Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah dalam jumlah yang mengkhawatirkan, terutama pada balita.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, per 12 Oktober 2026, terdapat 277.075 kasus ISPA di 7 provinsi terdampak. Dari jumlah tersebut, balita usia 0-5 tahun yang terdampak mencapai 62.400 kasus atau 22,5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, data tersebut akan terus dipantau untuk mendeteksi peningkatan kasus dan memperkuat respons kesehatan.
"Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok rentan," kata Aji di Jakarta, Rabu (14/10), dilansir Antara.
Ia melanjutkan, jika anak mengalami sejumlah gejala, seperti sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Jangan lakukan penggunaan nebulizer secara mandiri, karena harus sesuai indikasi dan petunjuk dari tenaga medis.
Aji mengatakan, masyarakat perlu menjaga rutinitas dan aktivitas anak di dalam ruangan karena udaranya lebih bersih. Selain itu, perhatikan pula perubahan perilaku, gangguan tidur, hingga pola makan.
"Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis/kesehatan, jangan tunggu memburuk," kata Aji.
Bagi masyarakat pada umumnya, Aji menganjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Kalaupun harus keluar, sebaiknya menggunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat agar bisa menyaring partikel halus.
Jika tak ada kedua jenis masker tersebut, gunakan masker medis atau masker kain secara berlapis agar lebih efektif menyaring udara.
Namun khusus untuk bayi dan balita, sebaiknya tetap dilindungi dengan mengurangi paparan asap, jangan sekadar mengandalkan masker.
Upaya Kemenkes tangani dampak karhutla
Berdasarkan unggahan Kemenkes RI di akun resmi Instagram @kemenkes_ri, disebutkan perlindungan terhadap karhutla diutamakan untuk kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma/PPOK, serta pekerja luar ruangan.
Adapun Kemenkes sudah mengerahkan 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan, serta mendistribusukan jutaan logistik medis ke wilayah terdampak karhutla.
Berikut ini daftar distribusi perlengkapan medis dan obat-obatan yang sudah dilakukan Kemenkes:
- 2.892.040 masker.
- 280 unit oxygen concentrator (OC).
- 100 buah face shield.
- 36 tabung oxycan.
- 41 ribu pasang sarung tangan medis.
- 9 buah air purifier.
- 4.908 APD.
- 350 dus PMT (pemberian makanan tambahan).
- Obat-obatan dan vitamin.
Sebanyak 1.691 puskesmas dan 36 RS rujukan sudah disiagakan untuk menangani berbagai dampak kesehatan akibat karhutla. Selain itu, tersedia pula pos kesehatan, ruang oksigen, dan program "Oase Udara" di beberapa wilayah Kalimantan untuk menjamin pasokan oksigen.
(rti)
