Layanan Streaming Membuka Peluang Majunya Film Indonesia

Resty Armenia, CNN Indonesia | Jumat, 21/10/2016 13:56 WIB
Layanan Streaming Membuka Peluang Majunya Film Indonesia Ilustrasi menonton streaming. (Dok. Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia -- Majunya dunia film digital membuka banyak peluang bagi sineas Indonesia. Bioskop jadi bukan satu-satunya media menayangkan karya. Kini ada penyedia layanan streaming berbayar yang siap menampung konten-konten lokal, termasuk film pendek maupun nonmainstream.

Sebut saja Iflix, Flik Channel, dan Viddsee yang baru-baru ini ‘menyerbu’ Indonesia. Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (20/10) mereka mengaku sama-sama bertekad mendukung para produser konten lokal di Indonesia. Ketiganya berkomitmen menyediakan film-film Indonesia.

Alex Siregar Manajer Konten Iflix mengatakan, pihaknya berupaya bekerjasama dengan para produser dan distributor agar film-film Indonesia bisa masuk ke layanannya lebih cepat daripada film barat. Iflix juga berencana membuat sendiri sebuah serial berkualitas yang hanya ditayangkan di platform mereka, seperti Netflix dengan Stranger Things dan lainnya.


"Meski kami ingin melakukan bisnis dan mencari uang di sini, kami juga ingin memberikan sesuatu untuk Indonesia. Misal dengan membuat serial yang bekerja sama dengan produser lokal, restorasi film, dan mencoba memberikan celah bagi film-film pendek Indonesia. Sesuatu yang baru, yang belum pernah dilakukan oleh platform lain," katanya.

Alex tak memungkiri, sejauh ini pihaknya baru menyediakan serial barat. Tapi ia punya alasan untuk itu. Menurutnya, itu karena sebagian besar serial di Indonesia punya episode yang sangat banyak. Padahal orang sekarang cenderung menonton serial dengan waktu pendek.

Janji yang sama dilontarkan bos Flik Channel, Lavesh Samtani. Ia bahkan mengaku sudah bekerja sama dengan semua produser film lokal dan mendapatkan lisensi film mereka. Flik Channel juga tengah berupaya mencari dana agar mampu merestorasi lebih banyak film Indonesia. Sejauh ini, katanya, Flik Channel baru berhasil merestorasi 128 film.

"Pada 2010 tantangan terbesar kami adalah dana, karena untuk merestorasi satu film bisa menghabiskan dana Rp2 miliar. Ketika saya di festival film di Perancis, saya baru tahu bahwa restorasi itu dibiayai pemerintah atau yayasan. Sedangkan kami merestorasi 128 film menggunakan dana sendiri," ujarnya membandingkan Indonesia dengan Perancis.

Komitmen Flik Channel tidak cukup sampai di situ. Mereka juga berencana memberikan pelatihan kepada para pelaku industri perfilman. Menurutnya, jumlah sumber daya manusia di industri itu masih sangat terbatas. Namun, ia belum memberi detail bentuk pelatihannya.

Ladang bisnis bagus

Komitmen layanan-layanan streaming itu terhadap film Indonesia juga didasari kepentingan bisnis. Bagi mereka, jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan ladang bisnis bagus. Tak heran beberapa tahun ini mereka berbondong-bondong membuka kantor di Jakarta.

Praktisi Media Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) Auora Chandra mengatakan, dengan makin baiknya infrastruktur dan cepatnya internet di Indonesia, tidak dapat dipungkiri distribusi film digital akan menjadi penting. Indonesia bahkan bisa jadi ‘pengubah.’

Hal itu diamini oleh Alex. Ia menjelaskan, layanan seperti Iflix memudahkan orang-orang yang selama ini harus menyesuaikan jadwal jika ingin menonton tayangan. Dengan layanan streaming, mereka yang kesibukannya berbeda-beda pun bisa menikmati tayangan film digital.

Sebelum masuk ke Indonesia pada pertengahan Juni lalu, Iflix sudah sukses dengan konsep itu di Malaysia. Dari kampung halamannya, layanan streaming yang diciptakan dua tahun lalu itu berkembang ke negara-negara lain, seperti Thailand, Vietnam, Filipina, Amerika Latin.

Ilustrasi konten digital.Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji
Ilustrasi konten digital.
"Fokus kami kepada para pengguna ponsel di negara-negara berkembang, karena ponsel lebih mudah diakses dan harga berlangganan kami hanya Rp39 ribu per bulan,” kata Alex. Sasaran itu tepat sasaran untuk Indonesia, yang menurutnya pengguna mobile jumlahnya besar.

Namun tak dipungkiri, ia butuh usaha ekstra untuk mengubah kebiasaan masyarakat negara berkembang. Selama ini, warga dari negara berkembang terbiasa menonton tayangan konvensional: televisi secara gratis. Menonton streaming, bagi mereka artinya membayar.

“Kami harus mengedukasi bahwa jika Anda ingin menonton tayangan hiburan yang bagus, maka ada harga yang harus dibayar," katanya. Bonusnya, menonton apa saja dan kapan saja, cuma perlu jaringan internet dan membayar harga berlangganan yang biasanya bulanan.

Betapa besar ladang bisnis negara berkembang termasuk Indonesia juga dirasakan pendiri Viddsee, Ho Jia Jian. Viddsee merupakan wadah bagi film-film pendek dari seluruh negara di Asia yang telah melewati proses kurasi khusus. Asalnya dari Singapura, September 2012.

Niatnya merambah pasar Indonesia karena melihat banyaknya komunitas potensial. Ia pun bekerja sama dengan sekolah-sekolah perfilman, berbagai festival film, dan lain-lain.

"Kami baru buka di Indonesia tahun lalu. Namun, sekarang Indonesia sudah menjadi pasar terbesar ke-dua bagi Viddsee. Ini kesempatan yang sangat bagus bagi kami," katanya.

Sementara Lavesh menjelaskan, platform Flik Channel yang dibangunnya sengaja dibuat untuk memberikan jalur khusus bagi film-film Indonesia yang susah mendapat celah di stasiun televisi nasional maupun bioskop. Lavesh mengaku telah bekerja di industri film di Indonesia selama 30 tahun. Ayahnya memiliki koleksi seratusan kopi film lawas.

Ia mengatakan, lima tahun lalu muncul ide untuk membuat Flik Channel. “Karena kami lihat film Indonesia jarang dan susah masuk di televisi nasional,” ujarnya menjelaskan.

Meski harus membayar untuk bisa menikmati tayangan di Flik Channel, Lavesh mengatakan, penonton akan disuguhkan ribuan film Indonesia yang muncul dari tahun 1960-an hingga terbaru. Selain itu, kualitas gambar sudah dalam format high definition (HD).

Lavesh mengatakan, kini ia fokus pada pengadaan konten premium dengan merestorasi film-film lawas dan menyediakan film terbaru secepatnya. Salah satu film yang baru kelar direstorasi adalah Pengabdi Setan karya Siswono Gautama Putra yang dibuat pada tahun 1980.

Lavesh juga mengaku ingin Flik Channel mampu menyebarkan film-film Indonesia ke negara-negara lain seperti Singapura dan Malaysia. Dengan layanan film digital, itu mungkin. (rsa/rsa)