Pernah bertemu seseorang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian? Perilakunya mungkin membuat orang di sekitarnya merasa kurang nyaman. Namun, apakah orang tersebut memang sedang mencari perhatian atau hanya memiliki cara berkomunikasi yang berbeda?
Orang yang suka mencari perhatian kerap disebut caper. Perilaku ini bisa muncul dalam percakapan sehari-hari, lingkungan pertemanan, hingga media sosial.
Ada yang sengaja melakukannya agar diperhatikan, tetapi ada pula yang tidak menyadari bahwa tindakannya membuat orang lain merasa terganggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, mencari perhatian tidak selalu berarti seseorang memiliki niat buruk. Terkadang, perilaku tersebut muncul karena seseorang ingin merasa dihargai, membutuhkan dukungan emosional, atau kurang percaya diri.
Lantas, apa saja ciri-ciri orang caper yang bisa dikenali dari perilakunya?
1. Bersikap berlebihan agar diperhatikan
Salah satu ciri-ciri orang caper adalah menunjukkan reaksi yang berlebihan terhadap situasi tertentu. Mengutip Cleveland Clinic, perilaku dramatis dan kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian dapat muncul dalam pola perilaku tertentu.
Contohnya, membesar-besarkan masalah kecil, berbicara dengan nada dramatis, atau menunjukkan emosi yang kuat agar orang lain tertarik untuk bertanya.
Perilaku ini mungkin membuat suasana menjadi lebih ramai. Namun, jika terus terjadi, orang-orang di sekitarnya bisa merasa lelah menghadapi reaksi yang berlebihan.
Meski demikian, reaksi emosional yang kuat tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang sedang mencari perhatian. Perlu dilihat pula konteks dan pola perilakunya.
2. Sering memancing konflik atau perdebatan
Orang yang ingin mendapatkan perhatian terkadang melontarkan pernyataan kontroversial untuk memancing reaksi. Mereka mungkin mengangkat topik sensitif atau memberikan komentar yang sengaja memancing emosi orang lain.
Akibatnya, percakapan yang awalnya berlangsung santai bisa berubah menjadi perdebatan panjang. Situasi ini dapat membuat orang lain ikut terlibat, bahkan ketika persoalan yang dibahas sebenarnya tidak terlalu penting.
Namun, memiliki pendapat berbeda atau menyampaikan pandangan kontroversial bukan berarti seseorang pasti caper. Penting untuk melihat apakah perilaku tersebut berulang dan memang bertujuan memancing perhatian.
3. Sering mencari pujian dan pengakuan
Ciri lainnya adalah kebutuhan untuk terus mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Seseorang dengan perilaku ini mungkin berulang kali membicarakan pencapaian, barang yang dimiliki, hubungan asmara, atau kelebihan dirinya.
Di media sosial, kebiasaan tersebut juga bisa terlihat melalui unggahan yang seolah-olah merendahkan diri sendiri, tetapi kemudian diikuti harapan agar orang lain memberikan pujian. Keinginan untuk dihargai sebenarnya merupakan hal yang wajar. Setiap orang membutuhkan pengakuan dalam kadar tertentu.
Namun, kebutuhan akan pujian patut diperhatikan jika terus-menerus muncul hingga mengganggu hubungan dengan orang lain atau membuat seseorang sulit menerima kritik.
4. Membuat unggahan yang mengundang rasa penasaran
Media sosial menjadi salah satu tempat seseorang mengekspresikan diri sekaligus mencari perhatian. Orang yang ingin mendapatkan respons terkadang membuat unggahan samar, seperti menulis kalimat sedih tanpa penjelasan, memberikan sindiran yang tidak ditujukan secara jelas kepada siapa pun, atau membagikan pernyataan yang mengundang banyak pertanyaan.
Unggahan semacam itu bisa membuat orang lain penasaran dan terdorong untuk mengirim pesan pribadi. Namun, alasannya tidak selalu untuk mencari perhatian. Bisa saja orang tersebut memang sedang mengalami masalah dan belum siap menceritakannya secara terbuka.
Karena itu, jangan langsung berasumsi bahwa unggahan yang terkesan misterius dibuat demi mendapatkan perhatian. Jika merasa khawatir, lebih baik bertanya secara langsung daripada membuat kesimpulan sendiri.
5. Tidak nyaman ketika perhatian beralih kepada orang lain
Seseorang yang sangat membutuhkan perhatian mungkin merasa kesal, iri, atau tersisih ketika orang lain menjadi pusat pembicaraan. Misalnya, ia menyela cerita teman, mengalihkan topik pembicaraan kembali kepada dirinya, atau menunjukkan ketidaksenangan ketika orang lain mendapat pujian.
Jika terjadi berulang kali, perilaku tersebut dapat membuat percakapan terasa tidak seimbang. Orang lain mungkin merasa tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara atau menceritakan pengalamannya.
Meski begitu, sesekali merasa iri atau tersisih merupakan hal yang manusiawi. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mengelola perasaan tersebut dan memperlakukan orang lain.
6. Membesar-besarkan cerita atau masalah
Ciri-ciri orang caper lainnya dapat terlihat dari kebiasaannya menceritakan suatu kejadian secara dramatis agar lebih menarik perhatian. Seseorang mungkin melebih-lebihkan pengalaman yang dialami atau menggambarkan masalahnya dengan cara yang memancing simpati.
Dalam beberapa situasi, ia juga bisa berulang kali menceritakan kesulitan pribadi agar orang lain memberikan dukungan atau perhatian lebih. Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa seseorang berbohong atau berpura-pura hanya karena ceritanya terdengar dramatis.
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menyampaikan pengalaman dan mengungkapkan emosi. Jika ada hal yang terasa janggal, kamu bisa menanyakan bagian yang belum jelas tanpa meremehkan perasaannya.
7. Mengabaikan batasan orang lain
Salah satu perilaku yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang terus memaksa orang lain memberikan perhatian meskipun sudah diminta berhenti. Contohnya, terus mengganggu teman yang sedang sibuk, berulang kali menghubungi seseorang yang meminta ruang pribadi, atau sengaja membuat keributan agar orang lain merespons.
Perilaku tersebut bukan sekadar persoalan mencari perhatian, tetapi juga berkaitan dengan penghormatan terhadap batasan pribadi. Jika mengalaminya, sampaikan batasan secara jelas dan tegas.
Kamu tidak harus selalu merespons setiap permintaan perhatian, terutama jika hal tersebut mengganggu kenyamanan atau aktivitas sehari-hari. Jika perilakunya mengancam keselamatan, utamakan keamanan diri dan cari bantuan dari orang yang dapat dipercaya.
Jangan buru-buru menilai seseorang caper
Mengenali ciri-ciri orang caper dapat membantu memahami dinamika dalam hubungan sosial. Namun, satu atau dua perilaku saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang selalu mencari perhatian.
Perilaku seseorang perlu dipahami berdasarkan konteks, frekuensi, dan dampaknya terhadap orang lain. Kebutuhan untuk diperhatikan juga bisa muncul karena berbagai alasan, termasuk keinginan untuk diterima, kebutuhan akan dukungan, atau kesulitan mengungkapkan perasaan.
Alih-alih langsung memberi label, cobalah berkomunikasi secara terbuka dan menetapkan batasan yang sehat. Dengan begitu, kamu tetap bisa menjaga kenyamanan diri tanpa terburu-buru menghakimi orang lain.
(sac/tis)

