FOTO: Warna-warni Pembuat Layang-layang Afghanistan

AFP PHOTO / Wakil KOHSAR, CNN Indonesia | Selasa, 31/07/2018 07:13 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Membuat dan menerbangkan layang-layang menjadi budaya di Afghanistan, meski sempat dilarang pada masa 1996 sampai 2001.

Layang-layang sudah menjadi budaya di Afghanistan. Penulis Khaled Hosseini membuatnya semakin dikenal lewat bukunya, ‘The Kite Runner’ (2003). (AFP PHOTO / WAKIL KOHSAR)
Padahal membuat dan memainkan layang-layang sempat dilarang pada era 1996 sampai 2001. (AFP PHOTO / WAKIL KOHSAR)
Langit Afghanistan baru kembali dipenuhi layang-layang setelah invasi yang dipimpin Amerika Serikat masuk. Kali ini harganya tidak semurah sebelumnya. (AFP PHOTO / WAKIL KOHSAR)
Membuat layang-layang pun menjadi pekerjaan yang populer. Setiap pedagang bisa menjual ratusan hingga ribuan buah. (AFP PHOTO / WAKIL KOHSAR)
Memproduksi layang-layang pun tidak sulit. Satu buah hanya membutuhkan beberapa menit, mulai memilih buluh bambu, memotongnya sampai menempelkannya dengan kertas warna-warni. (AFP PHOTO / Wakil KOHSAR)
Bisnis itu pun telah turun-temurun. Anak-anak remaja yang orang tuanya merupakan penjual layang-layang pun sudah akrab dengan produksi itu. (AFP PHOTO / WAKIL KOHSAR)
Para perajin layang-layang pun bergelut dengan bisnis itu sampai usia senja. (AFP PHOTO / Wakil KOHSAR)
Layang-layang biasanya banyak dimainkan saat musim dingin. Di musim itu, pedagang bisa menjual 100 ribu sampai 300 ribu layang-layang. (AFP PHOTO / WAKIL KOHSAR)
Salah satu pedagang layang-layang di Kabul mengatakan pada AFP, ia bisa mengantongi US$4.200 atau sekitar Rp60 juta dalam tiga bulan saja. (AFP PHOTO / Wakil KOHSAR)
Musim memainkannya terbatas sampai awal musim semi. Setelah itu, waktunya para perajin untuk memperbarui desain layang-layang mereka dan menambah stok dagangnya. (AFP PHOTO / Wakil KOHSAR)