3 Kampung yang Hilang di Indonesia Muncul Lagi Akibat Kekeringan

CNN Indonesia
Minggu, 01 Nov 2026 09:10 WIB
3 Kampung yang Hilang di Indonesia Muncul Lagi Akibat Kekeringan
Kampung Somang yang hilang ditelan air di Banten muncul lagi akibat kekeringan. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena El Nino yang terjadi pada 2026 menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kekeringan panjang. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya curah hujan serta penyusutan sumber air di berbagai daerah di Indonesia.

Fenomena ini turut memengaruhi kemunculan sejumlah desa dan bangunan yang sebelumnya tenggelam akibat pembangunan waduk dan bendungan.

Ketika permukaan air menyusut, sisa-sisa permukiman, makam, hingga bangunan yang selama bertahun-tahun berada di bawah air kembali muncul dan terlihat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena tersebut terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, dan menjadi perhatian karena permukiman yang muncul mengingatkan kembali di masa-masa kampung itu belum tenggelam.

Berikut 3 kampung atau daerah di Indonesia yang kembali muncul akibat kekeringan panjang.

1. Kampung Somang, Banten

Dampak kekeringan panjang akibat fenomena El Niño membuat elevasi air di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menyusut drastis. Penyusutan debit air tersebut menyebabkan sisa-sisa permukiman warga yang sebelumnya ditenggelamkan demi proyek waduk kembali menyembul ke permukaan.

Fenomena ini salah satunya terlihat di Kampung Somang, sebuah area yang dulunya merupakan kawasan permukiman padat penduduk.

Warga mulai meninggalkan Kampung Somang sejak 2023 untuk proses penggenangan waduk, meski bangunan di sana tidak dihancurkan secara total.

Dampak kekeringan panjang akibat fenomena El Niño membuat elevasi air di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menyusut drastis. Penyusutan debit air tersebut menyebabkan sisa-sisa permukiman warga yang sebelumnya ditenggelamkan demi proyek waduk kembali menyembul ke permukaan.

Fenomena ini salah satunya terlihat di Kampung Somang, sebuah area yang dulunya merupakan kawasan permukiman padat penduduk. Warga mulai meninggalkan Kampung Somang sejak 2023 untuk proses penggenangan waduk, meski bangunan di sana tidak dihancurkan secara total.

2. Permukiman Lama di Waduk Jatigede, Sumedang

Waduk Jatigede berada di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Sebelum dibangun, kawasan tersebut merupakan permukiman warga yang tersebar di sejumlah desa. Pembangunan waduk membuat masyarakat harus meninggalkan tempat tinggalnya.

Penggenangan Waduk Jatigede dilakukan pada 31 Agustus 2015. Sejak saat itu, sejumlah permukiman, jalan, dan lahan yang sebelumnya digunakan masyarakat berada di bawah permukaan air waduk.

Pada 5 September 2026, sisa-sisa permukiman lama kembali terlihat setelah permukaan air waduk menyusut. Penurunan air tersebut membuat garis tepian waduk mundur sekitar 300 meter dan memperlihatkan jalan beraspal, lahan, serta reruntuhan bangunan yang sebelumnya terendam.

3. Makam Lama di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri

Waduk Gajah Mungkur terletak di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sebelum dibangun, kawasan tersebut merupakan permukiman yang mencakup 51 desa di tujuh kecamatan.

Pembangunan waduk pada 1976-1980 membuat penduduk harus meninggalkan tempat tinggalnya. Sebagian masyarakat mengikuti program transmigrasi atau bedol desa.

Pada 9 September 2026, puluhan makam kuno di Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, kembali terlihat setelah permukaan air waduk menyusut.

Makam-makam tersebut biasanya mulai muncul setiap musim kemarau dan kembali terendam ketika musim hujan tiba. Namun, pada 2026, kemunculannya baru terlihat pada September, lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

(dsd/wiw)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA