Tak Bisa Lindungi Anak, Orang Tua di Jerman Bisa Kehilangan Hak Asuh

CNN Indonesia
Rabu, 28 Okt 2026 16:00 WIB
Perlindungan anak.
Ilustrasi. Orang tua di Jerman bisa kehilangan hak asuh jika dinilai gagal memberikan perlindungan pada anak. (iStockphoto/photocheaper)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mengasuh anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan tempat tinggal. Orang tua juga bertanggung jawab memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman.

Jika tanggung jawab itu tidak terpenuhi hingga keselamatan anak terancam, pengadilan di Jerman bisa turun tangan, bahkan mencabut hak asuh orang tua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengadilan keluarga Jerman (Familiengericht) dapat mengambil langkah yang diperlukan apabila kesejahteraan fisik, mental, atau emosional anak terancam dan orang tua tidak bersedia atau tidak mampu mengatasi ancaman tersebut.

Langkah yang diambil bisa berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan tingkat bahaya yang dihadapi anak. Dalam keadaan tertentu, pengadilan dapat membatasi sebagian hak orang tua atau mencabut hak asuh sepenuhnya.

Berdasarkan data resmi Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis), pengadilan keluarga telah mencabut hak asuh orang tua, baik sebagian maupun seluruhnya, dalam 14.684 kasus sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.045 kasus merupakan pencabutan hak asuh secara penuh, sedangkan 7.639 kasus lainnya berupa pencabutan sebagian.

Apa aturan hukum Jerman soal hak asuh anak?

Aturan mengatur kewenangan pengadilan keluarga untuk mengambil tindakan ketika kesejahteraan anak terancam. Ancaman tersebut dapat berkaitan dengan kondisi fisik, mental, maupun emosional anak.

Pengadilan dapat memerintahkan orang tua menggunakan layanan bantuan publik, termasuk layanan kesejahteraan anak dan remaja atau layanan kesehatan. Pengadilan juga dapat mengambil langkah lain yang diperlukan, mulai dari pembatasan tertentu hingga pencabutan hak asuh sebagian atau seluruhnya.

Persoalan pengasuhan tidak otomatis berujung pada pencabutan hak asuh. Ada pilihan tindakan lain yang dapat ditempuh untuk mengatasi ancaman dan membantu keluarga. Pemisahan anak dari keluarga hanya diperbolehkan jika ancaman terhadap kesejahteraan anak tidak dapat diatasi dengan cara lain, termasuk melalui bantuan pemerintah.

Pencabutan seluruh hak pengasuhan pribadi pun hanya boleh dilakukan jika langkah-langkah lain telah gagal atau diperkirakan tidak cukup untuk melindungi anak.

Anak bisa dipisahkan sementara dari orang tua

Kasus enam anak yang dipisahkan sementara dari orang tua mereka di Menden, Jerman, pada Januari 2026, menjadi salah satu contoh penerapan aturan tersebut.

Mengutip Deutschlandfunk, kasus bermula ketika seorang pengendara melihat anak berusia dua tahun berada di luar rumah saat cuaca sangat dingin. Anak itu hanya mengenakan pakaian tipis dan tanpa alas kaki. Setelah memeriksa tempat tinggal keluarga, petugas menemukan lima anak lainnya.

Keenam anak kemudian menjalani pemeriksaan medis dan dinyatakan berkembang sesuai usia tanpa tanda kekerasan fisik. Meski begitu, otoritas kesejahteraan anak dan remaja (Jugendamt) memutuskan memisahkan mereka sementara dari orang tua karena khawatir terhadap kondisi pengasuhan.

Kasus lain juga terjadi di Stade, Niedersachsen. Mengutip Tages Schau, seorang bayi perempuan dibawa ke rumah sakit pada April 2026 dengan pendarahan otak. Dokter menduga cedera tersebut berkaitan dengan shaken baby syndrome, yaitu cedera serius akibat guncangan keras pada bayi.

Setelah temuan medis itu, hak asuh orang tua dicabut. Ibu dan bayi tersebut awalnya ditempatkan bersama di fasilitas bantuan anak dan remaja. Pemeriksaan ahli kemudian memperkuat dugaan bahwa cedera bayi berkaitan dengan guncangan.

Pencabutan hak asuh bukan hukuman otomatis atas kesalahan pengasuhan, melainkan tindakan hukum yang digunakan ketika langkah lain dinilai tidak cukup untuk menjaga keselamatan anak.

(anm/asr)
LIHAT SELENGKAPNYA