Tudung Saji Bukan Sekadar Penutup Makanan, Ini yang Perlu Diperhatikan
Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Sabtu, 31 Okt 2026 10:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto: iStockphoto/Vladimir Mironov
Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam keseharian rumah tangga di Indonesia, pekerjaan di dapur tak selalu selesai setelah memasak. Piring dan mangkuk berisi lauk biasanya ditata di meja makan, lalu ditutup dengan tudung saji agar makanan terlindungi hingga waktunya disantap.
Kebiasaan itu sudah lama dilakukan Putri (23). Sejak kecil, ia terbiasa melihat ibunya menutup masakan dengan tudung saji. Kebiasaan tersebut kemudian ia bawa saat tinggal di kos.
"Dari dulu di rumah, masakan ibu pakai tudung saji. Sekarang di kosan juga jadi meniru kebiasaan itu," kata Putri saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (16/10).
Setelah memiliki dapur sendiri di kos, Putri lebih sering memasak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia biasanya memasak sekali untuk disantap beberapa kali, termasuk pada malam hari. Agar makanan tidak dibiarkan terbuka, ia menggunakan tudung saji berbahan akrilik.
Bagi Putri, tudung saji menjadi pilihan praktis. Sebelum memilikinya, ia terkadang menutup makanan menggunakan piring lain.
"Menurutku ya efektif aja sih. Soalnya, biasanya pas awal-awal nutup pakai piring satunya. Kalau gorengan pakai tisu doang. Terus jadi kebutuhan, ya sudah deh, butuh tudung saji," ujarnya.
Bagi sebagian orang, tudung saji mungkin hanya menjadi perlengkapan dapur sederhana. Namun, benda ini juga mencerminkan kebiasaan rumah tangga yang terus terbawa, bahkan ketika seseorang mulai hidup mandiri.
Di Bangka Belitung, tudung saji juga menjadi bagian dari tradisi Nganggung yang dijalankan masyarakat Melayu. Dalam tradisi ini, warga membawa dulang berisi makanan yang ditutup dengan tudung saji. Hidangan tersebut kemudian dibawa ke masjid, surau, atau tempat berkumpul untuk disantap bersama.
Tradisi ini juga dikenal dengan istilah Sepintu Sedulang, yang menggambarkan semangat gotong royong masyarakat. Nganggung bukan sekadar kegiatan membawa makanan untuk disantap bersama. Berbagai unsur di dalamnya, mulai dari wadah untuk membawa hidangan hingga cara makanan disajikan, turut menjadi bagian dari pelaksanaan tradisi.
Penelitian dari Universitas Bangka Belitung turut membahas peran Nganggung dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat Melayu Bangka. Penelitian tersebut juga menyoroti perubahan dalam pelaksanaannya, termasuk penggunaan rantang atau kotak nasi sebagai pengganti dulang dan tudung saji.
Tudung saji kini hadir dalam berbagai bentuk dan bahan. Selain model tradisional berbahan jaring, tersedia pula tudung saji berbahan akrilik hingga baja nirkarat (stainless steel) dengan desain yang lebih modern.
Putri menyadari perubahan tersebut. Menurutnya, tudung saji yang dijual saat ini memiliki bentuk yang lebih beragam. Model berbahan jaring pun tidak selalu menyerupai tudung saji tradisional yang selama ini dikenal.
"Jaringnya juga enggak kayak yang dulu. Lebih kokoh, lebih estetik," katanya.
Pilihan yang beragam membuat tudung saji bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan ruang yang tersedia. Sebagian orang memilih model jaring karena ringan dan memiliki sirkulasi udara, sedangkan yang lain menyukai model akrilik karena bentuknya lebih tertutup.
Namun, selain mempertimbangkan bentuk dan bahan, ada hal yang tak kalah penting, yakni memastikan makanan tetap aman dikonsumsi.
Tudung Saji Bukan Sekadar Penutup Makanan, Ini yang Perlu Diperhatikan
Ilustrasi. Tudung saji kerap digunakan untuk menutup makanan. (Foto: iStock/MielPhotos2008)
Tidak cukup hanya ditutup tudung saji
Tudung saji dapat membantu melindungi makanan dari debu dan serangga. Namun, penggunaan penutup ini tidak serta-merta membuat makanan aman disimpan dalam waktu lama.
Ahli gizi Adisty Pavitasari menjelaskan bahwa menutup makanan dengan tudung saji merupakan salah satu langkah untuk mencegah kontaminasi fisik. Meski demikian, keamanan makanan matang juga bergantung pada suhu dan lamanya makanan dibiarkan sebelum dikonsumsi.
"Kebiasaan menutup makanan dengan tudung saji tidak apa dilakukan untuk mencegah kontaminasi fisik seperti debu dan hewan," ujar Adisty, Senin (19/10).
Ia mengingatkan bahwa makanan matang sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Rentang suhu sekitar 5-60 derajat Celsius dikenal sebagai danger zone atau zona bahaya, yakni kondisi ketika bakteri dapat berkembang biak dengan cepat.
Menurut Adisty, makanan matang sebaiknya tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam. Karena itu, makanan yang tidak segera dikonsumsi perlu disimpan dengan cara yang tepat.
Salah satu bakteri yang perlu diwaspadai adalah Bacillus cereus, yang dapat ditemukan pada nasi. Jika nasi matang dibiarkan terlalu lama pada suhu yang tidak aman, bakteri ini berisiko menyebabkan keracunan makanan.
Karena itu, makanan matang yang tidak langsung disantap sebaiknya segera disimpan di lemari pendingin, bukan hanya ditutup dengan tudung saji. Cara penyimpanan juga perlu diperhatikan untuk mencegah kontaminasi silang.
"Jangan biarkan nasi dan makanan matang berada di suhu ruang lebih dari dua jam. Segera konsumsi atau masukkan ke dalam kulkas jika tidak langsung dimakan," sarannya.
Adisty juga menyarankan penggunaan wadah kedap udara untuk menyimpan makanan di lemari pendingin. Wadah tersebut dapat membantu melindungi makanan dari kontaminasi silang dengan makanan lain maupun paparan dari lingkungan penyimpanan.
Jaring atau akrilik, mana yang lebih baik?
Selain waktu penyimpanan, bahan tudung saji juga perlu diperhatikan. Tudung saji berbahan jaring memungkinkan sirkulasi udara lebih baik sehingga uap makanan tidak mudah terperangkap. Sebaliknya, model akrilik yang lebih tertutup berpotensi menahan uap panas jika langsung digunakan untuk menutup makanan yang baru selesai dimasak.
Menurut Adisty, perbedaan sirkulasi udara tersebut berpengaruh terhadap kelembapan di dalam tudung saji. Pada model akrilik, uap panas yang terperangkap dapat mengembun dan membentuk titik-titik air pada bagian dalam penutup.
Kondisi lembap dapat mendukung pertumbuhan mikroba jika penanganan makanan tidak tepat. Karena itu, makanan perlu ditangani dengan benar sebelum ditutup.
"Jika menggunakan tudung saji akrilik, pastikan makanan sudah tidak lagi mengeluarkan uap panas saat ditutup agar tidak terjadi kondensasi atau tetesan air yang dapat memicu pertumbuhan mikroba," jelasnya.
Di sisi lain, tudung saji berbahan jaring juga memiliki kekurangan. Celah pada bahan tersebut memungkinkan debu halus masuk dan mengontaminasi makanan.
"Celah kecil pada tudung saji jaring masih memiliki risiko debu halus masuk ke dalam makanan," tutur Adisty.
Dengan demikian, pemilihan tudung saji dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dapur. Model jaring maupun akrilik sama-sama dapat membantu melindungi makanan dari paparan lingkungan, tetapi keduanya bukan pengganti cara penyimpanan yang aman.