Perut Tetap Buncit Setelah Melahirkan? Ini Penjelasan Medisnya

CNN Indonesia
Jumat, 30 Okt 2026 17:45 WIB
ilustrasi perut buncit
Ilustrasi. Ada penjelasan medis, kenapa perut tetap buncit setelah melahirkan. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sudah rutin berolahraga, menjaga pola makan, bahkan menjalani berbagai program penurunan berat badan, tetapi perut tetap terlihat menonjol setelah melahirkan? Kondisi ini mungkin membuat sebagian perempuan merasa frustrasi, terlebih ketika berat badan sebenarnya sudah kembali seperti sebelum hamil.

Pilates lima kali seminggu, pola makan sehat, hingga intermittent fasting mungkin telah dijalani. Namun, bagian perut yang terlihat menonjol, terutama dari samping, terkadang tetap sulit diatasi.

Kondisi tersebut tidak selalu berkaitan dengan kurangnya disiplin dalam menjaga bentuk tubuh. Sebab, kehamilan dapat menyebabkan perubahan anatomi yang tidak seluruhnya bisa diperbaiki hanya dengan olahraga atau pengaturan pola makan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan perut tetap menonjol setelah melahirkan adalah diastasis recti. Ini merupakan kondisi ketika otot lurus perut atau rectus abdominis terpisah akibat peregangan selama kehamilan.

Pada kondisi normal, kedua sisi otot tersebut bertemu di bagian tengah perut. Namun, seiring pertumbuhan janin dan pembesaran rahim, jaringan penghubung di antara otot mengalami peregangan untuk menyediakan ruang bagi perkembangan bayi.

Pada sebagian perempuan, otot tersebut tidak kembali ke posisi semula setelah persalinan. Akibatnya, dinding perut kehilangan sebagian kemampuan menopang organ-organ di dalamnya sehingga perut tampak menonjol.

Kondisi ini membuat perut terlihat seperti masih membuncit meskipun berat badan sudah turun. Dengan kata lain, tonjolan tersebut tidak selalu disebabkan oleh penumpukan lemak.

Sit-up, plank, maupun latihan pilates memang dapat membantu memperkuat otot inti. Namun, latihan fisik tidak selalu mampu memperbaiki pemisahan otot yang signifikan. Penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Perubahan kulit dan jaringan setelah kehamilan

Selain perubahan pada otot perut, kehamilan juga dapat memengaruhi elastisitas kulit dan jaringan penyangga tubuh.

Selama sekitar sembilan bulan, kulit perut mengalami peregangan untuk mengakomodasi pertumbuhan janin. Setelah melahirkan, kulit memang dapat berangsur mengencang. Namun, elastisitasnya tidak selalu kembali seperti sebelum kehamilan.

Risiko perubahan ini dapat semakin besar setelah perempuan mengalami kehamilan berulang. Kulit yang kehilangan elastisitas juga bisa menyisakan lipatan atau kelebihan jaringan di area perut.

Jaringan ikat atau fascia yang berperan menopang struktur tubuh turut mengalami perubahan selama kehamilan. Jika peregangan cukup besar, sebagian perubahan tersebut dapat bertahan setelah persalinan.

Kondisi inilah yang membuat hasil olahraga dan program penurunan berat badan berbeda pada setiap perempuan. Mengurangi lemak tubuh tidak otomatis mengembalikan elastisitas kulit maupun memperbaiki struktur otot yang telah mengalami peregangan.

Karena itu, penting untuk memahami bahwa tidak semua perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan merupakan persoalan berat badan. Untuk perempuan yang mengalami kelebihan kulit dan pemisahan otot perut, salah satu pilihan penanganan yang dikenal dalam bedah plastik adalah tummy tuck atau abdominoplasti.

Dalam perkembangannya, terdapat prosedur high-definition tummy tuck (HD tummy tuck) yang menggabungkan pengangkatan kulit berlebih, perbaikan struktur otot perut, serta pembentukan kontur tubuh.

Berbeda dari prosedur pengencangan perut konvensional yang berfokus pada pengangkatan kulit berlebih dan pengencangan dinding perut, pendekatan ini juga dapat mencakup perbaikan diastasis recti melalui tindakan penjahitan kembali otot yang terpisah.

Prosedur tersebut dapat dikombinasikan dengan liposculpture untuk membentuk kontur di area perut, pinggang, hingga punggung. Tujuannya bukan sekadar membuat perut terlihat lebih rata, melainkan menghasilkan proporsi tubuh yang lebih selaras.

Meski demikian, HD tummy tuck merupakan prosedur bedah yang memiliki risiko dan membutuhkan pertimbangan medis matang. Tidak semua perempuan yang memiliki perut menonjol setelah melahirkan membutuhkan tindakan ini.

Pemeriksaan oleh dokter spesialis bedah plastik diperlukan untuk mengetahui apakah keluhan disebabkan oleh pemisahan otot, kelebihan kulit, penumpukan lemak, atau kombinasi beberapa kondisi tersebut.

Dokter Spesialis bedah Plastik di Ultimo Clinic Enrina Diah mengatakan sebagian pasien datang setelah melakukan riset panjang sebelum memutuskan menjalani prosedur HD tummy tuck.

"Pasien yang datang kepada kami biasanya sudah melakukan riset selama satu sampai dua tahun. Mereka tidak datang untuk dijual sesuatu. Mereka datang untuk mendapatkan jawaban yang jujur tentang apa yang bisa dan tidak bisa dicapai," ujarnya.

Menurut pendekatan tersebut, penanganan tubuh setelah kehamilan seharusnya tidak bertujuan mengubah seseorang menjadi orang lain. Fokusnya adalah membantu pasien memahami kondisi anatomi tubuh dan pilihan penanganan yang sesuai dengan kebutuhannya.

(tis/tis)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA