Otoritas Prancis baru saja melaporkan kasus pertama virus shamonda yang memakan satu korban jiwa pada Kamis (23/10). Sebenarnya apa itu virus Shamonda dan berbahayakah bagi manusia?
Menurut otoritas kesehatan Prancis, virus ini tidak memiliki risiko kesehatan bagi masyarakat umum yang teridentifikasi saat ini. Hal ini karena virus ini biasanya hanya menginfeksi hewan ternak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun infeksi pada manusia yang menyebabkan satu orang meninggal, disebut sebagai kasus luar biasa yang melibatkan pasien dengan gangguan imun parah. Pasien tersebut pun dirawat di rumah sakit karena kondisi medis serius.
"Meskipun beredar di Afrika dan Asia selama beberapa dekade, virus Shamonda belum pernah terdeteksi pada manusia sebelumnya," kata otoritas tersebut, seperti diwartakan AFP.
Meski diklaim tak memiliki risiko bagi kesehatan manusia, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui lebih lanjut tentang virus Shamonda ini.
Apa itu virus Shamonda?
Virus Shamonda termasuk dalam kelompok Orthobunyavirus dan biasanya ditularkan ke hewan oleh serangga penggigit kecil, seperti agas. Agas itu sendiri merupakan lalat kecil berwarna abu-abu yang gigitannya terasa pedih dan gatal.
Menurut laman United Nations, virus Shamonda biasanya ditemukan pada hewan ternak, terutama sapi, domba, kambing, kuda, hingga alpaka.
Meski virus diduga menyebar melalui gigitan agas, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan butuh penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana virus tersebut ditularkan.
Adapun menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau WOAH, saat ini belum tersedia vaksin komersial untuk melawan virus Shamonda ini.
Mengutip Reuters, virus ini pertama kali terdeteksi pada sapi di Nigeria tahun 1965. Sejak saat itu, ditemukan kasus serupa di beberapa bagian Afrika lainnya dan Asia.
Adapun virus ini baru diidentifikasi ada di Eropa pada akhir Juli tahun ini. Hingga 20 Oktober, ada lebih dari 12 negara yang melaporkan kasus serupa, seperti di Prancis, Jerman, Spanyol, dan Irlandia.
Pada hewan ternak yang terinfeksi, gejala yang muncul, antara lain demam, diare, dan penurunan produksi susu.
Komplikasi lebih serius, seperti aborsi dan malformasi janin yang parah juga dapat terjadi. Adapun gangguan neurologis juga telah dilaporkan pada beberapa kuda.
Meski demikian, WOAH menyatakan dampak jangka panjang dari varian Eropa masih belum bisa dipastikan.
Lalu, berbahayakah virus ini bagi manusia?
WHO menyatakan, berdasarkan informasi dan pengetahuan terkini tentang penularan virus Shamonda, kasus kematian yang terjadi pada manusia kecil kemungkinannya untuk menyebabkan penyebaran lebih luas saat ini.
Seperti disebutkan sebelumnya, kasus kematian di Prancis disebut sebagai kejadian luar biasa karena pasien sudah memiliki riwayat kekebalan tubuh rendah.
Otoritas Prancis mengatakan, komplikasi otak pasien sangat mungkin terkait dengan Shamonda, meski penyelidikan terhadap infeksi dan kematian masih berlanjut.
Shamonda sendiri bukanlah penyakit yang terdaftar di WOAH. Oleh karena itu, negara-negara tidak diwajibkan untuk memberi tahu WOAH tentang kasus-kasus berdasarkan kewajiban pelaporan khusus penyakitnya.
Penyakit ini juga tidak terdaftar dalam kerangka Hukum Kesehatan Hewan Uni Eropa, yang berarti tidak tunduk pada pengawasan wajib khusus penyakit Uni Eropa.
(rti)
