Ardita Mustafa
Penulis adalah lulusan Institut Kesenian Jakarta yang menggemari karya-karya dari band The Velvet Underground dan Sonic Youth.

Jangan Ada Lagi Band Seperti Teen A Bang

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Jumat, 18/03/2016 12:10 WIB
Jangan Ada Lagi Band Seperti Teen A Bang Ilustrasi musik. (Suradech14/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teen A Bang adalah band yang saya bentuk ketika duduk di bangku kuliah pada 2006.

Dari band yang sama sekali tidak terkenal ini, saya menyadari dua hal, selain suara saya yang tidak enak didengar, saya juga sadar kalau ternyata butuh pengorbanan dan dukungan untuk bermusik.

Saat itu, saya mengacu pada pandangan manajer Sex Pistols, Malcolm McLaren, dalam pemilihan personel. McLaren memilih Sid Vicious menjadi personel bukan karena kemampuannya bermain bass, tapi karena kharismanya.


Jadilah saya memilih lima personel band yang masing-masing memiliki kharisma: pemain gitar rhytm yang ganteng, penabuh drum yang gaul dan pemain bass yang gemar nongkrong di kampus.

Hanya dua personel yang benar-benar punya bakat bermusik di Teen A Bang yaitu pemain keyboard dan pemain gitar melodi.

Insting pemilihan personel tidak meleset, sehari setelah band kami terbentuk, seluruh kampus sudah tahu kalau ada band yang bernama Teen A Bang. Dari segi pemasaran awal, kami sudah berhasil.

Kami sepakat memilih aliran musik riot grrrl atau sederhananya punk. Alasannya, kemampuan bermusik kami pas-pasan dan saya hanya bisa berteriak bukan bernyanyi.

Kami pun melakukan sesi latihan yang pertama. Setengah personel sudah mabuk minuman Anggur Kolesom ketika baru masuk studio latihan. Catat, studio latihan bukan panggung konser.

Kami membawakan beberapa lagu Ramones, The Muffins dan Even Worse, sebelum akhirnya tercetus lagu dua lagu baru.

Pulang dari latihan, kami semua berkumpul di kantin kampus. Terdiam. Membentuk band sudah, lalu?

Hingga seorang senior, datang ke meja kami. Sejak malam itu, ia menjadi manajer Teen A Bang.

Ia menyuruh kami rekaman dan mengedarkan lagu, apapun yang terjadi.

"Kalian adalah sejarah. Orang pasti mencari tahu tentang sejarah, baik atau buruknya sejarah itu," kata sang senior.

Dengan bermodalkan uang Rp800 ribu kami lalu rekaman di studio kecil, menggandakan CD dan menjualnya dengan sampul seadanya.

Paginya, saya membagikan 50 keping CD kami itu kepada seluruh personel.

"Jangan ada yang diberikan gratis. Suruh mereka membeli agar menghargai karya kalian," kata sang senior.

Tak disangka, sekitar 20 keping CD dengan harga Rp20.000 per keping terjual, meski rata-rata dari mereka ingin membeli karena naksir salah satu dari kami, kasihan dan terpaksa.

Hasil penjualan CD kami bagi rata dan sisanya kami gunakan untuk makan-makan.

Tidak sampai dua tahun, Teen A Bang membubarkan diri dan tidak pernah menjadi band besar. Kami tidak pernah seterkenal White Shoes atau Mocca.

Untuk melangkah maju memang butuh pengorbanan besar. Teen A Bang tidak maju-maju, karena kami hanya mampu berkorban sampai di pintu gerbang kampus.

Boro-boro suntikan dana untuk promosi, lagu-lagu kami pun disebarkan secara ilegal oleh oknum tidak bertanggung jawab di kampus, dari satu flashdisk ke flashdisk lain.

Mau marah ke siapa? Kami sudah terlanjur malas untuk mengubah nasib.

Melihat para musisi papan atas--yang bermusikalitas jauh lebih dahsyat dibanding Teen A Bang, berusaha melangkah maju, apakah pemerintah sudah memiliki rencana untuk membuat peraturan baru dan badan resmi yang mampu menyelesaikan masalah-masalah mereka, mulai dari pembajakan hingga pencatatan royalti?

Atau pemerintah malah sudah siap melihat Slank, Raisa, Noah dan Iwan Fals bernasib sama seperti Teen A Bang?

(ard/yns)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


ARTIKEL TERKAIT