Mahkota Dewa untuk Kesehatan Ginjal, Benarkah Bermanfaat?

CNN Indonesia
Sabtu, 31 Okt 2026 14:10 WIB
Ilustarasi buah mahkota dewa
Ilustrasi. Buah mahkota dewa punya manfaat untuk kesehatan ginjal, tapi hati2 penggunaannya. (Foto: iStockphoto/khai9000)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Mahkota dewa dikenal sebagai tanaman herbal asli Indonesia yang kerap dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional. Selain dipercaya membantu mengatasi sejumlah masalah kesehatan, tanaman dengan nama ilmiah Phaleria macrocarpa ini juga menarik perhatian peneliti karena potensinya dalam melindungi ginjal dari kerusakan.

Salah satu penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan potensi ekstrak mahkota dewa sebagai agen nefroprotektor atau zat yang dapat membantu melindungi ginjal. Penelitian tersebut secara khusus menyoroti kerusakan ginjal akibat penggunaan cisplatin, salah satu obat kemoterapi untuk menangani kanker.

Meski demikian, temuan tersebut masih berasal dari penelitian laboratorium. Artinya, manfaat mahkota dewa untuk kesehatan ginjal belum dapat langsung disimpulkan berlaku pada manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Potensi Mahkota Dewa melindungi ginjal

Penelitian yang dilakukan Meirizky Zulharini S, Annishfia L. R, Siti Nurul H, dan Naisbitt Iman H dari UGM tersebut berangkat dari persoalan efek samping pengobatan kanker.

Cisplatin merupakan obat kemoterapi yang digunakan untuk menangani berbagai jenis kanker, termasuk kanker serviks. Namun, seperti obat kemoterapi lainnya, cisplatin dapat menimbulkan efek samping serius, salah satunya nefrotoksisitas atau kerusakan ginjal.

Dalam penjelasan penelitian yang dipublikasikan UGM pada 2013, Meirizky menerangkan bahwa kerusakan ginjal akibat cisplatin berkaitan dengan stres oksidatif yang dipicu oleh pembentukan radikal bebas. Kondisi tersebut dapat merusak sel-sel ginjal. Karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi stres oksidatif tanpa mengganggu efektivitas pengobatan kanker.

Para peneliti kemudian menguji ekstrak mahkota dewa karena tanaman ini mengandung senyawa flavonoid yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan. Salah satu flavonoid yang disebut dalam penelitian tersebut adalah kaempferol-3-O-β-D-glukosida. Senyawa ini menjadi salah satu alasan mahkota dewa diteliti lebih lanjut sebagai kandidat agen pelindung ginjal.

Bagaimana penelitian Mahkota Dewa dilakukan?

Untuk mengetahui potensinya, tim peneliti melakukan pengujian in vitro di Cancer Chemoprevention Research Center, Fakultas Farmasi UGM. Pengujian dilakukan menggunakan sel Vero sebagai model sel ginjal normal dan sel HeLa sebagai model sel kanker serviks. Tim juga menguji kombinasi cisplatin dan ekstrak mahkota dewa untuk melihat pengaruhnya terhadap viabilitas atau kemampuan sel untuk tetap hidup.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kombinasi cisplatin dan ekstrak mahkota dewa pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan viabilitas sel Vero. Temuan ini mengindikasikan adanya potensi efek perlindungan terhadap sel ginjal dalam kondisi pengujian tersebut.

Namun, penelitian ini belum membuktikan bahwa mengonsumsi buah atau seduhan mahkota dewa dapat mencegah kerusakan ginjal pada pasien kanker. Pengujian pada sel di laboratorium berbeda dengan penggunaan herbal pada manusia, baik dari segi dosis, penyerapan zat aktif, maupun kemungkinan efek samping.

Diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan efektivitas, keamanan, dosis, dan kemungkinan interaksi mahkota dewa dengan obat-obatan.

Hati-hati, buah Mahkota Dewa mengandung racun

Di balik potensinya, mahkota dewa tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Bagian buahnya dapat mengandung senyawa yang berbahaya jika digunakan dengan cara yang tidak tepat, terutama bijinya.

Konsumsi buah mahkota dewa mentah atau bagian yang tidak diolah dengan benar berisiko menimbulkan efek merugikan. Gejala keracunan dapat berupa iritasi pada mulut, pembengkakan, pusing, hingga gangguan yang lebih serius.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap mahkota dewa sebagai herbal yang otomatis aman hanya karena berasal dari tanaman alami. Pengolahan tradisional, seperti mengiris dan mengeringkan buah, juga tidak dapat dijadikan jaminan bahwa racunnya telah hilang atau kadarnya aman.

Hingga keamanan dan dosisnya terbukti melalui penelitian yang memadai, penggunaan mahkota dewa sebagai pengobatan mandiri sebaiknya dihindari.

Jangan mengandalkan Mahkota Dewa untuk mengobati ginjal

Potensi mahkota dewa sebagai pelindung ginjal masih berada pada tahap penelitian awal. Tanaman ini belum dapat menggantikan pengobatan medis untuk penyakit ginjal maupun digunakan sebagai cara yang terbukti mencegah kerusakan ginjal akibat kemoterapi.

Bagi pasien kanker yang menjalani kemoterapi, pemantauan fungsi ginjal oleh dokter tetap penting. Dokter dapat melakukan pemeriksaan darah dan menyesuaikan penanganan berdasarkan kondisi pasien serta jenis obat yang digunakan.

Pasien juga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi produk herbal, terutama ketika sedang menjalani kemoterapi atau menggunakan obat rutin. Kandungan herbal berpotensi menimbulkan interaksi dengan obat dan memengaruhi keamanan pengobatan.

Dengan demikian, penelitian mengenai mahkota dewa membuka peluang untuk menemukan kandidat bahan alami yang berpotensi melindungi ginjal. Namun, bukti ilmiah yang tersedia belum cukup untuk menyebut tanaman ini sebagai obat ginjal. Penelitian lebih lanjut tetap diperlukan sebelum manfaatnya dapat diterapkan secara aman dalam pengobatan manusia.

(tis/tis)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA