukan bahkan oleh kalangan intelektual, dosen seni sekali pun. Tak dipungkiri, Lengger tersisih karena banyak yang risih, lantaran ia sensitif akan isu LGBT.

Alhasil, penari Lengger sekarang tinggal segelintir di Banyumas.


Itu diakui Didik Nini Thowok yang dikenal sebagai penari lintas gender. Kepada Tempo ia pernah menyebutkan bahwa penari Lengger menipis karena diskriminasi.

Seperti yang kini terjadi terhadap film Kucumbu Tubuh Indahku. Beredar pesan berantai untuk tidak menonton film itu. Komentar di trailer di YouTube-nya sangat pedas. Muncul pula petisi yang mengajak untuk memboikot film itu karena berbahaya untuk 'anak cucu.'

Sang sutradara, Garin Nugroho menyebut itu sebagai penghakiman massal melalui media sosial, tanpa proses dialog dan penegakan hukum yang berkeadilan. Penggarap Daun di Atas Bantal itu khawatir yang demikian akan melahirkan anarkisme massal.

[Gambas:Youtube]

"Bagi saya, anarkisme massa tanpa proses dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka serta kualitas warga bangsa, memerosotkan daya kerja serta cipta," tulisnya, dalam sebuah catatan yang diterima CNNIndonesia.com Kamis (25/4) melalui produser Ifa Isfansyah.

Kucumbu Tubuh Indahku sendiri bercerita tentang Juno, seorang penari Lengger yang melakukan perjalanan hidup serta tubuh dan akhirnya menerima keindahan kemanusiaannya setelah ditinggal sang ayah. Adalah Rianto, penari Lengger yang menginspirasi Garin. (rsa)