Ulasan Film: 'Homecoming: A Film by Beyonce'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 19/04/2019 17:00 WIB
Ulasan Film: 'Homecoming: A Film by Beyonce' Beyonce membuktikan dirinya bukan hanya mampu menampilkan konser memukau seperti saat Coachella 2018, tapi juga film dokumenter konser 'berstandar tinggi'. (Kevin Winter/Getty Images for Coachella/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada kata yang bisa saya lontarkan saat menyaksikan film 'Homecoming: A Film by Beyonce' di Netflix selain "gila".

Beyonce menunjukkan dirinya sebagai sosok seniman yang mampu menampilkan sebuah karya, baik penampilan di atas panggung maupun dalam bentuk film, dengan monumental dan bersejarah.

Film ini bukan hanya sekadar dokumenter dari penampilan Beyonce di Coachella Valley Music and Arts Festival 2018, melainkan sebagai sebuah catatan impian, harapan, potret budaya, hingga rahasia di balik kesuksesan seorang Queen Bey.


Hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Inilah salah satu yang disampaikan Beyonce dalam film dokumenter konser musik berdurasi dua jam itu.

Selain itu, ekspresi kebanggaan akan identitas diri dan budaya leluhur masyarakat kulit hitam yang dimiliki Beyonce kental terasa dalam narasi, juga tampilan film ini.


Pemikiran Beyonce terasa amat matang untuk semua aspek dalam penampilannya di Coachella, hingga hal mendetail seperti payet kostum. Namun yang mengejutkan, dia juga memikirkan konsep film ini secara bersamaan dengan sempurna.

Hal itu terlihat dari jumlah cuplikan yang digunakan, jumlah kamera, teknis pengambilan gambar, alur cerita, penyuntingan mendetail, hingga efek visual juga suara yang dipakai untuk menghasilkan sebuah penampilan spektakuler Beyonce di Coachella 2018. Semua tersampaikan secara utuh dalam film.

Penampilan Beyonce di Coachella 2018.Penampilan Beyonce di Coachella 2018. (Larry Busacca/Getty Images for Coachella /AFP)

Mampu menampilkan film dokumenter konser dengan memperhatikan 'seabrek' hal tersebut, bersamaan dengan mempersiapkan konser itu sendiri, jelas bukan hal yang mudah. Salah-salah, film tersebut hanyalah sekadar rekaman penampilan semata tanpa bobot cerita.

Jelas dalam film dokumenter ini, Beyonce menyanggupi tantangan tersebut. Bahkan ia melangkah lebih jauh, istri Jay-Z tersebut sudah menetapkan standar yang amat tinggi untuk sebuah 'dokumenter konser'.

Padahal, film ini merupakan proyek dokumenter pertama yang ia garap sendiri mulai dari sebagai penampil, naskah, hingga penyutradaraan. Kasarnya, Homecoming merupakan proyek borongan Beyonce.


Beyonce juga bukan yang pertama membuat film dokumenter dari sebuah penampilan musik. Di Netflix saja, sebelum Homecoming, ada Taylor Swift yang membuat dokumenter 'Reputation Stadium Tour' (2018) dan Lady Gaga dengan 'Five Foot Two' (2017) untuk penampilan Super Bowl 2017.

Namun bila dibandingkan dengan dua film dokumenter musik di Netflix tersebut, saya harus katakan karya Beyonce jauh melebihi capaian keduanya.

Bila Taylor Swift hanya menonjolkan penampilan panggung spektakuler namun minim sentuhan personal sedangkan Lady Gaga terlalu banyak sisi pribadi dibandingkan penampilan di Super Bowl, Beyonce mengombinasikan keduanya.

Beyonce membawakan 32 lagu per konser saat tampil di Coachella 2018.Beyonce membawakan 32 lagu per konser saat tampil di Coachella 2018. (Larry Busacca/Getty Images for Coachella /AFP)

Beyonce menyisipkan kisah personal dan alasan dari konsep penampilan spektakuler di Coachella.

Ia mengisahkan tentang keinginannya masuk ke jaringan sekolah tinggi masyarakat kulit hitam alias Historically Black College and Universities, hingga berbagi beban kala menjalani persiapan konser di tengah masa pemulihan usai melahirkan bayi kembar.

Film ini tak lupa menampilkan kerja keras Beyonce menyiapkan penampilan di Coachella. Mulai dari menyeleksi para penari dan marching band yang berasal dari perguruan tinggi masyarakat kulit hitam, hingga latihan yang tak kenal lelah.


Beyonce diketahui mestinya tampil di Coachella pada April 2017. Namun pada Februari 2017 dia memutuskan menunda penampilan itu karena hamil. Penundaan itu lantas dibayar lunas pada April 2018.

Penampilan tersebut juga dianggap sebagai momen 'kembali' alias 'homecoming' seorang Beyonce ke atas panggung usai melahirkan.

Ia mengaku butuh setahun mempersiapkan penampilan Coachella 2018 yang terdiri dari empat bulan komposisi musik dan audisi, empat bulan latihan tari dan koreografi, dan sisanya mengombinasikan semua konsep.

[Gambas:Instagram]

Usai tampil pada 14 dan 21 April 2018, Beyonce masih memerlukan waktu setahun mematangkan film dokumenter ini hingga memenuhi standarnya sendiri dan rilis pada 17 April lalu di Netflix.

Segala upaya Beyonce, baik di atas panggung dan pada film dokumenter ini, terbayar pantas.

Konser tersebut, selain disebut sebagai 'bersejarah', disaksikan 125 ribu penonton secara langsung, 458 ribu penonton streaming secara bersamaan dan menjadi acara festival paling banyak ditonton streaming. Bukan hanya itu, berkat Beyonce, penonton streaming Coachella melonjak menjadi 41 juta dari seluruh dunia.

[Gambas:Instagram]

Film dokumenter ini pun mendulang pujian kritikus dan penonton. Rotten Tomatoes mencatat Homecoming: A Film by Beyonce mendapat penilaian agregat 100 persen.

Namun terlepas dari segala pujian dan capaian komersial, 'Homecoming' membuktikan bahwa pesan kebanggaan atas budaya diri sendiri bisa disampaikan dengan menawan, spektakuler, menyentuh, namun tetap menghibur nan membuat terkesima. Slay, Bey!

[Gambas:Youtube] (end)