Pernah melihat anak asyik mengobrol dengan bonekanya sendiri? Ada yang pura-pura menyuapi boneka, mengajaknya tidur, bahkan menegurnya seolah-olah sedang berbicara dengan orang sungguhan.
Bagi orang dewasa, pemandangan ini mungkin terasa menggemaskan sekaligus mengundang rasa penasaran. Mengapa anak bisa berbicara dengan benda mati seolah-olah boneka itu punya perasaan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perilaku ini bisa menjadi bagian dari permainan imajinatif. Saat bermain, anak dapat menciptakan karakter, membuat cerita, dan membayangkan apa yang dipikirkan atau dirasakan tokoh dalam permainannya.
Bermain boneka bukan sekadar bermain
Mengutip jurnal Developmental Science, anak lebih banyak menggunakan bahasa yang berkaitan dengan pikiran, keinginan, dan perasaan orang lain ketika bermain boneka dibandingkan saat bermain tablet.
Perbedaan ini terutama terlihat ketika anak bermain sendiri. Misalnya, anak berpura-pura bonekanya sedang sedih, lalu bertanya, "Kamu kenapa sedih? Kangen mama, ya?"
Dalam permainan tersebut, anak membayangkan boneka memiliki perasaan tertentu, lalu membuat percakapan berdasarkan perasaan yang dibayangkannya.
Bermain boneka bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk membicarakan pikiran dan perasaan orang lain. Hal ini berkaitan dengan social cognition, yaitu kemampuan memahami pikiran, perasaan, dan perilaku orang lain.
Mengapa boneka bisa dianggap seperti teman?
Saat bermain, anak tidak selalu memperlakukan boneka sebagai benda biasa. Mereka bisa memberinya nama, kepribadian, bahkan peran tertentu.
Boneka bisa menjadi bayi yang harus diberi makan, pasien yang perlu diobati, atau teman yang diajak bercerita. Anak kemudian mengembangkan percakapan sesuai dengan karakter yang dibuatnya.
Mengutip studi Developmental Psychology, anak yang memiliki teman imajiner berupa benda cenderung memperlakukan benda tersebut sebagai sesuatu yang perlu dirawat. Hal ini membantu menjelaskan bagaimana anak dapat memberikan identitas dan peran kepada benda yang mereka miliki.
Apakah anak yang suka ngobrol dengan boneka berarti kesepian?
Kebiasaan berbicara dengan boneka atau menciptakan teman imajiner tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda anak kesepian atau kurang mendapat perhatian.
Anak yang mengajak bonekanya mengobrol tidak serta-merta menunjukkan adanya masalah. Permainan semacam ini bisa menjadi bagian dari cara anak menciptakan cerita dan mengeksplorasi berbagai situasi.
Orang tua bisa mengamati permainan anak dan sesekali ikut terlibat, misalnya dengan bertanya tentang cerita yang sedang dibuatnya. Dari situ, orang tua bisa mengetahui bagaimana anak membayangkan karakter dan mengembangkan alur permainannya.
Boneka yang diajak bicara memang tidak bisa menjawab. Namun, melalui percakapan yang diciptakannya sendiri, anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan imajinasi serta mengeksplorasi pikiran dan perasaan dalam permainannya.
(anm/asr)
