Hampir semua orang mandi. Tujuannya sederhana, agar tubuh tetap segar, bersih, dan tidak bau.
Tapi, sebagian anak muda di media sosial justru melakukan hal sebaliknya: sengaja tidak mandi demi menarik perhatian calon pasangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip New York Post, tren yang dikenal sebagai pheromone-maxxing ini ramai dibicarakan di TikTok. Para pengikutnya percaya, aroma alami tubuh, termasuk bau keringat, bisa membuat laki-laki lebih menarik di mata perempuan.
Karena itu, mereka mengurangi kebiasaan menjaga kebersihan tubuh, mulai dari melewatkan mandi hingga tidak menggunakan deodoran dan parfum. Bahkan, beberapa orang melakukan hal ekstrem, seperti mengenakan baju yang belum dicuci atau meminum urine sendiri dengan alasan ingin mengeluarkan racun dari tubuh.
Apa itu pheromone-maxxing?
Pheromone-maxxing merupakan tren media sosial yang berangkat dari anggapan bahwa aroma alami tubuh laki-laki dapat meningkatkan daya tarik seksual. Pengikutnya percaya bahwa semakin kuat aroma alami tubuh, semakin besar pula peluang mereka menarik perhatian perempuan.
Tren ini berkaitan dengan komunitas looksmaxxing, yaitu gerakan di media sosial yang mendorong berbagai cara untuk memaksimalkan penampilan fisik agar terlihat lebih menarik. Cara yang dilakukan beragam, mulai dari merawat penampilan hingga metode ekstrem yang berisiko bagi kesehatan.
Sebaliknya, dalam pheromone-maxxing, fokusnya bukan lagi pada penampilan fisik, melainkan aroma tubuh.
Meski sempat ramai diperbincangkan, tren ini tidak berarti diikuti oleh mayoritas gen Z. Sejumlah pengguna media sosial bahkan mengakui bahwa konten semacam ini dibuat untuk memancing perhatian dan meningkatkan interaksi, bukan sebagai saran gaya hidup yang benar-benar perlu diikuti.
Benarkah aroma tubuh bisa menarik pasangan?
Di balik tren tersebut, ada satu istilah yang menjadi dasar keyakinan para pengikutnya, yakni feromon.
Feromon merupakan senyawa kimia yang dilepaskan suatu organisme dan dapat memengaruhi respons atau perilaku organisme lain dari spesies yang sama. Peran feromon telah banyak dipelajari pada hewan dan serangga.
Pada manusia, aroma tubuh juga diketahui dapat memengaruhi respons orang lain. Bau tubuh dan sekresi manusia berpotensi memengaruhi respons fisiologis maupun psikologis.
Salah satu senyawa yang pernah diteliti adalah androstadienone, yang ditemukan dalam keringat laki-laki. Senyawa ini diduga berpotensi memengaruhi respons seseorang terhadap orang lain.
Jadi, aroma tubuh mungkin berperan dalam cara seseorang merespons orang lain. Namun, hal itu tidak berarti bau badan yang sengaja dibiarkan tanpa mandi atau deodoran otomatis membuat seseorang lebih menarik.
Salah satu penelitian yang kerap dibahas dalam studi tentang aroma tubuh dan ketertarikan adalah eksperimen yang dikenal sebagai 'sweaty T-shirt study' pada 1995.
Dalam penelitian tersebut, sejumlah laki-laki diminta mengenakan kaus yang sama selama dua malam berturut-turut. Setelah itu, partisipan perempuan diminta mencium dan menilai aroma dari enam kaus yang telah digunakan.
Hasilnya, perempuan cenderung menilai aroma tubuh laki-laki dengan gen major histocompatibility complex (MHC) yang berbeda dari gen mereka sendiri sebagai lebih menyenangkan. MHC merupakan kelompok gen yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.
Temuan ini pun memunculkan dugaan bahwa perbedaan gen tertentu mungkin berkaitan dengan preferensi manusia terhadap aroma tubuh calon pasangan.
(anm/asr)
