Bahaya Paparan Karbon Monoksida, Rusak Fungsi Organ Vital

CNN Indonesia
Senin, 19 Okt 2026 09:45 WIB
Paparan karbon monoksida (CO) dapat menghambat pasokan oksigen ke organ vital, terutama otak dan jantung, hingga memicu kerusakan yang fatal.
Ilustrasi. Paparan karbon monoksida (CO) dapat menghambat pasokan oksigen ke organ vital, terutama otak dan jantung, hingga memicu kerusakan yang fatal. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Baru beberapa hari lalu, jagad maya diramaikan oleh peta satelit NASA yang memperlihatkan sebaran karbon monoksida (CO) dengan konsentrasi tinggi di atas wilayah Indonesia.

Karbon monoksida (CO) sendiri merupakan gas beracun yang berbahaya. Paparan CO dapat menghambat pasokan oksigen ke organ-organ vital, terutama otak dan jantung. Dalam beberapa kasus, paparan CO bisa memicu kerusakan organ hingga berujung kematian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalahnya, gas CO tidak berwarna dan berbau. Akibatnya, keberadaan gas CO sulit diketahui tanpa alat pendeteksi, seperti yang ditemukan NASA.

Menukil buku WHO Guidelines for Indoor Air Quality: Selected Pollutants, gas CO yang tak sengaja terhirup akan masuk ke paru-paru.

Dari sana, gas CO akan menurunkan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen serta menghambat pelepasan oksigen ke jaringan. Padahal, beberapa organ vital, seperti otak dan jantung, membutuhkan oksigen untuk berfungsi maksimal. Di sini lah bahaya paparan karbon monoksida muncul.

Fungsi otak perlahan mengalami penurunan. Mulanya, hanya diawali penurunan energi. Tapi, jika kekurangan oksigen berlangsung parah, sel-sel saraf dapat mengalami kerusakan hingga memicu kehilangan kesadaran hingga kematian dalam kasus yang fatal.

Hal yang sama juga terjadi pada jantung. Gas CO dapat mengganggu fungsi sel dan otot jantung secara langsung. Orang dengan riwayat jantung lebih rentan terhadap bahaya paparan gas CO.

Dalam kasus yang fatal, kondisi ini bisa memicu terjadinya serangan jantung atau henti jantung.

Gejala keracunan karbon monoksida

Gejala keracunan karbon monoksida sendiri tergantung pada konsentrasi CO di udara, lamanya paparan, dan riwayat medis orang yang terpapar.

Menukil laman Center for Disease and Prevention Control (CDC), setidaknya ada beberapa gejala awal yang perlu diwaspadai. Berikut di antaranya:

- sakit kepala,
- pusing dan lemas,
- mual atau muntah,
- rasa lelah yang tidak biasa,
- sulit berkonsentrasi.

Sementara pada gejala yang lebih serius, paparan gas CO bisa menimbulkan berikut:

- sesak napas,
- nyeri dada atau jantung berdebar,
- kebingungan,
- gangguan penglihatan,
- kehilangan kesadaran.

Segera minta pertolongan medis jika mengalami beberapa gejala di atas.

(asr)